Tantangan Pertumbuhan Populasi Dunia, Mencari Solusi Berkelanjutan

Odemus Bei Witono
Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.
Konten dari Pengguna
11 Juli 2024 16:27 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Populasi manusia yang semakin padat, sumber: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Populasi manusia yang semakin padat, sumber: Pexels.
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Pertumbuhan populasi dunia telah lama menjadi isu yang mendapat perhatian global. United Nations Development Programme (UNDP) pada 11 Juli 1987 pernah mengangkat pentingnya tonggak 5 miliar jiwa sebagai titik kritis dalam sejarah manusia. Namun, realitas saat ini jauh lebih mengkhawatirkan: populasi dunia telah melampaui angka 8 miliar jiwa.
ADVERTISEMENT
Data dari World Population Review menunjukkan bahwa pada 28 Maret 2024, populasi dunia mencapai 8,1 miliar jiwa. Angka ini jauh melampaui jumlah ideal yang -- menurut penelitian dari Stanford University, California -- seharusnya berada antara 1,5 hingga 2 miliar jiwa. Pertumbuhan populasi luar biasa ini menambah beban bagi bumi, memaksa manusia mencari solusi berkelanjutan guna mengatasi tantangan yang semakin kompleks.
Dengan populasi yang begitu besar, sumber daya alam menjadi semakin terbatas dan diperebutkan oleh banyak pihak. Ketidaksetaraan dalam akses terhadap air, makanan, dan energi menyebabkan ketimpangan ekonomi yang signifikan dan meluasnya kemiskinan di berbagai belahan dunia. Krisis kemiskinan ini adalah konsekuensi langsung dari populasi yang melebihi kapasitas dukungan bumi.
Banyak negara kesulitan memenuhi kebutuhan dasar warganya, yang mengakibatkan peningkatan angka kemiskinan. Situasi ini menuntut perhatian serius dari para pemangku kepentingan global dalam mencari solusi yang tidak hanya mengatasi masalah populasi, tetapi juga memastikan distribusi sumber daya secara lebih adil dan merata.
ADVERTISEMENT
Pertumbuhan populasi yang melampaui 8 miliar jiwa juga memaksa dunia untuk berinovasi dalam produksi makanan. Rekayasa genetika pada tanaman dilakukan guna memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, namun solusi ini bukan tanpa kontroversi. Kondisi ini mencerminkan betapa gentingnya perekonomian dunia ketika jumlah penduduk mencapai batas maksimal.
Beberapa ide ekstrem, seperti membangun kehidupan di bawah laut, di kutub utara dan selatan, atau bahkan di ruang angkasa dan planet lain seperti Mars, mulai dipertimbangkan. Namun, solusi jangka panjang yang lebih realistis adalah mengadopsi langkah-langkah bijak guna mengendalikan angka kelahiran dengan cara sesuai, dan tidak melanggar norma moral-agama.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi masyarakat global mengevaluasi kembali kebijakan-kebijakan yang ada dan mencari solusi berkelanjutan. Edukasi tentang perencanaan keluarga, dan program-program kesejahteraan sosial yang lebih efektif perlu diprioritaskan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, inovasi dalam pertanian dan teknologi pangan perlu terus dikembangkan untuk memastikan keberlanjutan sumber daya. Dengan kerja sama internasional, negara-bangsa dapat mengatasi tantangan ini dan memastikan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Hari Populasi Sedunia yang jatuh pada 11 Juli menjadi pengingat penting, terus bertambahnya jumlah manusia di dunia, secara bersamaan meningkatkan kompleksitas kebutuhan yang semakin beragam. Pertumbuhan populasi menuntut perhatian serius dari seluruh elemen masyarakat guna memastikan bahwa kebutuhan dasar setiap individu terpenuhi, mulai dari pangan, sandang, papan, hingga pendidikan.
Pentingnya kerja sama global dalam mencari solusi atas tantangan ini tidak dapat diabaikan. Kebijakan-kebijakan yang berfokus pada kesejahteraan sosial dan distribusi sumber daya yang adil harus segera diimplementasikan. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa pertumbuhan populasi yang terus meningkat tidak menjadi bencana, melainkan tantangan yang dapat diatasi dengan inovasi dan solidaritas global.
ADVERTISEMENT
Dalam konteks pendidikan, formasi bagi generasi muda menjadi semakin vital mengingat antisipasi masa depan kini lebih rumit dan spekulatif. Jika sebelumnya tren ekonomi dan sosial dapat diprediksi dengan relatif mudah, kini ketidakpastian menjadi hal yang umum terjadi, menciptakan berbagai anomali dalam berbagai aspek kehidupan.
Oleh karena itu, penting bagi setiap negara berinvestasi dalam sistem pendidikan adaptif dan responsif terhadap perubahan zaman, guna membekali anak-anak dengan pengetahuan dan keterampilan relevan dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Ilustrasi, anak-anak memandang dunia dan masa depan, sumber: Pexels.
Data UNICEF menunjukkan bahwa populasi anak berusia di bawah 18 tahun secara global diperkirakan mencapai 2,4 miliar pada tahun 2023. Indonesia sendiri menjadi negara dengan populasi anak terbesar ketujuh di dunia pada tahun itu.
ADVERTISEMENT
Angka ini menunjukkan betapa pentingnya peran negara dan masyarakat dalam menyediakan pendidikan bermutu dan bermartabat bagi setiap anak. Pendidikan berkualitas bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat luas, termasuk orang tua dan guru, perlu berperan aktif dalam mendukung perkembangan anak-anak.
Menurut data UNICEF 2023, di Indonesia terdapat 82,96 juta jiwa anak-anak yang membutuhkan perhatian serius dari negara dan masyarakat. Jumlah yang signifikan ini mengharuskan semua pihak memastikan bahwa anak-anak mendapatkan akses memadai terhadap pendidikan, makanan, minuman, dan kebutuhan dasar lainnya.
Peran orang tua, guru berkualitas, serta pemerintah baik di tingkat wilayah maupun pusat sangat diperlukan guna mengayomi dan memenuhi kebutuhan anak-anak. Dengan demikian, generasi muda dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, siap menghadapi masa depan dengan penuh percaya diri.
ADVERTISEMENT
Semoga dunia, termasuk Indonesia, dapat merespons pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat dengan cara-cara bijaksana. Kemajuan tentu saja dapat terjadi dengan baik, dan Indonesia Emas 2045 dapat diwujudkan jika generasi muda sekarang sungguh disiapkan dalam menjawab tantangan nasional, regional, bahkan global demi kemajuan bangsa dan negara.