Konten Media Partner

Banyak Gelar Habib Palsu yang Dipakai Perdukunan di Banjarmasin

banjarhits

clock
google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
8
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Banyak Gelar Habib Palsu yang Dipakai Perdukunan di Banjarmasin
zoom-in-whitePerbesar

Banjarhits.id, Banjarmasin - Pamor umat muslim yang menyandang embel-embel ‘Habib’ biasanya lebih mentereng di mata masyarakat. Celakanya, pelabelan ‘Habib’ kerap disalahgunakan untuk kepentingan ekonomi, penipuan, dan menaikkan pamor.

Ketua Rabithah Alawiyin Kota Banjarmasin, Muhammad Al-Habsyi, mengatakan banyak menemukan kasus habib palsu di Kota Banjarmasin dan sekitarnya. "Banyak catatannya dengan kami. Rata-rata habib palsu berprofesi panambaan (praktisi penyembuhan alternatif) dan perdukunan," kata Al-Habsyi kepada banjarhits.id, Jumat (1/6).

Setelah diinterogasi, ia menemukan alasan seseorang memakai nama Habib karena ada garis keturunan dari keluarga Assegaf, Alaydrus, dan Azmatkhan. Menurut Al-Habsyi, habib palsu kerap bermodus meminta dan meminjam uang dari jemaah, tapi tidak dikembalikan.

"Ada habib palsu yang meminjam uang kas masjid, tapi akhirnya tidak pernah dibayar. Ada juga yang merampok uang kas masjid waktu akan disetorkan ke bank, pelakunya mengaku bernama Salim Alaydrus, tapi KTP-nya palsu," ujar Ayip—begitu ia disapa.

Pria yang menekuni usaha distributor parfum di wilayah Kalimantan Selatan itu menuturkan, kisruh habib palsu yang ditangani Rabithah Alawiyin mayoritas berujung damai, setelah pelaku membuat surat pernyataan di atas kertas bermaterai dan berjanji tidak mengulangi perbuatan.

Ayip sulit memperpanjang persoalan ke ranah hukum karena habib palsu berkelit tidak menyematkan label habib di hadapan jemaah. Pelaku, kata Ayip, sering berdalih yang memanggil habib justru orang lain.

"Bukan ulun tapi orang yang memadahkan (memanggil) habib, begitu jawabannya ketika kami datangi. Ia juga punya banyak anak buah polisi," ujar Ayip. Menurut dia, label habib adalah gelar sakral yang dinisbatkan kepada orang-orang keturunan Nabi Muhammad, yang sejak dulu mendapat tempat khusus dan dihormati di tengah masyarakat.

Karena keistimewaan itulah, segelintir warga di Banjarmasin nekat memanipulasi identitas diri dan mengakui sebagai habib (habib palsu) dengan motif tertentu demi tujuan mengeruk keuntungan pribadi.

Habib Ibrahim Alkaf mengatakan praktek semacam ini mesti diseret ke ranah hukum agar memberi efek jera kepada orang mencatut nama Habib demi meraih keuntungan pribadi. “Kalau cuma selembar surat pernyataan tidak ada artinya. Nanti pindah ke luar daerah, mengulangi perbuatannya," ujar Ibrahim Alkaf.

Adapun sesepuh habib di Kota Banjarmasin, Habib Muksin Ba'bud, mengungkapkan perkara habib palsu biasanya tak jauh dari urusan fulus (duit). Dia mengatakan masyarakat terlalu mudah percaya kepada orang yang mengaku habib.

Muksin mengatakan masyarakat mestinya teliti dengan konfirmasi ke kalangan habib asli atas status kehabibannya. "Kalau orang yang bukan habib mengaku-ngaku habib ujung-ujungnya pasti akan menipu," kata Habib Muksin.

Menurut Muksin, ciri habib asli mengacu garis keturunan orang tuanya, nama-nama kerabat ayah dan seterusnya, yang berbau nama khas Hadramaut seperti Ali, Ahmad, Hasan, Husin, Umar, dan Muhammad. Nama itu terulang-ulang jadi nama kakek, nama anak, dan cucu.

Lebih kuat lagi jika mempunyai silsilah yang dikeluarkan lembaga pencatat nasab (garis asal keturunan) Maktab Daimi Rabithah Alawiyin Pusat di Jakarta. (Yudi Yusmili)

Foto: Pixabay