Perjuangan Melawan Stigma terhadap Penderita Kusta

BANDUNG, bandungkiwari - Ada banyak stigma seputar kusta di kalangan masyarakat. Ada yang beranggapan kusta merupakan aib, bahkan kutukan. Dan, oleh karena sifat kusta yang menular, pengidapnya kerap dikucilkan dari lingkungan sosial.
Inilah yang menjadi tantangan bagi Abdul Mujid. Ketua Forum Komunikasi Disabilitas Cirebon ini mendedikasikan dirinya untuk menjadi pendamping bagi mereka yang terpapar kusta di Kabupaten Cirebon. Kegiatan ini ia mulai sejak tahun 2011.
Menurutnya, permasalahan yang dialami oleh para penderita kusta sama dengan penyandang disabilitas, bahkan lebih parah. Ia pertama kali mengenal orang-orang yang terpapar kusta melalui kegiatan Stigma Assessment and Reduction of Impact (SARI) Project, yakni sebuah proyek penelitian mengenai isu-isu kusta yang diadakan oleh Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI, Disability Studies in the Netherlands (DSiN), dan VU University.
Meski begitu, Mujid sempat mengalami ketakutan dan malah pernah berniat untuk mundur ketika memulai berinteraksi dengan orang-orang yang terpapar kusta. Terlebih, ketika pertama kali memberikan pendampingan, orang tersebut sudah mengalami impairment (kerusakan) pada bagian tubuhnya.
Bahkan, keluarganya juga menyarankan Mujid untuk mencari pekerjaan lain. Namun, keinginannya untuk belajar dan mengenal orang-orang yang terpapar kusta mendorongnya untuk terus melanjutkan pendampingan terhadap pasien kusta.
Konseling pun menjadi pilihan Mujid dalam melakukan pendampingan. Ia menekankan mengenai penerimaan diri terhadap orang-orang yang didampinginya. Selain itu, mereka juga harus mempublikasikan keadaan tersebut ke lingkungannya.
"Saya menekankan bagaimana teman-teman disabilitas maupun orang-orang yang pernah mengalami kusta ini menerima dirinya, diri fisik mereka. Harus mengenal dan harus menerima. Mereka juga harus mempublikasikan, minimal ke keluarga, ke lingkungan," tutur Mujid di Bandung, Sabtu (6/7).
Perjalanan awal Mujid memulai pendampingan pun tak terlepas dari tantangan. Beberapa kali, orang yang didampinginya justru kabur saat kunjungan kedua. Berbagai cara pun dicoba oleh Mujid dan tim untuk melanjutkan pendampingan.
Kerja kerasnya pun membuahkan hasil yang positif. Keberhasilan orang-orang yang didampingi oleh Mujid telah diakui, baik itu dalam kemandirian hidup atau pun secara ekonomi. Bahkan, Mujid pernah mendapatkan proyek untuk menjembatani agar orang-orang yang didampinginya bisa belajar di organisasi lokal.
Kepuasan pun muncul dari diri Mujid ketika orang-orang yang didampinginya bisa diterima di tengah masyarakat. Padahal, ia tahu persis, sebelumnya mereka diasingkan dari lingkungannya. "Saya punya kepuasan tersendiri, kepuasan tersebut enggak bisa dibeli," ujar Mujid.
Dulunya, Kabupaten Cirebon merupakan daerah endemis kusta. Namun, kini angka prevalensinya sudah mengecil. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penderita kusta tertinggi kedua di Indonesia.
Meski begitu, angka prevalensi di Jawa Barat sudah membaik. Hal ini disebutkan oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Uus Sukmara.
“Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi kedua terbesar dalam jumlah, tapi dalam angka pravelensi kita sudah di bawah,” ujarnya.
Ia pun menambahkan, jumlah penderita penyakit di suatu daerah dengan daerah lainnya tidak bisa dibandingkan. Tingginya kasus penyakit di suatu daerah dihitung berdasarkan perbandingan antara kasus dengan populasi. Hal inilah yang disebut dengan prevalensi.
“Kusta ini bermasalah, tapi tidak di seluruh Jawa Barat. Ada daerah-daerah yang berisiko tinggi. Di sini ada tiga, yaitu Karawang, Subang, dan Indramayu. Penentuan daerah itu juga berkaitan dengan prevalensi,” katanya.
(Assyifa)
