3 Pejuang Banjar yang Tewas Akibat Penggal Kepala ala Ngayau

Ngayau dikenal sebagai tradisi penggal kepala atau potong leher dari Suku Dayak. Budaya penggal kepala semacam ini sudah lenyap seiring perkembangan zaman. Di era kolonial, Belanda pernah melakukan aksi penggal kepala terhadap beberapa pejuang Perang Banjar asal Kesultanan Banjar pada 1859 - 1905.
Sejarawan asal Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur, mengatakan sedikitnya ada tiga nama pejuang Perang Banjar yang tewas akibat dipenggal kepalanya oleh pasukan Belanda. Menurut dia, aksi penggal kepala ini mirip tradisi Suku Dayak yang mendiami Pulau Kalimantan.
"Ada tiga tokoh pejuang Banjar yang tercatat dalam sejarah lisan masyarakat sekitar teritorial Kesultanan Banjar yang mengalami nasib dipenggal kepala, dengan iming-iming imbalan sejumlah materi dan kekuasaan oleh kolonial Belanda di era perang Banjar, yakni Demang Lehman, Penghulu Rasyid, dan Tumenggung Jalil," papar Mansyur kepada wartawan banjarhits.id -- official partner kumparan.com, Sabtu 29 Juni 2019.
Dari ketiga nama ini, kata dia, baru sosok kepala Demang Lehman yang sudah terdeteksi keberadaannya di sebuah museum di Kota Leiden, Belanda. Demang Lehman tewas setelah kepalanya dipenggal, lalu tengkoraknya dibawa ke Belanda. Adapun badannya dikubur di Tanah Banjar, namun belum ditemukan.
Menurut Mansyur, pemerintah Belanda menghargai kepala Demang Lehman 2.000 Gulden. Pahlawan kelahitan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah itu dipancung tanpa penutup mata.
Ihwal dua sosok pahlawan Banjar lain, Mansyur belum mendapat data akurat keberadaan tengkoraknya. Mengutip dari sejarah lisan, ia berkata kepala Penghulu Rasyid dibanderol Rp 1.000 Gulden. Sementara harga kepala Tumenggung Jalil belum diketahui detail.
Menurut dia, perlu kajian lanjutan untuk menelusuri letak kepala dua tokoh pejuang Banjar tersebut. Namun, kata Mansyur, kepala Penghulu Rasyid sempat dibawa oleh kolega seperguruan bernama Pembakal Busan yang berkhianat ke Belanda.
"Dan memotong leher Penghulu Rasyid, selepas wafat dalam keadaan sujud dan membawa kepalanya pada opsir Belanda dengan imbalan 1.000 Gulden," Mansyur melanjutkan.
Menilik dari peristiwa di atas, Mansyur menduga dua kepala Sang Syahidin Penghulu Rasyid dan Tumenggung Jalil juga ikut dibawa dan dipersembahkan kepada opsir Belanda sebagai penebus imbalan berupa materi. Duit ini diserahkan kepada sosok penghianat dari Kesultanan Banjar.
"Hal ini tidak serta merta menjadi bukti yang kuat, karena hanya sejarah lisan. Tetapi dulunya kebenaran identifikasi dari Demang Lehman juga berasal dari sejarah lisan, maka dari itu diperlukan penelusuran secara komprehensif dengan memperhatikan aspek aspek sejarah untuk mencari letak dimana kedua kepala Sang Syahidin tersebut disimpan Belanda," kata Mansyur.
Adapun Ketua Yayasan Raja Banjar Hidayatullah, YM Pangeran Cevi Y Isnendar, menguatkan asumsi Mansyur atas penggal kepala terhadap tiga pahlawan Banjar. Menurut Cevi, museum di Leiden tidak cuma menyimpan tengkorak Demang Lehman, melainkan anatoni tubuh manusia lainnya. Sebagian fosil manusia zaman prasejarah.
"Informasi ketiga tokoh ini valid berdasarkan catatan sejarah. Keberadaan baru terdeteksi satu, yang dua belum dideteksi. Donald Tick baru mengecek Syahidin Demang Lehman ada. Tapi yang dua lagi belum ada kabar sehingga kami yang harus mengecek ke sana," ucap Pangeran Cevi.
Pencarian dua tengkorak mesti melibatkan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kalsel bersama ahli dan peneliti sejarah di Kalsel. "Kemungkinan Balitbangda Provinsi Kalsel, dan bagian kesejarahan dari berbagai lembaga di Kalimantan Selatan ini yang harus menelusurinya," tutupnya.
