kumparan
5 Desember 2019 7:09

Merawat Pantomim untuk Semua

051219-Mixi1_Beb.jpg
Aksi para seniman pantomim pada Mixi Mime Festival 2019 di Bandung, Senin (2/12) malam. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)
BANDUNG, bandungkiwari - Tawa, kesedihan dan perenungan bertumpang tindih pada keremangan malam yang dingin membekukan area kantung kesenian Celah Celah Langit Bandung. Manusia-manusia tanpa kata hadir meruang Senin (2/12) malam dalam perhelatan 'Mixi Mime Festival 2019'.
ADVERTISEMENT
Sebuah mini festival yang digagas para pelaku dan pecinta seni Pantomim itu mengangkat tajuk 'Daya Sukma: Pantomim Untuk Semua'. Festival Pantomim yang sederhana tersebut merupakan hajatan dari kelompok Mixi Imajimimetheatre Indonesia yang merayakan 12 tahun mereka mewarnai kancah Pantomim Indonesia sejak 11 November 2007.
051219-Mixi2_Beb.jpg
Tidak ada keriuhan yang mewarnai ulang tahun mereka selama 2 hari itu. Sejatinya mereka mampu menghadirkan para pelaku dan pecinta seni Pantomim dari luar area mereka selama ini. Namun meski sederhana dan hanya dihadiri lingkungan mereka sendiri, energi 12 tahun melarung dalam seni tanpa kata ini patut diapresiasi.
Kehangatan persaudaraan yang dihadiri para seniman muda ini menjadi tungku yang terus menyalakan semangat perjuangan dan perlawanan Pantomim dalam wacana seni di Bandung, pun Indonesia.
051219-Mixi3_Beb.jpg
Dalam kesederhanaan itu mereka mampu membuat pameran, pementasan, pemutaran film, workshop dan diskusi yang melibatkan beberapa orang terkenal dalam kancah Pantomim.
ADVERTISEMENT
Tercatat nama seperti; Nur Iswantara pemerhati dan penulis buku Pantomim, Gendis A. Utoyo, Dede Dablo, Mumu Zainal Muttaqin, Sopiyah Opoy & Friend's, Wanggi Hoed, Asytar, Rhamanda Yudha Pratomo, Bib Sokonggo terlibat dalam percakapan dan praktik menghidupkan Pantomim.
051219-Mixi4_Beb.jpg
"Mixi Mime Festival 2019 sebuah festival pertemuan dan silaturahmi karya para pantomimer khususnya di Bandung dan umumnya di Indonesia," ucap Wanggi Hoed pelaksana acara tersebut. Tema Daya Sukma – ‘Pantomim Untuk Semua’ menurut Wanggi merupakan gagasan dari perjalanan Mixi Imajimimetheatre menjelajahi 12 tahun perjalanan kekaryaan mereka.
"Daya Sukma sendiri bagian dari manifestasi sunyi, yang artinya pergerakan atau aktivitas dari kehidupan yang berdaya (energi), yang didalamnya hadir sukma (jiwa) sebagai nyawa yang terus hidup bagi semua manusia," tegasnya pada acara bedah Buku Pantomim bersama Nur Iswantara, penulis buku 'Wajah Pantomim Indonesia dan Metode Pembelajaran Pantomim Indonesia'.
051219-Mixi5_Beb.jpg
Nur Iswantara, dalam kesempatan bedah buku, mengurai dua buku yang diterbitkannya dalam berbagai aspek kajian. Dirinya mengenalkan pelaku, konsep dan metodologi pembelajaran Pantomim kepada para peserta diskusi.
ADVERTISEMENT
Selain membahas tentang buku Pantomim, disinggung pula pengaruh dan perkembangan Pantomim di Indonesia.
"Dalam perkembangannya kita bisa melihat, apakah para aktor itu pure mengadopsi akan memiliki warna atau dirinya sudah mengolah," ucap Nur.
Berbeda halnya dengan Jemek Supardi. Menurut Nur, Jemek itu untuk mengutarakan dirinya sendiri susah, pada titik itu lingkungan terutama teman-temannya yang harus memahami. Namun pada titik itulah kekaryaan Jemek sangat murni.
051219-Mixi6_Beb.jpg
Pada sisi lain dirinya pun menyinggung tentang tidak adanya aktor pantomim perempuan yang konsisten menekuni dunia simbolik ini. Nur Iswantara berharap Gendis A. Utoyo mampu melakukan itu, sehingga akan hadir Pantomim perempuan di Indonesia.
Sementara itu menurut Gendis, kelompok Sena Didi Mime yang didirikan pada kurun waktu 1987 oleh Sena A. Utoyo dan Didi Petet memang memiliki pengaruh dari luar, terutama dari tokoh Pantomim dunia yakni; Milan Sladek.
ADVERTISEMENT
"Bapak (Sena A. Utoyo) pernah belajar di Jerman, tetapi perkayuan, bukan seni. Namun karena minatnya pada Seni, sekolahnya tidak dilanjutkan. Malah akhirnya memiliki kedekatan dengan profesor Milan Sladek. Disitulah Milan memberikan influence kepada bapak dan om Didi (Petet)," ujarnya.
Terlepas dari bahasan diskusi, acara 'Mixi Mime Festival 2019' memang menarik untuk diperbincangkan, terutama ketika membahas Pantomim Indonesia yang punya warna dan karakter sendiri.
051219-Mixi7_Beb.jpg
Pegiat seni dan aktor teater Iman Soleh, menjelaskan bagaimana pentingnya Pantomim Indonesia memiliki 'wajah' yang berbeda dengan Pantomim lain.
Terutama jika menyikapi khasanah kekayaan nusantara yang punya beragam budaya yang mampu digali lebih dalam dengan pendekatan Pantomim. "Ketika seniman Pantomim pergi ke luar negeri dan tampil akan memberikan wacana yang berbeda," ucap Iman.
ADVERTISEMENT
Acara 'Mixi Mime Festival 2019', memang telah usai. Namun percakapan tanpa kesimpulan dalam proses ziarah tubuh para aktor Pantomim memberikan pekerjaan rumah yang besar. Mengutip kalimat Nur Iswantara, bagaimana upaya kedepan agar Pantomim mampu menjadi virus yang mampu membangun karakter bangsa. Wacana pendidikan menjadi hal menarik membangun peradaban Pantomim bukan hanya hadir sekedar estetik.
Ribuan kalimat, pernyataan dan pertanyaan yang berkeliaran reda ketika Senin (2/12) malam para aktor mulai menembakkan pesan kemanusiaan dengan gerak. Tubuh-tubuh naratif itu mengungkap sisi terdalam fragmen kehidupan. Kata memang mati malam itu, tetapi imajinasi tumbuh liar seperti ilalang di kota-kota yang gersang.
Repertoar para pantomimer malam itu menjelaskan kalimat yang pernah diucapkan Sena A. Utoyo: 'Bergerak melalui rasa dan pikiran tanpa hambatan batin' (Agus Bebeng)
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan