kumparan
21 Sep 2019 16:12 WIB

Keseruan Lomba Dayung Sampan Tradisi Banjarmasin

Ibu-ibu peserta dayung sampan yang tercebur ke sungai pada Sabtu (21/9/2019). Foto: M Syahbani/banjarhits.id
“Angkat dayung, kayuh!” aba-aba lomba dimulai. Ampadi dan Fauzi bergegas mengayunkan dayung dari garis start. Dayung dikayuh sekuat tenaga. Sampan yang mereka tumpangi melesat cepat, membelah Sungai Kerokan di Jalan Zafri Zam-Zam, Kecamatan Banjarmasin Barat.
ADVERTISEMENT
Gemuruh sorak penonton menambah semangat dua warga Belitung Utara itu. Segenap tenaga dikerahkan agar sampan mereka bisa mendahului saingnnya. Nahas, di tengah lintasan, air mulai masuk dari buritan sampan.
Sialnya, Fauzi yang duduk dibelakang tak menyadari hal itu. Walhasil, sampan tak bisa dikendalikan lagi. Air yang masuk sudah terlalu banyak.
Keseimbangan pun mulai hilang. Hingga akhirnya mereka harus rela menenggelamkan harapan untuk masuk ke babak selanjutnya, seiring karamnya sampan ke dasar sungai di tengah lintasan.
Bagi Ampadi, ini merupakan insiden yang pertama dialaminya, setelah dua kali mengikuti Lomba Bakayuh Jukung Tradisional yang diadakan Kecamatan Banjarmasin Barat. Kegiatan ini sengaja diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi (Harjad) Banjarmasin ke - 493, Sabtu (21/9/2019).
ADVERTISEMENT
"Tahun sebelumnya ikut juga. Walau engga berhasil menang tapi nggak sampai karam begini," ucapnya kepada banjarhits.id sambil membuka baterai handphone yang ikut basah kuyup.
Jangankan adu cepat, dengan sampan pun Ampadi tak terlalu akrab. Mereka memang bukan orang yang mahir dalam urusan dayung mendayung. Niat ikut serta hanya untuk memeriahkan lomba.
"Kalau jukung (perahu) enak saja. Yang jadi masalah duyungnya agak susah," ujarnya.
Peserta adu kecepatan lomba Bakayuh Jukung Tradisional di Sungai Kerokan, Banjarmasin pada Sabtu (21/9/2019). Foto: M Syahbani/banjarhits.id
Nasib serupa juga dialami Eni Rusmita dan Jumiah. Mereka berdua peserta dari kelas wanita. Namun mereka lebih beruntung karena sampan karam setelah usai perlombaan.
"Karamnya setelah balik dari finish. Alhamdulillah tadi berhasil menang tinggal besok lagi menuju babak perempat final," kata Eni.
Eni mengaku baru pertama kali ikut Lomba Kayuh Jukung ini. Toh, iamemang gemar mengikuti lomba-lomba untuk mencari peruntungan. "Tahun tadi nggak ikut, enggak dapat informasi. Kalau tahun ini saya dapat kabar dari kelurahan," jelasnya.
ADVERTISEMENT
Eni mengaku bukan orang yang terlalu akrab bersampan. Pengalaman mendayung hanya diperoleh hanya sewaktu ia kecil. Namun pengalaman itu cukup memberikan pelajaran baginya.
Camat Banjarmasin Barat, Karlina mengakui Lomba Bakayuh Jukung Tradisional sudah kedua kalinya diselenggarakan setiap hari jadi Kota Banjarmasin. Selain menyamarkan hari jadi, aksi ini salah satu upaya menghidupkan kembali budaya sungai.
“Lomba ini memang untuk yang kedua kalinya kami laksanakan. Diikuti para perwakilan warga dari sembilan kelurahan yang ada di barat, " imbuh Karlina.
Adapun untuk pesertanya diikuti 48 regu dengan dua kategori, terdiri dari 32 regu untuk kategori laki -laki dan 16 regu kategori perempuan. Untuk pemenang 1, 2, dan 3 mendapat hadiah yang sudah disediakan pihak kecamatan.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan