Jalan Pendidikan: di Indonesia Jalan Itu Terasa Jauh dan Lebih Panjang

Seorang pendidik yang gemar pada isu sosial, politik dan pendidikan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Arvenda Prihanarko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Pendidikan kunci kemajuan bangsa."
Kalimat yang sering diucapkan dalam pidato resmi, tertulis dalam dokumen perencanaan pembangunan, menjadi slogan di berbagai institusi pendidikan. Tidak ada yang membantahnya. Semua sepakat bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya.
Namun, jika semua sepakat, mengapa kualitas pendidikan Indonesia begini-begini saja? Mengapa kita tertinggal dari banyak negara? Dan mengapa guru di sekolah-sekolah masih berjuang menghadapi persoalan yang nyaris sama dari tahun ke tahun?
Jawabannya sederhana, tetapi mungkin kurang enak didengar: Kita lebih sibuk mengurus kebijakan pendidikan daripada membangun pendidikan itu sendiri.
Belajar dari Dunia
Jepang pasca perang. Sekolah dibangun, guru diperkuat, dan pendidikan dijadikan fondasi kebangkitan nasional. Hanya dalam beberapa dekade, Jepang berubah menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia.
Korea Selatan di tahun 1960 tak jauh mirip negara berkembang. Lalu berinvestasi besar-besaran pada pendidikan dasar, vokasi dan universitas. Hari ini, dunia mengenal Samsung, Hyundai, LG, dan berbagai inovasi teknologi lainnya (bahkan K-pop dan drama?) sebagai buah dari investasi jangka panjang pada manusianya.
Demikian Singapura, negara kecil tanpa sumber daya alam itu sadar bahwa satu-satunya kekayaan yang mereka miliki adalah rakyatnya. Karena itu, kualitas guru dijaga sangat ketat, kebijakan pendidikan dibuat konsisten, dan sekolah menjadi pusat pembangunan bangsa.
Negara-negara itu berbeda budaya, berbeda politik, dan berbeda kondisi ekonomi. Tetapi mereka memiliki satu kesamaan: Memperlakukan pendidikan sebagai proyek peradaban, bukan proyek lima tahunan.
Para ahli ekonomi telah lama menjelaskan mengapa hal itu penting. Theodore Schultz dan Gary Becker menyebut pendidikan sebagai investasi modal manusia yang meningkatkan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Peraih Nobel Ekonomi Amartya Sen bahkan menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar membuat seseorang memperoleh pekerjaan, tetapi memperluas kebebasan manusia untuk keluar dari kemiskinan, hidup sehat, dan berpartisipasi dalam kehidupan demokrasi.
Artinya, bangsa yang ingin ekonominya tumbuh harus lebih dulu membangun manusianya.
Bagaimana dengan Indonesia?
Kabarnya kita telah mengalokasikan anggaran pendidikan yang dianggap besar, 20 persen APBN. Namun ternyata hasil PISA terakhir kita: Matematika di angka 366, membaca 359, dan sains 383. Jauh di bawah rata-rata negara OECD yang masing-masing mencapai 472, 476, dan 485. Artinya, sebagian besar peserta didik kita masih kesulitan bernalar, memahami bacaan, dan memecahkan persoalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Begitupun hasil nilai TKA SD-SMP kita yang jauh dari target: Rerata matematika cuma 40, dan Bahasa Indonesia 60. Memprihatinkan.
Ironinya, ketika hasil belajar belum menunjukkan peningkatan yang baik, perhatian kita justru sering habis pada pergantian istilah, perubahan format administrasi, hingga peluncuran program-program baru.
Dalam beberapa dekade terakhir, guru telah berkali-kali menyesuaikan diri dengan perubahan kurikulum, pendekatan pembelajaran, model asesmen, aplikasi pelaporan, hingga berbagai kebijakan baru. Tujuannya sih baik. Pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, penguatan karakter, literasi, numerasi, pembelajaran mendalam, pemanfaatan teknologi, bahkan kecerdasan buatan-semuanya adalah gagasan yang cukup relevan.
Persoalannya Bukan pada Idenya
Persoalannya adalah, "Siapa yang membantu guru menerjemahkan semua ide itu menjadi praktik yang nyata di ruang kelas?"
Saya teringat cerita seorang guru sekolah dasar di pinggir kota. Sepulang mengikuti pelatihan pembelajaran berdiferensiasi, ia datang ke sekolah dengan penuh semangat. Ia ingin setiap anak mendapatkan layanan belajar sesuai kebutuhannya. Namun kenyataan di kelas berkata lain. Di hadapannya ada tiga puluh murid dengan kemampuan yang sangat beragam. Ada yang sudah membaca lancar, ada yang masih mengeja. Waktu belajar terbatas, administrasi menumpuk, sementara berbagai laporan tetap harus diselesaikan.
Suatu hari ia berkata pelan, "Saya tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya belum tahu kapan saya punya cukup waktu untuk melakukannya."
Cerita lain datang dari seorang guru SMP. Dalam beberapa waktu berdekatan ia mengikuti pelatihan tentang kurikulum, asesmen, literasi, penggunaan teknologi, hingga pembelajaran mendalam. Semua pelatihan itu bermanfaat. Namun setelah kembali ke sekolah, ia masih harus mengajar puluhan jam, menyusun perangkat ajar, mengisi berbagai aplikasi, menghadiri rapat, dan menyelesaikan administrasi.
Di sela-sela pekerjaannya ia berkelakar, tetapi nadanya terdengar getir, "Kadang saya merasa lebih banyak mengerjakan dokumen tentang pembelajaran daripada benar-benar memikirkan pembelajaran."
Kedua guru itu bukan menolak perubahan. Mereka justru ingin berubah. Mereka ingin mengajar lebih baik, mencoba pendekatan baru, dan menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna. Yang mereka butuhkan bukan sekadar pelatihan satu atau dua hari, melainkan pendampingan yang berkelanjutan, kebijakan yang konsisten, serta ruang untuk benar-benar fokus mengajar.
Sayangnya, di sinilah jalan panjang pendidikan Indonesia terasa semakin panjang.
Setiap pergantian kepemimpinan hampir selalu melahirkan program baru. Setiap program datang dengan istilah baru. Guru kembali belajar, kembali menyesuaikan diri, kembali mengubah administrasi. Belum sempat satu kebijakan dievaluasi secara utuh, kebijakan berikutnya sudah datang menggantikannya.
Perubahan tentu diperlukan. Dunia memang terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Tantangan abad ke-21 menuntut sekolah ikut beradaptasi. Tetapi perubahan yang terlalu sering, tanpa kesinambungan dan pendampingan yang memadai, justru membuat sekolah sibuk mengejar administrasi perubahan, bukan kualitas perubahan itu sendiri.
Negara-negara yang berhasil membangun pendidikan menunjukkan pola yang berbeda. Mereka tidak sibuk menciptakan istilah baru setiap beberapa tahun. Mereka konsisten memperkuat guru, memperbaiki kepemimpinan sekolah, membangun budaya belajar, dan mengevaluasi kebijakan secara sabar.
Mereka paham bahwa pendidikan bukan perlombaan seratus meter. Pendidikan adalah maraton lintas generasi.
Banyak Guru Hebat di Indonesia
Indonesia sejatinya tidak kekurangan guru hebat. Dari kota besar hingga pelosok negeri, ribuan guru tetap datang ke sekolah dengan dedikasi yang luar biasa. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam, mengajar dengan fasilitas seadanya, bahkan menggunakan uang pribadi untuk membeli media pembelajaran.
Yang sering mereka butuhkan bukan motivasi tambahan. Mereka membutuhkan sistem yang lebih berpihak kepada proses belajar. Mereka membutuhkan kebijakan yang memberi ruang untuk mengajar, bukan sekadar menyelesaikan administrasi. Mereka membutuhkan kepercayaan bahwa kualitas pembelajaran dibangun melalui proses yang konsisten, bukan melalui perubahan yang tergesa-gesa.
Jika Indonesia benar-benar ingin menjadi negara maju pada 2045, maka pertanyaan yang harus dijawab bukan lagi "Program apa lagi yang akan dibuat?" melainkan "Apakah kebijakan yang ada sudah benar-benar membuat guru lebih mudah mengajar dan murid lebih mudah belajar?"
Ukuran keberhasilan pendidikan sangat sederhana. Bukan berapa banyak pelatihan yang diselenggarakan. Bukan berapa banyak aplikasi yang diluncurkan. Bukan pula berapa sering kurikulum diperbarui.
Ukurannya adalah apakah anak-anak Indonesia hari ini belajar lebih baik daripada kemarin.
Dan apakah guru memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi muridnya daripada mengurus dokumen.
Kita terlalu sering "mengganti arah", padahal yang dibutuhkan adalah menjaga langkah. Kita terlalu sibuk melahirkan kebijakan baru, tetapi terlalu sedikit memberi kesempatan kebijakan itu tumbuh. Kita meminta guru menjadi agen perubahan, tetapi lupa bahwa agen perubahan juga membutuhkan waktu, kepercayaan, dan dukungan.
Waktu yang cukup hingga menjadi budaya, kepercayaan yang kuat hingga guru tampil menjadi agen terdepan perubahan. Dan dukungan yang benar-benar memadai hingga guru dapat mengajar dengan nyaman tanpa kecemasan, dan murid dapat belajar dengan semangat dalam budaya belajar yang kondusif dan sehat.
Selalu ada harapan agar jalan panjang pendidikan kita tak sejauh yang kita kira. Semoga.
