Konten dari Pengguna

Ibu dan Sepuluh Buah Hatinya

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
27 Maret 2025 9:30 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi seorang ibu berinteraksi dengan salah seorang buah hatinya, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang ibu berinteraksi dengan salah seorang buah hatinya, sumber: Pexels.
ADVERTISEMENT
Di sebuah kampung kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan pepohonan rindang, hiduplah seorang perempuan bernama Lasmi. Sejak suaminya berpulang pada tahun 1984 karena sakit yang tak sempat tertangani, Lasmi memikul tanggung jawab besar, yakni membesarkan sepuluh anak yang sebagian masih kecil. Tidak ada keluh kesah di bibirnya, hanya tekad kuat mengantar anak-anaknya menjadi manusia baik.
ADVERTISEMENT
Kehidupan di kampung tidaklah mudah, terutama bagi seorang janda dengan banyak tanggungan. Namun, di balik tubuhnya yang tampak rapuh, tersembunyi kekuatan luar biasa. Setiap hari adalah perjuangan tanpa jeda, tetapi Lasmi tidak pernah membiarkan rasa lelah mengalahkan cintanya pada anak-anak.
Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh bumi, Lasmi sudah bangun. Dia menyiapkan nasi, sayur asam, ikan teri, dan tempe goreng untuk sarapan.
Setelah anak-anak berangkat ke sekolah dengan kaki kecil mereka yang menyusuri pematang sawah, Lasmi mulai bekerja. Dia menjemur padi milik tetangga, mengumpulkan kayu bakar dari hutan kecil di ujung desa, dan menerima pesanan menjahit guna menambah penghasilan.
Tidak ada pekerjaan yang dianggapnya remeh, asalkan halal dan bisa membiayai pendidikan anak-anaknya. Siang hari dihabiskan di bawah terik matahari, sedangkan malam digunakan menyelesaikan jahitan di bawah penerangan lampu minyak.
ADVERTISEMENT
Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh merupakan bagian dari pengorbanan tulus demi masa depan lebih baik bagi buah hatinya.
"Sekolah yang benar, Nak. Ibu tidak punya harta, tapi ilmu akan jadi bekal kalian selamanya," ucapnya setiap kali menyelipkan uang sekadarnya di tangan anak-anaknya.
Meski jumlahnya tak seberapa, dia selalu memastikan anak-anaknya memiliki uang saku sebagai bekal sekolah. Dia sadar, pendidikan menjadi jalan keluar dari kemiskinan yang membelenggu hidup mereka.
Tidak jarang, Lasmi menahan lapar atau menunda kebutuhannya sendiri agar bisa membayar biaya sekolah. Bagi Lasmi, kebahagiaan sejati adalah melihat anak-anaknya mendapatkan kesempatan yang tidak pernah dia miliki di masa muda.
Beban hidup memang berat, tetapi ketegaran Lasmi lebih besar. Ketika malam tiba dan anak-anak tertidur pulas di bale bambu, dia sering menatap langit bertabur bintang. Di sanalah dia mengirim doa-doa panjang, berharap anak-anaknya kelak bisa hidup lebih baik darinya.
ADVERTISEMENT
Doa menjadi penghiburan di tengah keletihan, menjadi sumber kekuatan yang menopang langkahnya setiap hari. Tidak ada yang tahu betapa banyak air mata, diteteskan dalam kesunyian malam, tetapi Lasmi yakin bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang berjuang dengan tulus.
Satu per satu anaknya tumbuh. Ada yang menjadi guru di kota sebelah, ada yang bekerja di pabrik, bahkan dua anaknya berhasil kuliah meski dengan biaya pas-pasan dan kemudian menjadi pengusaha sukses.
Lasmi tidak pernah meminta balasan. Cukup mendengar kabar bahwa mereka baik-baik saja sudah menjadi kebahagiaan terbesar baginya. Dia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayangnya.
Bagi Lasmi, setiap anak memiliki jalan hidup masing-masing, dan dia bangga pada semua anaknya yang berjuang dengan gigih. Tidak ada pencapaian yang terlalu kecil di matanya, karena dia tahu dan mengerti betapa beratnya perjalanan yang telah mereka tempuh.
ADVERTISEMENT
Ketika anak sulungnya, Sinta, kembali ke kampung membawa motor baru hasil gajinya sebagai perawat, mata Lasmi berkaca-kaca. Bukan karena benda itu, melainkan karena dia memahami, semua jerih payahnya tidak sia-sia. Begitu pula ketika anak bungsunya lulus SMA dengan nilai terbaik di sekolah.
Dia tersenyum, meski tubuhnya mulai ringkih. Setiap kabar baik dari anak-anaknya menjadi obat bagi lelahnya. Bahkan ketika tubuhnya mulai melemah, semangat di dalam hatinya tetap menyala terang. Lasmi merasa bahwa perjuangannya telah membuahkan hasil, dan anak-anaknya kini mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Waktu terus berjalan. Tahun berganti, rambut Lasmi semakin memutih. Namun, semangatnya tak pernah pudar. Setiap kali anak-anaknya pulang membawa cucu-cucu kecil yang berlarian di halaman, hatinya terasa penuh.
ADVERTISEMENT
Mereka memanggilnya "Mbah" dengan suara riang, membawa kehangatan di sisa-sisa usianya. Rumah yang dulu terasa sunyi kini dipenuhi tawa dan cerita dari generasi baru. Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, Lasmi selalu menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka dan hati penuh cinta.
Pada suatu malam yang tenang, Lasmi menghembuskan napas terakhir di ranjang kayunya. Di sampingnya, anak-anaknya berkumpul, memanjatkan doa dengan isak tertahan. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, tetapi juga warisan tak ternilai, yaitu keteguhan, kasih sayang, dan semangat pantang menyerah.
Mereka mengenang setiap peluh yang Lasmi curahkan, setiap pengorbanan yang dijalani tanpa keluh kesah. Bagi mereka, kepergian Lasmi bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab meneruskan nilai-nilai yang telah ditanamkan dengan penuh cinta.
ADVERTISEMENT
Di sudut rumah tua itu, potret Lasmi tersenyum hangat, seolah-olah berkata bahwa pengorbanannya tidak pernah sia-sia. Dia telah menyalakan sepuluh cahaya yang akan terus bersinar di dunia, melanjutkan perjalanan hidup dengan cinta dan keteguhan hati yang dia wariskan.
Warisan terbesar Lasmi bukanlah harta benda, melainkan kekuatan untuk bertahan, kasih tak pernah padam, dan keyakinan bahwa kebaikan akan selalu menemukan jalannya. Dan di setiap langkah anak-anaknya, cahaya perjuangan Lasmi akan terus menyala, menerangi jalan yang mereka tempuh.