Konten Media Partner

Gagalnya Pemberontakan Buruh Tambang Afiliasi PKI di Kotabaru

banjarhits

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi kaum proletar dan komunis. Foto: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kaum proletar dan komunis. Foto: istimewa

Reputasi pergolakan kelompok buruh di Kalimantan Selatan sudah terlacak sejak era kolonial Belanda. Gelanggang perlawanan buruh era kolonial ini paling dahsyat di kawasan tambang batu bara di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru pada 1926—saat itu wilayah Karesidenan Borneo Bagian Selatan dan Timur.

Catatan sejaran gerakan buruh ini terekam dalam memoar sejarawan Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur. Gerakan buruh itu bernama Pemberontakan Kerja Buruh Tambang (PKBT). Menurut dia, pemberontakan itu sebenarnya terafiliasi dengan pemberontakan PKI tahun 1926/1927.

Mansyur berkata pada November 1926, PKI melakukan pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatera Barat. Menjadi wajar buruh turut bergolak karena ada 35 ribu buruh berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia, termasuk sebagian buruh tambang di Kalsel.

"Begitupun sebagian banyak anggota Sarekat Islam berpindah menjadi anggota PKI. Perkembangan PKI yang begitu pesat membuat kapitalisme/imperialisme Belanda resah," tutur mansyur kepada wartawan banjarhits.id, Rabu 1 Mei 2019.

Di Indonesia, ia mengklaim perlawanan buruh tambang di Pulau Laut termasuk paling dahsyat dalam catatat sejarah pergerakan buruh tambang.

Mengutip riset Erdiana Finki Zahroh tentang Perusahaan Tambang Batubara Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan tahun 1903-1930 (Kajian Sejarah Sosial Ekonomi), Mansyur meneruskan, buruh tambang batu bara Pulau Laut memandang PKBT sebagai sarana perjuangan melawan ketidakadilan demmi kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Gerakan PKBT juga menyatukan golongan pekerjaan dan etnis di tengah masyarakat saat itu, seperti kelompok buruh, karyawan, dan pedagang. Mereka menjadikan PKBT sebagai sarana perjuangan nasib. Menurut Mansyur, gerakan ini awalnya tak terkait politik. Namun lambat laut, kekuatan sosial buruh tambang itu membentuk sebuah aksi perlawan terhadap kolonial.

Buruh yang mayoritas lapisan bawah dalam strata sosial ini menghimpun kekuatan. Sadar atas kekuatannya, massa buruh berkongsi terhadap pemimpin berafiliasi politik ke PKI dan Sarekat Rakjat. Pergolakan di Kalsel, kata Mansyur, imbas dari instruksi rapat petinggi PKI yang digelar di Prambanan, Yogjakarta pada Desember 1925.

"Dalam rapat itulah, partai mengimbau seluruh anggotanya melancarkan pergolakan seantero negeri melawan orang Belanda, termasuk di Kalimantan Selatan," ujar Mansyur. Semula, pemberontakan direncanakan pada Juli 1926. Namun batal setelah konflik internal di tubuh PKI.

Dalam buku Communism and the Communist Party in Indonesia karya Edward Djanner Sinaga (1960), serikat buruh perdagangan di bawah kontrol komunis memutuskan revolusi diawali pemogokan massa para pekerja kereta api.

Aksi mogok buruh kereta api di Jawa sebagai sinyal awal pemberontakan seantero negeri, termasuk di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru. “Hal ini akan mengarah pada PKI yang akan menggantikan pemerintah kolonial," ujar Mansyur.

Aksi May Day buruh di Kota Banjarmasin pada Rabu 1 Mei 2019. Foto: Donny Muslim/banjarhits.id

Adapun di Kabupaten Kotabaru, pemberontakan pecah pada 31 Desember 1926 ketika orang-orang Belanda sibuk merayakan pergantian tahun. Namun, kata dia, pemberontakan buruh di Kotabaru gagal, banyak pemimpinnya dipenjara di Kotabaru.

Prajurit kompeni membunuh 100-an orang yang dituduh sebagai dalang dan mengepung ribuan orang lainnya.

“Sekitar 3.000 orang ditahan dan beberapa ratus di antaranya dilepas setelah diinterogasi awal, tetapi pada Agustus 1927, Belanda melaporkan 1.363 orang menunggu vonis pengadilan di Kotabaru. Pemberontakan yang gagal berdampak panjang pada penduduk Kotabaru," kata Mansyur.