Konten Media Partner

Psikolog: 93 Persen Bocah SD Pernah Mengakses Situs Pornografi

banjarhits

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Psikolog: 93 Persen Bocah SD Pernah Mengakses Situs Pornografi
zoom-in-whitePerbesar

banjarhits.ID, BANJARMASIN - Psikolog Anak Remaja, Ahmad Syarief, menilai sekitar 93 persen dari 80 anak sekolah dasar (SD) kelas 4-5 pernah mengakses situs pornografi. Ia menghimpun angka ini dalam sebuah survei di salah satu sekolah dasar yang tidak ingin disebut namanya.

Berkaca hasil survei, Syarief mengatakan bahwa tujuh dari 100 anak SD belum pernah mengakses pornografi dan sekitar 93 anak sudah pernah mengaksesnya. Menurut dia, awal mula bocah melihat pornografi akibat ketidaksengajaan di jagad maya.

Syarief mengakui tantangan di dunia digital sangat banyak. "Kalau dulu game hanya untuk rame-rame aja, tapi sekarang game disisipkan dengan adanya pornografi. Banyak sekali anak-anak bercerita bahwa game banyak sekali disisipkan dengan pornografi," ujar Ahmad Syarief kepada banjarhits.ID selepas roadshow #InternetBaik di Banjarmasin, Jumat (23/11).

Selain konten pornografi lewat game, ia melihat bioskop, youtube, video klip banyak sekali menyisipkan konten pornografi. Apalagi marak situs bekerjasama dengan iklan menyusupkan konten pornografi.

Baca Juga: Telkomsel Latih Guru dan Pelajar Tangkal Hoaks

"Sehingga marak berkembangnya dunia digital saat ini membuat semakin mudahnya pornografi menyebar bahkan hingga merambah ke anak-anak usia sekolah," ungkap Ahmad Syarief.

Ilustrasi anak yang mengalami adiksi pornografi (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak yang mengalami adiksi pornografi (Foto: Thinkstock)

Syarief melihat remaja adalah masa rawan karena seseorang penasaran dan ingin tahu pornografi. "Kalau tidak ada peran orang tua, maka kemungkinan anak tersebut akan terjerumus dan bisa kecanduan konten pornografi," tegasnya.

Syarief berkata orang tua dan sekolah mesti melek tenologi sebagai solusi mencegah anak terpapar konten porno dunia maya. Menurut dia, orang tua wajib bertanya tentang apa yang dimainkan oleh anak. Selain itu, pihak sekolah pun harus melek tentang dunia digital.

"Jangan sampai sekolahnya sudah canggih, tetapi ternyata tenaga pendidiknya belum siap," tegas Syarief.

Adapun Manager Corporate Social Responsibility Enviroment and Ecosystem, Jowvy Kumala, mengatakan pengawasan terhadap konten pornografi merupakan tugas dari legislator. Pada 2019, pihaknya berfokus pada penyebaran hoaks.

Sebab, menurutnya, program melawan hoaks dilaksanakan lantaran sejalan dengan program pemerintah. "Kalau terkait konten pornografi, kami sudah laksanakan dua tahun yang lalu," pungkasnya. (M Robby)