kumparan
KONTEN PUBLISHER
5 November 2019 9:03

Lewat Layar Tancap, Film Lokal Kalsel Ditonton Keliling Kampung

IMG-20191105-WA0017.jpg
Nonton bareng layar tancap di Jalan Sartika, Kelurahan Kelayan Selatan, Kota Banjarmasin pada Senin (4/11) malam. Foto: Donny Muslim/banjarhits.id
Berbekal layar putih, proyektor, dan alas terpal, puluhan warga meriung duduk lesehan menghadap sebuah layar tajak ketika hari beranjak malam, Senin (4/11/2019). Mengambil lokasi di Jalan Sartika, Kelurahan Kelayan Selatan, Kota Banjarmasin, mereka sedang disuguhi tayangan film bergenre animasi hingga horor garapan sutradara asal Kalimantan Selatan.
ADVERTISEMENT
Agenda nonton bareng ini inisiatif dari Forum Sineas Banua (FSB) yang menggelar program Layar Tajak untuk memeriahkan ajang Aruh Film Kalimantan (AFK) 2019.
Pegiat FSB mengunjungi kampung-kampung pinggiran di Kalimantan Selatan seraya mengenalkan sejumlah karya film lokal hasil olahan para sineas asli Kalsel.
Pemutaran perdana layar tajak digelar di Jalan Sartika, Kelurahan Kelayan Selatan, Kecamatan Banjarmasin Selatan pada Senin (4/11/2019) malam. "Total ada tujuh film yang diputar," kata Programmer Layar Tajak, Syarwani kepada wartawan banjarhits.id, Senin (4/11/2019) malam.
Karya-karya ini antara lain, Penganten Bini (Bias Film), TV Hanyar (Gelang Merah), Cerita Hantu (Kenye Production), Vice Versa (Dragon Hajati), Sarakap (STB Masking Production), Utas Jagau (Sapakawanan), dan Kuku (Hariansianang & Teropong).
ADVERTISEMENT
Syarwani berkata, program Layar Tajak ingin mempernalkan film-film lokal yang jarang dikenal oleh warga. Maklum, posisi karya sineas dari Kalsel sendiri belum begitu mencuat ke publik. "Program ini ingin memasyarakatkan film, jadinya yang diputar juga yang ringan-ringan dulu," kata dia.
film proyektor.png
Ilustrasi proyektor film. Foto: Pixabay
Selain di Kota Banjarmasin, Layar Tajak akan digelar di sejumlah kawasan lain di Kalsel. Paling dekat, mereka akan menyasar daerah tetangga seperti Kota Banjarbaru dan Desa Lok Baintan, Kabupaten Banjar.
"Rencananya juga akan lebih diperluas lagi sampai 13 kabupaten/kota. Biar sama-sama kebagian kesempatan menonton," ujar Syarwani.
Sejumlah warga mengapresiasi program Layar Tajak yang digelar oleh FSB. Bukan tanpa alasan, pemutaran film yang digelar dengan konsep layar tajak (tancap) sudah jarang dilakukan seiring ekspansi bioskop-bioskop besar dan layanan streaming film di era digital.
ADVERTISEMENT
"Dulu kan ada namanya misbar. Bioskop yang kalau gerimis bubar. Sekarang enggak ada lagi. Jadi ini sesuatu yang bagus digelar lagi," ujar Huda, warga Jalan Sartika.
Menurut dia, program seperti Layar Tajak bisa merekatkan sesama warga dengan hiburan. Maklum, sejauh ini menurut dia warga perkotaan memang semakin individualistis. "Kalau bisa rutin sih digelarnya. Enggak cuma setahun sekali, tapi juga kalau bisa sebulan sekali," kata dia.
Warga lainnya, Bahrul Hidayat, menyebut pemutaran layar tajak merespons kegamangan masyarakat atas minimnya hiburan massal tempo dulu. "Jadi dengan adanya hiburan massal ini rasa kebersamaan dan kesetaraan bisa tumbuh lagi," ujar Bahrul.
Dia sepakat jika film lokal harus dikenalkan lewat cara, seperti menggelar layar tancap di ruang publik. Menurut Arul, ini harus dilakukan untuk membuat karya sineas dari Kalsel bisa setara di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT
"Bagus sih intinya. Dari yang sebelumnya enggak tau ada film lokal, jadi sekarang udah tau," tandasnya.
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan