Janin Tersenyum ketika Merasakan Wortel Tapi Cemberut Saat Cicipi Sayuran Hijau

Konten Media Partner
26 September 2022 19:10
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Reaksi janin yang tampak tersenyum, difoto 20 menit setelah ibu-ibu mengonsumsi kapsul berisi bubuk wortel.
zoom-in-whitePerbesar
Reaksi janin yang tampak tersenyum, difoto 20 menit setelah ibu-ibu mengonsumsi kapsul berisi bubuk wortel.
Jika rasa sayuran kale membuat Anda meringis, Anda tidak sendirian.
Para ilmuwan menemukan janin di dalam rahim tampak tersenyum setelah sang ibu makan wortel dan terlihat seperti cemberut usai si ibu makan kale.
Laboratorium Penelitian Janin dan Neonatal Universitas Durham, Inggris, mengungkapkan itu merupakan bukti langsung pertama yang menunjukkan janin merespons rasa yang berbeda secara nyata atau sejak berada dalam kandungan.
Para peneliti mempelajari lebih dari 100 perempuan hamil dan bayi yang belum lahir di Inggris.
Mereka memberikan 35 perempuan kapsul berisi bubuk wortel dan 34 perempuan lain bubuk kale. Sisa 30 perempuan lagi adalah bagian dari kelompok yang tidak makan kedua bubuk itu.

Reaksi nyata melalui pemindaian 4D

Kelompok tersebut melaporkan dalam jurnal Psychological Science, bahwa 20 menit setelah ibu menelan kapsul, pemindaian melalui ultrasound 4D menunjukkan sebagian besar janin yang terpapar kale tampak meringis. Sementara itu, mereka yang terpapar wortel terlihat tersenyum.
Adapun kelompok dari 30 perempuan hamil yang tidak makan apa-apa, tidak memiliki respons yang sama.
Gambar dari studi FETAP (Fetal Taste Preferences) ini menunjukkan janin 'meringis' di sebelah kanan, sebagai reaksi terhadap rasa kangkung.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar dari studi FETAP (Fetal Taste Preferences) ini menunjukkan janin 'meringis' di sebelah kanan, sebagai reaksi terhadap rasa kangkung.
Penelitian sebelumnya menunjukkan preferensi makanan kita mungkin dimulai sebelum kelahiran, karena cairan ketuban yang mengelilingi janin memiliki rasa yang berbeda tergantung pada diet si perempuan yang sedang hamil tersebut.
Tetapi studi terbaru dari Universitas Durham mengatakan ini adalah gambar pertama secara langsung atas respons bayi yang belum lahir terhadap rasa yang berbeda-beda.

Kapan janin mulai mencicipi makanan?

"Kami tahu dari penelitian sebelumnya bahwa nutrisi yang diterima janin melalui makanan sang ibu, sangat penting untuk perkembangan kesehatannya di kemudian hari. Namun yang tidak kami ketahui adalah kapan itu dimulai," kata Nadja Reissland, rekan penulis studi tersebut yang juga kepala Laboratorium Penelitian Janin dan Neonatal di Universitas Durham.
"Bayi yang belum lahir menunjukkan preferensi mereka terhadap gula sejak usia kandungan 14 minggu," ujarnya kepada BBC.
Penelitian sebelumnya menunjukkan preferensi makanan dapat dimulai sebelum kelahiran dengan mencicipi cairan ketuban yang membungkus janin.
zoom-in-whitePerbesar
Penelitian sebelumnya menunjukkan preferensi makanan dapat dimulai sebelum kelahiran dengan mencicipi cairan ketuban yang membungkus janin.
"Sebagai percobaan, kami memberikan kapsul bubuk kepada bayi yang belum lahir di usia kehamilan 32 dan 36 minggu, karena ekspresi mereka cenderung semakin kompleks."
"Kami ingin melanjutkan penelitian dan terus merekam data bayi yang belum lahir ini hingga nanti setelah lahir, serta mengamati apakah mereka bereaksi terhadap wortel dan kale seperti yang mereka tunjukkan ketika di dalam rahim."
"Kami berharap mereka terbiasa dengan sayuran hijau setelah lahir, dan oleh karena itu mereka bisa makan sayuran hijau untuk diet sehat."
Apa yang ditunjukkan eksperimen ini kepada kita tentang perkembangan rasa pada bayi?
Reissland berkata percobaan ini menunjukkan bahwa rasa berkembang sangat awal dan juga tergantung pada enkulturasi atau pembudayaan lingkungan setempat terhadap makanan.
"Begitu janin ikut mengalami diet dari sang ibu, setelah lahir mereka akan terbiasa dengan diet tersebut dan terus melanjutkan makanan untuk diet."

Rasa pahit mengindikasikan racun

Reissland kemudian menunjukkan alasan lain bahwa janin mungkin menolak rasa pahit.
"Kami juga mengasosiasikan rasa pahit dengan bahaya, dan bereaksi sesuai dengan hal itu. Tapi karena tidak semua rasa pahit mengindikasikan racun, kita harus mendidik diri kita sendiri dan anak-anak kita untuk mengatasi reaksi ini. Makanan pahit tertentu sebetulnya sehat dan baik untuk mereka."
Namun dia menambahkan, ketika gambar ultrasound menunjukkan reaksi yang mirip dengan orang dewasa yang sedang merasakan sesuatu yang pahit, masih belum diketahui apakah bayi yang belum lahir ini benar-benar mengalami emosi atau ketidaksukaan.
Mimik menyeringai dan senyuman yang terlihat pada ultrasound "mungkin hanya gerakan otot yang bereaksi terhadap rasa pahit," kata Reissland.
Dia juga berkata, bagaimanapun, janin tahu membuat ekspresi wajah.
Wortel membuat bayi dalam kandungan tampak tersenyum, sedangkan kale membuat mereka terlihat meringis.
zoom-in-whitePerbesar
Wortel membuat bayi dalam kandungan tampak tersenyum, sedangkan kale membuat mereka terlihat meringis.

Apa pendapat ilmuwan lain?

Dr Daniel Robinson, seorang profesor neonatologi di Northwestern University Feinberg School of Medecine di AS, tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
Dia mengatakan kepada NBC, orang tidak boleh menafsirkan gambar ultrasound yang memperlihatkan janin menunjukkan kebahagiaan atau ketidaksukaan.
Dr Julie Mennella dari Monell Chemial Senses Center yang berbasis di Philadelphia, juga tidak terlihat di penelitian ini, tapi ahli di bidangnya.
The Guardian mengutip pernyataannya bahwa eksperimen tersebut mendukung temuan sebelumnya, yaitu keturunan belajar tentang diet yang diterapkan ibu mereka melalui rasa makanan dalam cairan ketuban.
Media itu juga mengutip Prof Catherine Forestell dari College of William & Mary di Virginia yang menyambut penelitian di masa depan soal bagaimana janin merespons apa yang ibu mereka makan.

Rewel soal makanan

Beyza Ustun yang memimpin penelitian ini mengatakan, "Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa bayi bisa merasakan dan mencium bau ketika di dalam kandungan. Tapi itu berdasarkan pada hasil pascakelahiran, sementara penelitian kami adalah yang pertama untuk melihat reaksi bayi sebelum kelahiran."
"Kami berpikir bahwa paparan berulang terhadap rasa sebelum kelahiran dapat membantu menetapkan preferensi makanan setelah melahirkan, yang mungkin penting ketika memikirkan seputar makanan sehat dan potensi menghindari 'rewel soal makanan'."
Jadi secara praktis, penelitian ini bisa memberikan petunjuk bagi ibu dan ayah baru yang ingin memastikan anak-anak mereka tidak pilih-pilih soal makanan mereka.
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020