Bahaya! Jangan Semprotkan Disinfektan Langsung ke Manusia

GORONTALO - Dalam mencegah tertularnya COVID-19, selain menggunakan masker dan rajin cuci tangan, langkah preventif lainnya yang masif dilakukan saat ini adalah penyemprotan disinfektan. Cairan yang mengandung sejumlah campuran bahan kimia ini dinilai ampuh bunuh virus yang menempel di permukaan benda-benda mati. Tapi bagaimana jika disemprotkan ke makhluk hidup? Atau dalam hal ini manusia?
Belum lama ini, seorang warga di Desa Bulontalangi Barat, Kecamatan Bulango Timur, Kabupaten Bone Bolango dilaporkan meninggal usai tubuhnya disemprot cairan disinfektan. Dicurigai, warga tersebut keracunan cairan desinfeksi tersebut. Sebab, menurut pengakuan keluarga dekatnya, setelah disemprot, mulut dan hidung korban mengeluarkan darah.
Menyoal cairan disinfektan, pada dasarnya Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), sudah sejak lama melarang penyemprotan cairan disinfektan langsung kepada manusia. Larangan yang sama kemudian diikuti oleh Kementerian Kesehatan RI dengan mengeluarkan surat edaran bernomor HK.02.02/222/111/375/2020 tentang Penggunaan Bilik Disinfektan dalam Rangka Pencegahan Penularan COVID-19.
Surat edaran itu sendiri dilatarbelakangi oleh aksi masyarakat yang kerap menggunakan bilik sterilisasi atau bilik disinfektan yang pada cara kerjanya, cairan disinfektan ikut disemprotkan langsung ke manusia. Sehingga tak hanya mengenai benda-benda mati, juga kulit manusia. Lebih parah, jika kena mata, terhirup, atau pada kondisi terparah adalah tertelan.
Pada dasarnya, disinfektan menggunakan bahan diluted bleach atau pemutih, klorin, etanol 70 persen dan amonium kuartener dan hidrogen peroksida. Sehingga, WHO telah memeringati masyarakat tentang bahaya penyemprotan disinfektan ini kepada manusia. Sebab, tindakan menyemprot disinfektan langsung ke manusia jika mengenai selaput lendir pada mata dan mulut, berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Dalam kondisi terparah, dapat menyebabkan keracunan pada manusia dan iritasi pada kulit dan saluran pernapasan.
Eka Ginanjar, dokter dan sekaligus sekretaris jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengungkapkan bahwa, pada dasarnya kandungan cairan disinfektan itu adalah racun untuk membunuh kuman, bakteri, atau virus. Pada kadar tertentu, aman untuk manusia, tapi kadar aman ini pun menurutnya perlu diperhatikan juga jumlah yang terkena atau organ yang terkena, dan jumlah kumulatif yang terkena.
“Keracunan yang terjadi bisa ringan, misalnya pusing-pusing atau hanya mual-mual atau juga bisa fatal. Nah, jika disemprotkan ke tubuh manusia, bagaimana mekanismenya? Apakah dengan perlakuan khusus, misalnya saat penyemprotan menutup mulut dan hidung serta mata, dan lain-lain?” kata Eka
Masih menurut Eka, jika ada orang yang kemudian terpapar cairan disinfektan lalu meninggal, maka itu sebenarnya tergantung apa kandungan zat disinfektannya, dan sebanyak apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ini pun menurutnya perlu untuk dipastikan dengan melakukan autopsi untuk memastikan penyebabnya.
“Contoh simpel obat nyamuk semprot baygon. Kita semprot di ruangan trus kita masuk ruangan tersebut, gak nyaman kan kita bernafas? Sebagian orang (bahkan) bisa sampai mual dan pusing. Nah, kalau lebih banyak lagi pasti bergejala lebih. Kalau diminum baygonnya, ya mati,” ungkapnya.
Sedangkan Sekolah Farmasi ITB menulis, kloroksilenol atau bahan aktif cairan antiseptik komersil yang juga digunakan sebagai salah satu disinfektan dapat meningkatkan risiko tertelan atau secara tidak sengaja terhirup. Studi pada hewan menunjukan bahwa kloroksilenol menyebabkan iritasi kulit ringan dan iritasi mata parah.
“Kematian terjadi pada dosis tinggi. Studi medis yang dilakukan di Hongkong, di mana melibatkan 177 kasus keracunan cairan antiseptik komersil yang mengandung kloroksilenol, menunjukan komplikasi serius pada 7 persen pasien hingga terjadinya kematian,” demikian seperti yang ditulis disitusnya.
Sedangkang dokter Michael Smith MD menegaskan, penggunaan disinfektan dengan cara disemprotkan ke tubuh sangat berbahaya. Bahkan, berdampak keracunan dan bisa sampai mematikan.
“Sangat berbahaya apabila disinfektan terhirup, tertelan, atau disemprotkan ke tubuh,” tegasnya.
Menurutnya lagi, disinfektan berbasis pemutih yang mengandung klorin sifatnya korosif atau bisa menggerus logam. Sehingga, jika logam saja bisa terkikis, apalagi bagi kulit atau organ dalam tubuh. Lebih lanjut menurutnya, cairan disinfektan yang masuk ke tenggorokan juga tidak kalah berbahaya bagi kesehatan.
“Cairan disinfektan dapat melukai tenggorokan, kerongkongan, sampai perut. Anda bisa susah menelan asupan karena tenggorokan sangat sakit, mulut terus menerus mengeluarkan air liur, kesulitan bernafas, muntah, sakit perut, dan sakit dada,” tutupnya.
------
Reporter: Wawan Akuba
