Konten Media Partner

Menabuh Kendang demi Pengakuan Dunia

BandungKiwari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana 'Padungdung to Unesco' (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana 'Padungdung to Unesco' (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - Tabuhan kendang meletup-letup pada langit Bandung yang beku, menyulap malam di area Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat menjadi hangat Sabtu (23/11). Komposisi musik yang bertumpu pada tabuhan kendang Sunda mengajak ratusan orang yang memenuhi tempat duduk melempar imajinasi mereka pada negeri yang tak tercatat dalam peta.

Suara musik yang terus menggelitik, tidak lepas dari perayaan ulang tahun kali ke dua komunitas Kendangers Bandung. Kali ini selain peringatan hari kelahiran, komunitas ini menggelar pertunjukkan musik dengan tema 'Padungdung to Unesco'.

'Padungdung to Unesco' tidak lepas dari kecintaan para pemusik Kendangers pada alat musik tradisi Sunda untuk lebih diakui dunia sebagai warisan budaya Indonesia. "Acara ini merupakan titik awal untuk pengakuan Kendang Sunda sebagai warisan budaya Indonesia asal Jabar ke UNESCO," ucap Ipo Cepe ketua pelaksana.

Untuk pengakuan dalam negeri sendiri menurut Ipo, pelaku seni dari luar Jabar sudah mengetahui bahkan menggunakan Kendang Sunda dalam setiap pementasan musik. Hal tersebut tidak lepas karena Kendang Sunda bisa masuk dalam beragam komposisi musik.

Apalagi saat ini menurut Riki Buroq ketua komunitas Kendangers Bandung, peminat Kendang Sunda, bukan hanya masyarakat dalam negeri. Di beberapa negara Asia dan Eropa, Kendang Sunda sudah lama dikenal karena dibawa seniman dari Indonesia, terutama dari Bandung. "Di China, Amerika atau di Australia animo mereka sangat tinggi untuk mempelajari Kendang Sunda. Apalagi beberapa teman kita yang mengajar dan hidup di sana membuat cabang atau chapter Kendangers juga" ucap Riki.

Pada masa yang datang, Riki berharap terjadinya ruang silaturahmi para Kendangers yang bukan hanya berada di Indonesia saja, melainkan juga mereka yang ada di luar negeri. Sehingga Kendang Sunda lebih mendunia dan mampu menjadi warisan budaya Indonesia.

Acara yang melibatkan 300 Kendangers dari 13 kota dan kabupaten ini, bukan hanya didominasi para Kendangers profesional. Sejumlah anak kecil pun terlibat memperlihatkan kepiawaian mereka menabuhnya. Tidak tertinggal pula para Kendangers perempuan yang secara tepukan pada kendang tidak kalah dengan kaum lelaki.

Selain menampilkan pementasan Kendangers dari beberapa daerah yang ikut terlibat. Acara ini pun menampilkan kolaborasi pemusik kawakan Indonesia; Gilang Ramadhan bersama Idea Percussion. Dalam sambutannya, Gilang yang punya ketertarikan luar biasa pada Kendang Sunda, memberi catatan khusus kepada para Kendangers yang hadir.

Kegiatan seperti ini menurut Gilang harus hadir di semua kabupaten Jabar. Bahkan menurutnya Gubernur harus mendukung karena Kendang merupakan ikon Jabar. Selain itu Gilang berharap pembuatan kendang menjadi semi factory karena dengan banyaknya pembuat kendang akan mengenalkan Jabar ke luar negeri.

"Yang jelas Kendang harus memiliki tagline untuk dikenalkan ke dunia, apakah itu nama ketukan atau apapun. Itu menjadi PR untuk kita semua," ucapnya sebelum tampil dalam acara Padungdung to Unesco.

Senada dengan itu Ade Rudiana musisi kawakan Indonesia pada saat keterangan media beberapa waktu lalu menyatakan perlu adanya satu beat yang bisa menjelaskan irama asli Indonesia. "Negara lain memiliki, reggae, bosas, Samba. Saya harap dengan adanya kegiatan ini kita mampu menemukan satu yang menjadi world beat," katanya.

Acara yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut memang menjadi dasar keberangkatan para Kendangers untuk memancuhkan Kendang Sunda sebagai warisan budaya dunia dari Indonesia; khususnya Jawa Barat.

Namun tentunya keinginan tersebut bukan hanya milik dan kerja keras para Kendangers semata. Semua lapisan masyarakat termasuk pemerintah wajib mendukung hal ini agar warisan leluhur ini pun menjadi lebih mendunia dan diakui masyarakat non Indonesia.

Suara tepukan kendang memang telah usai. Para Kendangers telah memasukkan kendang ke dalam tasnya. Namun semangat untuk menuju level dunia tidak pernah usai. Para Kendangers pun berjanji pada 2020 mendatang mereka siap menghentak dunia dengan garapan yang lebih panas. (Agus Bebeng)