Masjid Hunto, Mahar Raja Gorontalo untuk Putri Raja Palasa

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Bertempat di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, berdiri masjid yang diberi nama "Hunto" itu merupakan penanda awal perkembangan agama Islam di Gorontalo.
Di luar masjid kita bisa menjumpai gambar unta di baliho, kaligrafi arab dan sepeda berukuran besar yang tingginya 3 meter. Namanya sepeda Nabi Adam, terbuat dari pipa besi.
Pengurus masjid, Syamsuri Kaluku, menceritakan bagaimana berdirinya Masjid Hunto. Ia berkisah, Hunto merupakan masjid tua yang didirikan oleh Raja Amay, seorang pemimpin muda pada masa itu pada tahun 1495.
Amay adalah pemimpin yang berparas tampan, memiliki umur muda dengan status lajang. Sebelum memeluk agama Islam, ia dan pengikutnya saat itu menganut kepercayaan animisme.
"Di Sulawesi, Islam masuk sejak tahun 1300-an. Namun, waktu itu cukup sedikit orang yang memercayai, salah satunya Amay dan pengikutnya," kata Syamsuri, saat dijumpai di kediamannya, Jumat (26/7).
Sebelum masjid itu berdiri, kata dia, Amay sempat jatuh cinta dengan putri raja yang berasal dari Mautong Sulawesi Tengah. Namanya Boki Owutango, anak dari Raja Palasa. Amay berniat untuk meminang sang putri. Raja Palasa yang saat itu pengikut agama Islam, menerima baik niat baik Amay.
Kemudian Raja Palasa mengajukan satu syarat kepada Amay, yakni harus masuk Islam dengan pembuktian mendirikan masjid. "Kalau itu disepakati, maka Raja Palasa akan merestui Amay dan putrinya," kata Syamsuri.
Dengan kesungguhan, Amay menyetujui syarat tersebut. Meski saat itu Amay belum langsung memeluk agama Islam. Selanjutnya, pada tahun 1490-an, Amay dan pengikutnya segera membangun masjid di Gorontalo.
"Masjid tersebut kemudian diberi nama Hunto," ungkapnya.
Menurut cerita Syamsuri, nama Hunto diambil dari singkatan "Ilohuntungo" yang artinya pangkalan atau pusat perkumpulan. Menjelang pernikahan, Amay dan pengikutnya mendeklarasikan diri untuk memeluk agama Islam.
"Saat itu di halaman masjid digelar pesta dan sumpah adat. Hidangan saat itu adalah babi. Kemudian darah babi dijadikan simbol sumpah adat. Darahnya diteteskan di bagian jidat, dengan sumpah hari tersebut merupakan hari terakhir rakyatnya memakan babi," tutur Syamsuri.
Raja Amay saat itu, jelas Syamsuri, kemudian meminta rakyatnya untuk masuk Islam dengan membaca dua kalimat syahadat. Setelahnya, pernikahan Raja Amay dan putri Boki dilakukan di Moutong, dan masjid yang dibangun itu menjadi hadiah pernikahan Raja Amay kepada istrinya.
Sejak itu juga, Raja Amay mendatangkan Syekh Syarif Abdul Aziz, seorang ahli agama Islam dari Arab Saudi, untuk menyebarluaskan Islam di wilayah Gorontalo.
"Maka proses pengembangan Islam di wilayah ini pun berjalan hingga saat ini," jelasnya. Syamsuri menerangkan, mimbar dan tiang masjid yang masih kokoh hasil buatan di masa lalu.
"Di halaman masjid ada sumur. Diyakini keramat dan bisa menyembuhkan penyakit," jelas Syamsuri.
----
Reporter : Rahmat Ali, Burdu
Editor : Febriandy Abidin
