Konten Media Partner

Mirisnya Madrasah Al-Furqon di Gorontalo yang Beralaskan Tanah

banthayo.idverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kondisi Madrasah Ibtidaiyah Al-Furqon yang berada di Desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara. Sabtu (8/6). Foto: Burdu/banthayoid
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Madrasah Ibtidaiyah Al-Furqon yang berada di Desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara. Sabtu (8/6). Foto: Burdu/banthayoid

BANTHAYO.ID,GORONTALO - Sekolah Kelas Jauh Madrasah Ibtidaiyah Al-Furqon di Desa Imana, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, minim sarana dan prasarana.

Kondisi bangunan sekolah tampak belum memadai. Selain dinding yang berbahan tripleks, para siswa juga belajar dengan beralaskan tanah.

Madrasah Al-Furqon terbagi enam ruang kegiatan belajar yang disekat dengan kayu tripleks. (Foto: Burdu/banthayoid)

Hamid Laiko (63), ketua pembangunan sekolah Al-Furqon, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung lama. Sejak dibangun tahun 2013, sekolah ini minim perhatian pemerintah. Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung.

"Dulu sangat parah, masih beratapkan rumbia dan belum ada dinding. Secara perlahan kondisi sekolah mulai membaik karena dibangun secara swadaya oleh masyarakat," kata Hamid, Sabtu (8/6).

Kondisi sekolah yang memiliki 40 siswa tersebut masih beralaskan tanah. (Foto: Burdu/banthayoid)

Hamid juga mengatakan, program swadaya masyarakat terjadi lantaran keinginan masyarakat menyekolahkan anak-anaknya.

"Kalau harus ke sekolah induk yang ada di Desa Ilomata, maka mereka harus menempuh jarak tujuh kilometer. Dengan ini juga menjadi penyebab banyaknya anak kami yang putus sekolah," jelas Hamid.

Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Furqon, Asrin Buntuan, mengungkapkan jumlah siswa di sana berkisar 40 orang, dan sebelumnya ruangan sekolah tersebut dibagi menjadi enam ruang kelas baru (RKB).

Bangku yang menjadi tempat duduk siswa banyak yang patah dan tak layak pakai. (Foto: Burdu/banthayoid)

"Sekarang kelasnya sudah sampai pada tingkat lima, karena jumlah siswa yang setiap tahun bertambah," ujarnya.

Pihaknya berharap bantuan pemerintah untuk perbaikan sekolah bisa segera terealisasi. Hal ini guna menambah semangat siswa dalam melakukan aktivitas belajarnya.

Bangku dan meja belajar siswa banyak yang sudah rapuh. (Foto: Burdu/banthayoid)

"Itu sebabnya pihak sekolah dan juga warga di desa ini sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah. Supaya keberadaan sekolah ini mendapat dukungan, baik materi maupun morel, dan sekolah kelas jauh ini tetap dapat dipertahankan," tutup Asrin.

----

Reporter: Rahmat Ali

Editor: Febriandy Abidin