Konten dari Pengguna

Transformasi Pendidikan dengan Growth Mindset

Odemus Bei Witono

Odemus Bei Witono

Direktur Perkumpulan Strada, Pengamat Pendidikan, Kolumnis, Cerpenis, Kandidat Doktor Filsafat di STF Driyarkara, Jakarta, dan Penggemar Sepak Bola.

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Odemus Bei Witono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hasil pendidikan growth mindset, sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hasil pendidikan growth mindset, sumber: Pexels

Dalam konteks pendidikan, konsep growth mindset melampaui pemahaman pertumbuhan pikiran secara biologis atau organik dalam artian fisik. Growth mindset mencakup keyakinan bahwa kemampuan intelektual dan keterampilan dapat berkembang melalui usaha, ketekunan, dan pembelajaran.

Dalam perbandingan dengan fixed mindset, di mana kecerdasan dianggap sebagai sesuatu yang tetap dan tidak dapat diubah, konsep growth mindset seringkali menghasilkan perbedaan pandangan yang signifikan.

Dampak dari perbedaan ini menciptakan divisi atau kesenjangan di antara individu yang terbuka terhadap perubahan dan yang lebih enggan menerima perubahan. Perubahan dalam konteks ini bukan hanya merujuk pada perubahan kecil atau evolusi bertahap, tetapi juga dapat mencakup transformasi linier yang berkelanjutan atau bahkan perubahan radikal yang bersifat transformasional.

Ketidaksetujuan antara growth mindset dan fixed mindset dapat menciptakan ketidakcocokan dalam pendekatan terhadap pembelajaran dan pengembangan diri. Dalam analisis Rhew, Piro, Goolkasian, & Cosentino (2018) individu dengan growth mindset cenderung lebih terbuka terhadap tantangan, melihat kegagalan sebagai peluang untuk belajar, dan bersedia untuk mengambil risiko demi pertumbuhan pribadi.

Di sisi lain, mereka yang cenderung memiliki fixed mindset mungkin merasa terbatas oleh pandangan bahwa kemampuan mereka sudah ditentukan dan tidak dapat berubah. Oleh karena itu, pemahaman dan penerapan konsep growth mindset dalam dunia pendidikan dapat menjadi kunci untuk mengatasi kesenjangan antara mereka yang siap berubah dan mereka yang enggan menghadapi perubahan.

Growth mindset dalam analisis Rhew, dkk (2018) merupakan konsep di mana kecerdasan dianggap dapat diubah dan berubah, dan kegagalan dianggap sebagai motivator untuk belajar dan tumbuh.

Dalam pandangan ini, individu yang mengadopsi growth mindset percaya bahwa mereka dapat mengembangkan kemampuan mereka melalui usaha, ketekunan, dan pembelajaran dari kesalahan. Sebaliknya, fixed mindset menyatakan bahwa kecerdasan bersifat tetap dan tidak dapat diubah, dan kegagalan dianggap sebagai indikasi kurangnya keterampilan.

Dalam konteks pendidikan dengan growth mindset, menurut Rhew, dkk (2018) berfokus pada usaha untuk terus mencoba, memanfaatkan umpan balik konstruktif melalui memberikan instruksi yang terintegrasi dengan kurikulum sehari-hari.

Pendidikan dengan pendekatan ini juga memberikan peluang bagi siswa untuk berdiskusi dan berbagi proses serta kesulitan dalam pembelajaran. Pendekatan ini bertujuan untuk mengembangkan sikap pantang menyerah dan kemauan untuk terus belajar.

Ruang diskusi kapan dan dimana pun tetap terbuka, dalam konsep growth mindset, sumber: Pexels.

Sementara itu, dalam fixed mindset, pendidikan lebih cenderung pada instruksi yang spesifik dan berfokus pada pencapaian nilai dan prestasi siswa. Pemahaman terhadap kecerdasan yang tetap dianggap sebagai panduan utama, dan penilaian terhadap hasil tes dan pencapaian menjadi sorotan utama.

Dengan demikian, perbedaan pendekatan ini menciptakan dua lingkungan pembelajaran yang berbeda, di mana growth mindset menekankan pada proses dan perkembangan, sementara fixed mindset lebih berorientasi pada hasil dan prestasi akhir.

Dalam konteks gagasan growth mindset, para pendidik dan tenaga kependidikan dihadapkan pada tuntutan untuk melakukan transformasi diri dan siap berubah demi peningkatan kualitas pembelajaran.

Hal ini melibatkan peningkatan kesadaran akan kemampuan berkembang, ketekunan dalam menghadapi tantangan, dan keyakinan bahwa usaha maksimal dapat menghasilkan pertumbuhan dan pembelajaran yang signifikan.

Transformasi diri ini mencakup kesiapan untuk terus memperbaiki keterampilan dan pengetahuan, serta keterbukaan terhadap ruang diskursus dan diskusi yang memungkinkan pembaruan konsep dan praktik pendidikan.

Ruang diskursus dan diskusi di dunia pendidikan harus senantiasa terbuka, mengingat sifat dasar manusia sebagai makhluk pembelajar. Dengan memfasilitasi lingkungan yang mendukung pertukaran ide, pemikiran, dan pengalaman, para pendidik dapat saling memperkaya wawasan mereka.

Diharapkan bahwa keterbukaan ini tidak hanya menciptakan peluang untuk pertumbuhan pribadi para pendidik, tetapi juga memberikan teladan positif bagi para murid yang dilayani.

Dengan demikian, para pendidik yang menerapkan growth mindset dapat menjadi agen perubahan yang memotivasi dan menginspirasi para murid mereka untuk mengembangkan sikap proaktif terhadap pembelajaran sepanjang hidup.