kumparan
17 Feb 2019 17:00 WIB

Sate Jando Gedung Sate, Digemari Pejabat, Pembeli Antre Berjam-jam

Sate jando di Jalan Cimandiri, Bandung. (Nida Yasmin)
BANDUNG, bandungkiwari - Di kawasan Gedung Sate, tepatnya Jalan Cimandiri, terdapat kuliner lezat yang sudah banyak penggemarnya. Sate jando namanya. Bagi penggemar kuliner Bandung, bisa dipastikan sudah akrab mendengar penjual sate yang berlokasi di belakang Gedung Sate ini.
ADVERTISEMENT
Tapi jangan bayangkan sate jando tersebut disajikan restoran mewah. Tukang sate jando mangkal di trotoar Jalan Cimandiri. Namun posisi tempat tersebut bukan persoalan. Karena kuliner soal rasa.
Rasa sate jando bakar yang lezat itu membuat pejabat maupun kalangan PNS banyak yang menggemarinya, salah satunya Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Bahkan saat Kang Emil, sapaan Ridwan Kamil, beli sate, dia turun langsung ikut membakar. Popularitas sate jando pun makin meningkat.
Sate jando di Jalan Cimandiri, Bandung. (Nida Yasmin)
Setiap pagi, Selasa sampai Sabtu, di trotoar tempat sate jando biasa mangkal selalu penuh dengan pembeli. Mereka sampai antre berjam-jam demi bisa menikmati kuliner bakar berlemak tersebut. Asap pembakaran sate mengepul melintasi jalan, membangkitkan selera makan.
Lalu apa yang spesial dari sate jando ini? Menurut pemiliknya, Agung Suganda, sate ini memiliki keunggulan pada jando sapi yang dibakar dan bumbunya.
ADVERTISEMENT
“Bumbunya kita ga pakai pengawet, jadi kita pakai bahan bahan alami dan bisa bertahan kurang lebih 2 bulan. Selain itu yang paling terkenalnya ya sate jandonya,” ujar Agung Suganda, saat ditemui Bandungkiwari, baru-baru ini.
Soal harga, sate yang kadang disebut sate jando Gedung Sate itu per porsinya Rp24.000 yang terdiri dari 10 tusuk sate jando dan poptongan lontong. Pembeli juga bisa membeli setengah porsi yang harganya Rp15.000.
Setiap harinya, sate ini selalu ludes dalam tempo sesingkat-singkatnya. Agung Suganda menyebutkan, dalam sehari dirinya bisa menghabiskan kurang lebih 40 kilogram sate dengan omzet jutaan.
Sate jando di Jalan Cimandiri, Bandung. (Nida Yasmin)
Agung menuturkan, dirinya meneruskan jualan sate jando dari orang tuanya. Orang tua Agung sudah menjual sate jando sejak 60-an, yang awalnya keliling dari gang ke gang. Pada perkembangan berikutnya, sate jando sempat masuk ke kantin Gasibu. Di kantin ini, asap sate mengepul kurang lebih selama 20 tahun.
ADVERTISEMENT
Namun kemudian diputuskan mereka pindah jualan ke trotoar Jalan Cimandiri sejak 2000-an. Kepindahan itu sempat menuai pro dan kontra mengingat lokasi yang mereka tempati bukan untuk perdagangan PKL.
Tetapi saking banyaknya penggemar termasuk pejabat yang bikin regulasi, hingga kini sate jando bisa bertahan jualan di atas trotoar. Ya, siapa yang berani menolak kuliner sedap ini? (Nida Yasmin)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan