Skrining Kanker Serviks, Perlukah?

Penulis: Pribakti B (Dokter RSUD Ulin Kota Banjarmasin dan Dosen FK Universitas Lambung Mangkurat). Tulisan ini opini pribadi yang dikirim ke banjarhits.ID
banjarhits.ID - Sejak tahun 2000 hingga tahun 2012, ada kecenderungan semakin muda usia wanita Indonesia yang terserang kanker serviks. Usia kisaran 21-22 tahun pada 2000 dan mencapai usia di bawah 20 tahun pada 2012. Penelitian WHO menyingkap minimnya tindakan skrining penyakit kanker di Indonesia.
Hal ini ikut berpengaruh terhadap jumlah kematian kanker serviks di Indonesia yang tergolong tinggi karena sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan dalam diagnosis. Umumnya mayoritas penderita baru sadar dirinya telah terserang saat kanker serviks ini ketika menginjak stadium lanjut. Kanker serviks memang nyaris tak menunjukkan pertanda saat berkembang biak.
Namun , jika kita mau cermat sedikit saja , sebenarnya gampang kok mengenali dan mencegahnya sejak dini. Seperti diketahui gejala kanker serviks pada stadium dini sering kali tidak ada tanda apa pun , keputihan abnormal (kuning, berbau) dan nyeri saat berhubungan seksual.
Pada stadium lanjut , nyeri saat buang air kecil, nyeri di kaki, mual, lemas, berat badan dan nafsu makan menurun, perdarahan setelah berhubungan seksual, sakit di tulang belakang dan pembesaran kelenjar getah bening di leher dan ketiak.
Adapun penyebab terbesar kanker serviks adalah Human Papiloma Virus (HPV) yang menyerang leher rahim. Biasanya virus ini menular melalui kontak seksual, toilet kotor dan alat medis yang tidak steril . HPV ini kerjanya lambat. Dia butuh 3-20 tahun untuk menjadi sebuah kanker.
Makanya banyak sekali wanita yang terlambat memeriksakan diri dan akhirnya sekitar 80% pasien yang terdeteksi sudah dalam keadaan stadium lanjut. Berdasarkan data Globocan 2012 , diperkirakan ada sekitar 53 juta wanita Indonesia yang berisiko mengidap kanker serviks. Setiap harinya, terdapat 20 wanita yang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.Tak heran kalau kanker serviks dijuluki sebagai pembunuh dalam kesenyapan.
Harus diakui pada stadium awal, nyaris tidak ada keluhan yang dirasakan oleh wanita yang terserang HPV. Hal itu membuat mereka enggan memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas terdekat guna menjalani deteksi dini kanker serviks. Lha wong sehat sehat saja, kenapa harus sampai membuka celana dalam di depan dokter?
Ada juga yang merasa malu karena takut ketahuan pernah berhubungan seks. Maklum mayoritas penularan HPV lewat hubungan badan. Sangat jarang orang yang belum pernah berhubungan seks terkena HPV. Sikap seperti itu tentu saja salah besar sebab semua wanita punya resiko terkena HPV. Bahkan remaja putripun rentan terkena.
Jika tidak mau memeriksakan diri secara dini, itu artinya kita berjudi dengan masa sepan. Sedangkan untuk pria memang tidak bisa terkena kanker serviks karena tidak mempunyai rahim. Namun, HPV sebagai virus kanker serviks bisa menempel di alat kelamin pria. Akibat yang ditimbulkannaya adalah genital warts (semacam kutil) yang tumbuh pada daerah kelamin.
Pria yang terdeteksi HPV berpotensi besar menularkan virus tersebut ke pasangannya. Misal seorang pira yang suka berhubungan seks dengan PSK kemudian tertular HPV, dia berpotensi akan menularkan virus itu ke istrinya. Sementara bagi pria, dampak HPV akan mengerikan kalau dia suka berhubungan seks sesama jenis. Sebab dia akan rentan terkena kanker dubur.
Berdasarkan penelitian Centers for Disease Control and Prevention (CDC), pria gay dan biseksual berisiko 17 kali lebih berpeluang mengembangkan HPV. Lebih dari itu, berhubungan intim di umur terlalu dini menjadi faktor resiko HPV. Maklum , virus ini lebih menyukai jaringan yang licin dan halus yang umumnya dimiliki oleh organ reproduksi yang masih muda.
Sebenarnya skrining untuk mengetahui kita telah terpapar virus HPV atau tidak caranya sederhana. Pertama adalah inspeksi vagina dengan asam asetat atau terkenal dengan nama IVA (Inspeksi Visual Asetat). Agar mudah diingat sebagian dokter sering memplesetkannya IVA sebagai Intip Vagina Aku.
Untuk pemeriksaan bisa dilakukan oleh bidan atau dokter umum yang sudah mendapat pelatihan IVA. Caranya dengan memoles mulut rahim menggunakan asam cuka/ asetat dan dilihat apakah ada kelainan seperti area putih yang terlihat oleh mata pemeriksa. Biayanya pun murah atau malah gratis di puskesmas. Metode ini punya akurasi 80 persen.
Cara lainnya adalah metode pap smear. Pemeriksaan dilakukan oleh dokter dengan mengusap mulut rahim dan sedikit leher rahim menggunakan sikat kecil dan halus. Kemudian hasil usapan dipulas ke sediaan kaca objek. Setelah diberi pewarnaan khusus sediaan tersebut diperiksa dibawah mikroskop untuk melihat apakah sel – sel epitel mulut rahim masih dalam batas normal atau sudah mulai ada perubahan.
Pemeriksaan model ini diyakini lebih akurat ketimbang IVA. Untuk itu agar tidak tertular HPV, kaum hawa disarankan untuk melakukan vaksinasi. Umur ideal untuk melakukannya adalah 9-12 tahum. Meski demikian, berdasarkan rekomendasi Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia (HOGI) , vaksinasi HPV dapat diberikan kepada wanita sampai usia 55 tahun. Vaksinasi ini berfungsi untuk memicu kekebalan tubuh sehingga terlindung dari HPV.
Meski tes IVA dan pap smear relatif mudah, tetap saja ada sebagian wanita yaag malas melakukannya, entah karena malu ataupun takut. Tapi jangan cemas, seiring perkembangan teknologi, beberapa negara telah mengaplikasikan metode baru, yaitu menggunakan teknologi pengambilan sampel cairan serviks sendiri (self sampling). Metode ini merupakan solusi untuk para wanita yang enggan melakukan deteksi dini dirumah sakit.
Walhasil, dokter jadi terbantu untuk menganjurkan pemeriksaan awal kanker serviks. Cara kerja metode ini adalah dengan mengambil sampel DNA HPV tanpa perlu menggunakan spekulum dan sikat yang bagi sebagian wanita sangat menyakitkan pada prosesnya. Belanda, Finlandia, Italia, Jerman, Malta, Spanyol, Singapura , Malaysia dan Thailand merupakan negara-negara yang telah mengaplikasikan metode ini. Bahkan di Belanda, Italia, dan Thailand metode self sampling akan dimasukkan kedalam jaminan kesehatan nasional mereka untuk menurunkan jumlah penderita kanker serviks.Bagaimana di Indonesia?
Di Indonesia alat untuk melakukan self sampling juga sudah mulai beredar, meski harus diakui harganya masih cukup mahal . Dengan alat tersebut, hasil sampel kemudian diperiksa ke laboratorim yang sudah punya pelayanan untuk self sampling.
Agar mendapat hasil maksimal, disarankan tiap tahun para wanita melakukan skrining atau pemeriksaan dini. Boleh dengan self sampling, IVA, ataupun Pap Smear, Bukankah lebih baik meluangkan sejenak untuk ”mengintip vagina” daripada terkena kanker serviks dilevel stadium lanjut pada masa yang akan datang. Semoga bermanfaat.
Agar mendapat hasil maksimal, disarankan tiap tahun para wanita melakukan skrining atau pemeriksaan dini. Boleh dengan self sampling, IVA, ataupun Pap Smear, Bukankah lebih baik meluangkan sejenak untuk ”mengintip vagina” daripada terkena kanker serviks dilevel stadium lanjut pada masa yang akan datang. Semoga bermanfaat. Ilustrasi: Pixabay Ilustrasi : PixabayIlustrasi: Pixabay
