Konten Media Partner

Pisang Karamel Kulit Lumpia ala Banjar

banjarhits

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ina si penjual pisang karamel kulit lumpia di Siring Menara Pandang, Jalan Pierre Tendean, Kota Banjarmasin, Minggu. Foto: Zahidi/banjarhits.id
zoom-in-whitePerbesar
Ina si penjual pisang karamel kulit lumpia di Siring Menara Pandang, Jalan Pierre Tendean, Kota Banjarmasin, Minggu. Foto: Zahidi/banjarhits.id

Jajanan alias wadai ringan kuliner di Kota Banjarmasin tak melulu ipau, tetal, kararaban, dan lamang. Ada satu jenis wadai yang boleh dibilang tak masuk hitungan khas Banjar, tapi disuka orang Banjar: pisang karamel kulit lumpia.

Wadai ini berbahan dasar pisang manurun, lumeran coklat batangan, dan gula merah yang dibungkus kulit lumpia. Paduan ini kemudian digoreng yang menjadikannya gurih dan manis ketika disantap.

Adapun lumpia sejenis jajanan tradisional Tiongkok. Kulit lumpia dibuat dari tepung gandum yang biasa diisi rebung, telur, sayuran segar, dan daging. Boleh dibilang pisang karamel kulit lumpia akulturasi dua budaya kuliner Tiongkok dan Banjar karena kandungan manisnya sesuai selera Banjar.

Di tangan Ina, kulit lumpia diisi pisang manurun, lumeran coklat batangan, dan gula merah. Rasanya manis legit. Pisang karamel buatannya tak berminyak karena pakai mentega untuk menggoreng. Ina teringat jajanan pisang gulung ketika masih sekolah dasar era 1970-an.

"Terfikirlah saya untuk menggulung pisang ini. Tapi pertama saya coba dengan tepung terigu, biasa saja ternyata, tidak ada istemewanya. Kemudian saya coba kulit pangsit, malah keras. Terakhir saya coba pakai kulit lumpia, saya menemukan rasa yang lezat karena renyah krenyes," ucap Ina kepada wartawan banjarhits.id, Zahidi pada Minggu (17/2).

Ina semula cuma mengisi kulit lumpia dengan pisang manurun, lalu digoreng. Ia merasa kurang nikmat karena tak ada pemanisnya dan hambar. Kemudian, Ina menambahi gula merah dan coklat cair ke dalam kulit lumpia. Hasilnya lebih gurih dan manis.

Ina menamainya pisang karamel kulit lumpia. Wadai buatan Ani sudah dijual ke beberapa pasar tradisional. Ia menitip pisang caramel ke beberapa penjual lain seharga Rp 800 per buah untuk dijual Rp 1.000 ke konsumen. Ina pun menjual Rp 1.000 per buah pisang karamelnya.

"Saya hari ini jualan di Siring Menara Pandang lumayan larisnya sudah 400 buah laku dari pagi pukul 07.00 Wita tadi sampai sekarang, kurang lebih hampir 4 jaam. Rata-rata perhari selalu laku sekitar 400-500an buah pisang karamel saya jual," papar Ina. Adapun biaya produksinya Rp 500 - 600 per buah pisang karamel.

Menurut dia, rata-rata pisang karamelnya laku 1.200-an buah setiap hari. Ia menitipkan dagangan di Pasar Ahad, Taman Kamboja, dan Pasar Lama. Dari berjualan pisang karamel, Ina sanggup menyekolahkan tiga anaknya. Dua di antaranya sudah sarjana, dan satu anak masih duduk di bangku SMP.

Suami dari wanita single parent ini sudah meninggal lima tahun lalu. "Sejak itu saya jualan pisang karamel untuk menyambung kehidupan. Silakan mas coba pasti ketagihan," ucap Ina.

embed from external kumparan