Konten Media Partner

“Ngobat” Sehat Bersama Budi Dalton

BandungKiwari

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
“Ngobat” Sehat Bersama Budi Dalton
zoom-in-whitePerbesar

Budi Dalton menjadi pembawa acara pada acara talkshow "Ngobat" yang mengangkat beragam profesi masyarakat urban. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari - “Satu hari tanpa tertawa adalah hari yang terbuang sia-sia.” Pernyataan tersebut dilontarkan Charlie Chaplin yang sepanjang hidupnya memberikan kebahagiaan kepada umat manusia di dunia.

Chaplin yang sering membuat orang tertawa, sebenarnya telah berbakti dalam hidupnya untuk menyehatkan seantero manusia di dunia. Bagaimanapun manfaat tertawa sangat penting untuk manusia yang terjebak dengan rutinitas kerja atau deraan informasi yang mengglobal di dunia maya. Terutama jika kita memahami bahwa tertawa mampu mengurangi hormon stres, meningkatkan fungsi jantung atau memicu pelepasan endorfin yang merupakan obat penghilang rasa sakit alami.

Tertawa memang mahal untuk saat ini. Apalagi bagi mereka yang memperjuangkan atau memertahankan Presiden pada 2019 mendatang, dijamin asupan oksigen ke paru-paru agak terganggu karena serangan informasi. Namun tidak jika anda hadir pada Senin (27/8/2018) malam lalu di Café Nation Panas Dalam pada acara “Ngobat” alias “Ngobrolkeun Batur” atau dalam bahasa Indonesia “Membicarakan orang lain”.

Acara yang dipandu artis layar sentuh; demikian Budi Dalton menyebut dirinya, memang acara yang dikemas secara ringan mengupas sosio kultural masyarakat. Canda tawa dan sindiran kerap menjadi bumbu yang menggiring acara talkshow tersebut. Jelas tidak ada wacana yang melontarkan teori dengan bahasa pelik yang membuat garis ketuaan di kening terlihat.

Semua serba ringan tanpa filter atau sensor yang memotong apa pun. Namun meski demikian acara tersebut tetap berjalan pada koridor yang ditentukan, yakni mengangkat profesi seseorang kepada khalayak luas melalui siaran langsung Youtube.

Budi Dalton yang merupakan budayawan, bintang film komedi, dan pernah menjabat El Presidente Bikers Brotherhood MC klub ini, menyatakan acara yang digarapnya merupakan program untuk mengangkat profesi seseorang yang unik dan tidak pernah terungkap media mainstream.

Seperti malam itu tayangan “Ngobat”, mengupas tentang profesi seniman Longser yang diwakili oleh Wawan Kudrat dan Ceu Popon. Dalton, bersama narasumber menjelaskan seluk beluk dunia Seni Longser yang merupakan teater tradisi di tanah Sunda dengan kekhasan komedi yang terkandung di dalamnya.

“Ngobat” Sehat Bersama Budi Dalton (1)
zoom-in-whitePerbesar

Budi Dalton (tengah) menjadi pembawa acara pada acara talkshow "Ngobat" yang mengangkat beragam profesi masyarakat urban. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

“Ngobat merupakan program untuk mengangkat profesi yang nyeleneh, seperti penjaga mayat, guru senam Zumba, tukang potong rambut, petugas damkar dan sekarang membahas Longser,” tegas lelaki bodor yang sebenarnya berprofesi sebagai dosen musik di salah satu universitas swasta di Bandung.

Kehadiran Ngobat sendiri selain untuk mengangkat profesi dan menghadirkan penghargaan khalayak kepada pemilik profesi tersebut, tiada lain sebagai media alternatif untuk menginformasikan pesan sosial pada masyarakat Bandung. Terutama ketika melihat kecendrungan beragam media alternatif berbasis internet yang dapat menjangkau audiens dalam segmentasi beragam.

Melawan hegemoni media mainstream untuk membangun kesadaran publik terhadap isu sosial budaya masyarakat urban Bandung, merupakan sasaran bidik yang ingin dicapai Dalton bersama para punggawa Ngobat lainnya.

Hal lain yang menarik dari program Ngobat sendiri para tim kerja umumnya merupakan para pemusik yang tidak memiliki basis jurnalistik atau pemahaman broadcasting. Secara naluriah dan tempaan waktu yang berjalan membuat para tim tersebut memiliki keahlian tersendiri pada dunia komunikasi.

“Saya hanya memanfaatkan media sosial yang ternyata audiensnya cukup banyak. 2000 orang yang nonton,” tegas Dalton.

Pernyataan Dalton tentu bukan nyanyian politikus. Hasil penelitian tim gawe sangkuriang Ngobat, sampai April lalu tercatat follower sebanyak 2.068 dalam penayangannya. Like page mencapai 1.705 dengan batasan usia penonton dari usia 17 sampai 55 tahun.

Data yang diangkat tersebut tentu bukan hasil hitung bintang di langit atau hasil ramalan para Tarot Reader dengan pola 3 kartunya, tetapi merupakan pencatatan simultan dari beberapa kali tayangan yang pernah dilakukan Ngobat.

“Ngobat” Sehat Bersama Budi Dalton (2)
zoom-in-whitePerbesar

Budi Dalton (kiri) ditemani Wawan Kudrat (tengah) dan Ceu Popon (kanan) pada acara talkshow "Ngobat" yang mengangkat profesi seniman Longser. (Foto: Agus Bebeng/Bandungkiwari)

Terlepas dari hal tersebut Nugraha Sugiarta seorang dosen jurusan komunikasi yang sedari duduk tidak lepas tertawa, sangat mengapresiasi acara Ngobat sebagai bentuk Media Baru (New Media) dalam koridor komunikasi.

Secara sederhana dosen muda ini menjelaskan media baru merupakan media yang terbentuk dari interaksi antara manusia dengan komputer dan internet secara khusus. Ngobat menggunakan Youtube sebagai jarum injeksi pesan begitu sangat mudah dicerna, cepat dan dapat diakses di mana pun.

“Kelelahan kita sebagai manusia yang harus selalu bersolek dan bercitra dalam tampilan media-media konvensional telah menemui titik jenuh,” ungkapnya.

Nugraha Sugiarta yang kerap dipangggil Nunu ini menjelaskan budaya media baru menawarkan khalayak untuk secara bersama-sama mengambil peran sebagai konsumen media dan produsen media sekaligus. Selain itu menurutnya pesan yang disampaikan dengan pola penyampaian Dalton dalam Ngobat yang sederhana dan santai itu mampu menembus batasan pemikiran banyak orang.

“Nonton Ngobat biar waras, karena kewarasan membuatmu jujur dan menjadi manusia,” ucapnya terpotong karena menyimak Dindin seniman Longser yang melucu di hadapannya.

Menyimak Ngobat yang menceritakan profesi masyarakat urban yang penuh dedikasi tetapi dari keriuhan, dan kadang penuh satire jadi teringat kembali pernyataan Charlie Chaplin

“Hidup itu tragedi waktu kamu melihatnya dari jarak dekat, tapi sebuah komedi saat kamu melihatnya dari jarak jauh.” (Agus Bebeng)