Puluhan Ayam Serama Borneo Ikut Kontes Regional

banjarhits.ID, Banjarmasin – Kokok ayam saling bersahutan ketika siang menjelang. Puluhan ayam bertubuh mini adu kecantikan di Taman Satwa Jahri Saleh, Kota Banjarmasin pada Minggu (28/10).
Di tempat itu, Banjarmasin Serama Community (BSC) gelar kontes seni dan kecantikan ayam Serama Borneo tingkat regional Kalimantan. Acara semacam ini rutin digelar tahunan oleh komunitas pelestari dan pecinta ayam serama di Kalimantan Selatan.
Ketua pelaksana kontes seni dan kecantikan ayam serama, Dayat, mengatakan kontes ini bagian dari penjaringan ayam serama dari peserta regional untuk kemudian dibawa ke tingkat nasional. Menurut dia, BSC menyeleksi ayam pemenang dari kontes ini, sebelum diikutkan ke level nasional.
"Juga disebut latihan bersama karena acara ini rutin kami adakan setiap tahun. Tapi kami pakai juri dalam latihan bersama ini,” kata Dayat kepada banjarhits.ID di sela lomba.
Baca Juga: Harga Mahal si Ayam Mini
Dayat menjelaskan ada 7 kategori lomba, dimana setiap kategori ada tiga juara. Kategori lomba meliputi kategori jantan anak, jantan remaja, dan jantan dewasa. Kemudian kategori betina anak, betina remaja, dan betina dewasa. Adapun kategori terakhir yaitu kategori dewasa C.
"Kategori dewasa C untuk umum yang diperuntukkan sejenis Serama Kati, biasanya yang diikutkan adalah ayam-ayam elit yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah,” ucap Dayat.
Seorang juri kontes seni dan kecantikan ayam Serama, Sigit berkata harga ayam serama yang elit bisa mencapai Rp 170 juta. Ia mencontohkan seekor ayam seram milik koleganya di Sidoarjo, Jawa Timur.
Baca Juga: Meraup Untung Beternak Ayam Serama Borneo
Menurut dia, kriteria penilaian dari kontes ayam serama meliputi gaya, kelincahan, kebersihan, dan goyangan jengger ayam serama. Semakin indah goyangan jenggernya, maka semakin tinggi penilaian dari dewan juri.
Untuk mendapati goyangan jengger ayam yang indah, kata Sigit, ayam harus dibikin rileks. "Bisa saja ketika sendiri ayam itu bisa dengan indah menggoyangkan jenggernya. Tetapi ketika dihadapkan dengan lawan yang lain, dia ciut, diam saja tanpa ekspresi. Dan ini sering terjadi, kalau istilah dimanusiakan itu kalah mental lah,” kata Sigit. (Zahidi)
