Lockdown, Aktivitas di Kampus UNG Ditiadakan Selama 2 Pekan

GORONTALO - Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Eduart Wolok, memilih untuk me-lockdown kampus tersebut, setelah terjadi lonjakan kasus COVID-19 di Provinsi Gorontalo. Sebelumnya, penambahan kasus terakhir di provinsi itu masuk lima besar nasional per 20 Juli 2020 kemarin.
“Kami tak ingin mengambil risiko. Langkah ini kita tempuh karena angka reproduki (R0) Gorontalo sudah berada di atas dua. Artinya adalah, setiap satu orang yang terinfeksi virus ini, bisa menjangkiti dua atau tiga orang secara eksponensial,” kata Eduart. Selasa, (21/7).
Eduart mengungkapkan, dengan adanya 100 orang lebih yang dinyatakan positif di Gorontalo, artinya akan ada kira-kira 100 orang lainnya yang ikut terinfeksi dari mereka. Dan hasilnya baru bisa diketahui dalam empat hingga lima hari berikutnya.
Sejak awal pihaknya memang sudah memprediksi akan terjadi lonjakan kasus ini, sebab dalam dua pekan terakhir, tren penambahan kasus COVID-19 di Gorontalo mengalami kenaikan. Meski begitu, harusnya kewaspadaan masyarakat itu perlu dilakukan sejak PSBB berakhir. Sebab, “saat itu, dalam evaluasi yang dilakukan, R0 di Gorontalo masih di angka 1,62. Artinya, masyarakat harus tetap hati-hati. Karena belum pernah berada pada posisi dibawah 1,” katanya.
Adapun kata Eduart, lockdown dilakukan dengan kembali menerapkan kerja dari rumah untuk seluruh pegawainya selama dua pekan. Sementara untuk ujian dan proses perkuliahan, akan dilakukan juga secara daring.
“Ini implementasinya akan segera dilakukan, kami tak ingin lama-lama lagi. Sebelum penyebarannya makin masif di lingkunan kampus. Kami tak mau penyebaran virus ini akan terjadi di dalam kampus yang sebenarnya aktivitasnya banyak sekali,” tutup Eduart.
-----
Reporter: Wawan Akuba
