Konten Media Partner

Masjid Hunto, Mahar Raja Gorontalo untuk Putri Raja Palasa

banthayo.idverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Masjid tertua di Gorontalo yang diberi nama Masjid Hunto Sultan Amay. Masjid tersebut berada di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Masjid itu dibangun sebagai mahar untuk pernikahan. Jumat, (26/7). Foto : Burdu/banthayoid.
zoom-in-whitePerbesar
Masjid tertua di Gorontalo yang diberi nama Masjid Hunto Sultan Amay. Masjid tersebut berada di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Masjid itu dibangun sebagai mahar untuk pernikahan. Jumat, (26/7). Foto : Burdu/banthayoid.

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Bertempat di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, berdiri masjid yang diberi nama "Hunto" itu merupakan penanda awal perkembangan agama Islam di Gorontalo.

Di luar masjid kita bisa menjumpai gambar unta di baliho, kaligrafi arab dan sepeda berukuran besar yang tingginya 3 meter. Namanya sepeda Nabi Adam, terbuat dari pipa besi.

embed from external kumparan

Pengurus masjid, Syamsuri Kaluku, menceritakan bagaimana berdirinya Masjid Hunto. Ia berkisah, Hunto merupakan masjid tua yang didirikan oleh Raja Amay, seorang pemimpin muda pada masa itu pada tahun 1495.

Amay adalah pemimpin yang berparas tampan, memiliki umur muda dengan status lajang. Sebelum memeluk agama Islam, ia dan pengikutnya saat itu menganut kepercayaan animisme.

Nama Hunto merupakan singkatan dari “Ilohuntungo”. Artinya basis atau pusat perkumpulan agama Islam. Sementara nama Sultan Amay merujuk pada salah seorang pemimpin Kerajaan Gorontalo yang pertama kali memeluk Islam. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)

"Di Sulawesi, Islam masuk sejak tahun 1300-an. Namun, waktu itu cukup sedikit orang yang memercayai, salah satunya Amay dan pengikutnya," kata Syamsuri, saat dijumpai di kediamannya, Jumat (26/7).

Sebelum masjid itu berdiri, kata dia, Amay sempat jatuh cinta dengan putri raja yang berasal dari Mautong Sulawesi Tengah. Namanya Boki Owutango, anak dari Raja Palasa. Amay berniat untuk meminang sang putri. Raja Palasa yang saat itu pengikut agama Islam, menerima baik niat baik Amay.

Masjid Hunto Sultan Amay didirikan oleh Sultan Amay pada tahun 1495. Masjid tertua di Gorontalo ini merupakan mahar pernikahannya dengan Putri Boki Antungo, anak perempuan Raja Palasa dari Mautong Sulawesi Tengah. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)

Kemudian Raja Palasa mengajukan satu syarat kepada Amay, yakni harus masuk Islam dengan pembuktian mendirikan masjid. "Kalau itu disepakati, maka Raja Palasa akan merestui Amay dan putrinya," kata Syamsuri.

Dengan kesungguhan, Amay menyetujui syarat tersebut. Meski saat itu Amay belum langsung memeluk agama Islam. Selanjutnya, pada tahun 1490-an, Amay dan pengikutnya segera membangun masjid di Gorontalo.

"Masjid tersebut kemudian diberi nama Hunto," ungkapnya.

Mahar masjid ini merupakan permintaan keluarga Sang Putri saat Sultan Amay berniat menikahinya tak lama setelah mengikrarkan diri masuk Islam. Sejak awal, masjid ini dijadikan basis perkembangan agama Islam di kota berjuluk “Serambi Madinah” ini. (Foto : Burdu/banthayoid)

Menurut cerita Syamsuri, nama Hunto diambil dari singkatan "Ilohuntungo" yang artinya pangkalan atau pusat perkumpulan. Menjelang pernikahan, Amay dan pengikutnya mendeklarasikan diri untuk memeluk agama Islam.

"Saat itu di halaman masjid digelar pesta dan sumpah adat. Hidangan saat itu adalah babi. Kemudian darah babi dijadikan simbol sumpah adat. Darahnya diteteskan di bagian jidat, dengan sumpah hari tersebut merupakan hari terakhir rakyatnya memakan babi," tutur Syamsuri.

Raja Amay saat itu, jelas Syamsuri, kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Setelahnya, pernikahan Raja Amay dan putri Boki dilakukan di Moutong, dan masjid yang dibangun itu menjadi hadiah pernikahan Raja Amay kepada istrinya.

Masjid yang dibangun di atas tanah 12 x 12 meter itu, saat ini tercatat sebagai cagar budaya pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gorontalo. (Foto : Burdu/banthayoid)

Sejak itu juga, Raja Amay mendatangkan Syekh Syarif Abdul Aziz, seorang ahli agama Islam dari Arab Saudi, untuk menyebarluaskan Islam di wilayah Gorontalo.

"Maka proses pengembangan Islam di wilayah ini pun berjalan hingga saat ini," jelasnya. Syamsuri menerangkan, mimbar dan tiang masjid yang masih kokoh hasil buatan di masa lalu.

"Di halaman masjid ada sumur. Diyakini keramat dan bisa menyembuhkan penyakit," jelas Syamsuri.

Monumen yang berisi pesan-pesan Raja Amay, dalam bahasa Gorontalo. (Foto : Burdu/banthayoid)
Meski sudah berusia ratusan tahun dan direnovasi, bentuk asli masjid yang dibangun oleh Sultan Amay atau Sultan Amai ini masih dipertahankan dan hingga kini masih bisa kita saksikan. (Foto : Rahmat Ali/banthayoid)
Sepeda berukuran besar yang tingginya tiga meter. Namanya sepeda Nabi Adam, terbuat dari pipa besi. sepeda itu menarik perhatian jamaah dan wisatawan yang berkunjung. (Foto : Burdu/banthayoid)
Julukan sebagai Kota Serambi Madinah muncul sebagai manifestasi nilai adat, nilai kesopanan dan nilai norma Agama yang dijunjung tinggi oleh masyarakat setempat. (Foto : Burdu/banthayoid)
Masyarakat Gorontalo terkenal dengan filosofi adatnya yakni 'Adati Hula-hula’a to Sara’a Hula-hula’a to Qur’an (ASQ) atau 'Adat bersendikan Syara, Syara bersendikan Kitabullah'. (Foto : Burdu/banthayoid)
Kawasan Masjid Hunto Sultan Amay dikenal dengan kawasan religi Gorontalo serambi madinah. (Foto : Burdu/banthayoid)

----

Reporter : Rahmat Ali, Burdu

Editor : Febriandy Abidin