Ketika Buku Dikalahkan Layar: Ke Mana Arah Literasi Gen Sekarang?

Master of Management lulusan STIE YKPN Yogyakarta
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Benediktus Solistyo Nasri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahukah kamu? Menurut data BPS (2022), hanya 17,5 % rakyat Indonesia yang rutin membaca buku—artinya lebih dari 80 % tidak membaca sama sekali tiap tahun. Padahal, menurut UNESCO (2013), hanya 1 dari 1.000 orang Indonesia yang memiliki kebiasaan membaca buku berkualitas—itu berarti minat baca buku kita hanya 0,001 %.
Di sisi lain, akses informasi kini sangat mudah. Cukup buka ponsel, kita langsung dapat berita, video, atau warta dalam hitungan detik. Literasi tidak lagi eksklusif dari buku cetak, kini berpindah ke layar gadget. Tapi ada yang berubah: kemampuan membaca secara mendalam (deep reading) kini makin langka. Sebaliknya, kebiasaan skimming, scrolling, dan menyerap informasi singkat jadi norma.
Meskipun teknologi memudahkan akses, saatnya kita bertanya: ke mana arah literasi kita? Pergeseran ini bukan cuma tentang media baca, tapi juga menantang makna sejati literasi—bukan sekadar bisa membaca, tapi memahami, reflektif, dan berpikir kritis. Karena itu, kita harus menyikapinya secara kritis dan adaptif, menjaga esensi literasi sambil memanfaatkan kekuatan teknologi.
Dulu, membaca buku adalah aktivitas yang dihargai tinggi. Di ruang kelas, perpustakaan, atau bahkan di rumah, buku cetak menjadi sahabat utama untuk belajar dan mencari hiburan. Aktivitas membaca dilakukan dengan tenang, mendalam, dan penuh konsentrasi. Literasi bukan hanya soal mengenali huruf, tapi juga memahami makna, membangun imajinasi, dan memperluas cakrawala berpikir.
Namun, kini semuanya berubah. Literasi tidak lagi identik dengan buku fisik. Generasi saat ini—terutama generasi Z dan Alpha—tumbuh dalam dunia serba digital. Mereka terbiasa menyerap informasi lewat layar: membaca teks singkat di media sosial, menonton video informatif di TikTok atau YouTube, hingga mendengarkan podcast. Informasi datang dalam bentuk yang cepat, visual, dan instan.
Budaya membaca pun mengalami pergeseran besar. Membaca yang mendalam (deep reading) mulai tergantikan oleh membaca sekilas (skimming). Daya tahan membaca teks panjang menurun, digantikan oleh kebiasaan berpindah-pindah informasi dengan cepat. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja kini lebih mudah kehilangan fokus ketika membaca teks panjang dibandingkan generasi sebelumnya.
Di sinilah tantangan utama muncul: apakah kita sedang menuju era pasca-literasi, di mana kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif tergantikan oleh reaktivitas dan konsumsi cepat?
Faktor Penyebab Pergeseran Literasi
Dominasi Teknologi dan Internet
Kehadiran internet dan smartphone telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara kita membaca. Dengan satu sentuhan, jutaan informasi tersedia dalam bentuk singkat, cepat, dan interaktif. Hal ini membuat bacaan panjang terasa "berat" dan tidak praktis di tengah gempuran notifikasi dan konten instan.
Budaya Instan dan Ekonomi Atensi
Kita hidup di era yang disebut para pakar sebagai ekonomi atensi—di mana perhatian manusia menjadi komoditas. Aplikasi dan platform digital berlomba-lomba mencuri perhatian lewat konten pendek, cepat viral, dan mudah dicerna. Akibatnya, orang makin terbiasa dengan konsumsi informasi cepat dan kurang sabar untuk membaca secara mendalam.
Minimnya Ekosistem Literasi yang Adaptif
Di banyak sekolah, kegiatan literasi masih kaku dan terpaku pada buku teks serta ujian. Padahal, generasi muda butuh pendekatan baru yang menggabungkan literasi tradisional dan digital. Kurangnya inovasi dalam pembelajaran membuat membaca dianggap sebagai kewajiban, bukan kebutuhan atau kesenangan.
Pengaruh Media Sosial dan Algoritma
Media sosial memang memfasilitasi banyak hal—termasuk berbagi pengetahuan. Tapi, algoritma yang bekerja di baliknya lebih menonjolkan konten yang menghibur dan viral, bukan mendalam dan edukatif. Ini memengaruhi cara berpikir: kita jadi terbiasa dengan informasi permukaan, bukan analisis mendalam.
Pergeseran budaya literasi ke arah digital tentu membawa dampak yang tidak bisa dianggap sepele. Di satu sisi, muncul berbagai dampak negatif yang perlu diwaspadai. Kemampuan membaca secara mendalam mulai terpinggirkan karena kebiasaan skimming dan scrolling yang membuat proses berpikir kritis, analitis, dan reflektif menjadi kurang terasah. Selain itu, tingkat konsentrasi masyarakat, terutama anak muda, cenderung menurun akibat terbiasa berpindah-pindah informasi secara cepat. Mereka menjadi kurang sabar untuk menyimak teks panjang dan kompleks. Hal ini juga berdampak pada kecenderungan untuk mudah terpengaruh oleh informasi dangkal yang tidak tervalidasi. Banyak yang menjadi korban hoaks, percaya pada berita palsu, atau ikut menyebarkan informasi yang belum tentu benar karena tidak terbiasa melakukan verifikasi atau membaca secara kritis.
Namun, di balik tantangan tersebut, ada pula sisi positif yang bisa kita petik. Teknologi digital memungkinkan akses terhadap pengetahuan menjadi lebih luas, cepat, dan tanpa batas geografis. Orang dapat membaca e-book, mendengarkan audiobook, atau belajar melalui video edukatif kapan saja dan di mana saja. Selain itu, bentuk literasi pun menjadi lebih beragam. Tidak hanya teks tertulis, tetapi juga dalam bentuk visual, audio, dan multimedia. Generasi sekarang punya potensi untuk mengembangkan kemampuan multiliterasi, yakni memahami dan memanfaatkan berbagai bentuk informasi dengan efektif. Tentu saja, hal ini hanya bisa dicapai jika arah penggunaan teknologi dikendalikan dengan kesadaran dan tujuan yang benar.
Melihat kondisi ini, dibutuhkan berbagai solusi strategis agar budaya literasi tetap hidup dan berkembang secara sehat. Salah satu langkah utama adalah melakukan redefinisi terhadap makna literasi itu sendiri. Literasi di era digital bukan lagi sekadar kemampuan baca-tulis, melainkan mencakup kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, serta bersikap bijak terhadap arus informasi digital. Di samping itu, peran keluarga dan sekolah sangat krusial. Orang tua dan guru harus menjadi teladan yang menunjukkan bahwa membaca itu menyenangkan dan bernilai. Lingkungan belajar harus dirancang agar generasi muda tidak merasa terbebani, melainkan terinspirasi untuk membaca.
Teknologi juga harus dijadikan mitra dalam meningkatkan literasi, bukan malah menggantikannya. Konten-konten digital yang mendidik dan interaktif bisa dijadikan alat untuk membangkitkan minat baca dan memperkuat pemahaman. Gerakan-gerakan literasi berbasis komunitas juga patut digalakkan. Misalnya, melalui taman baca, diskusi buku, klub literasi daring, atau kegiatan menulis bersama yang melibatkan berbagai kalangan. Jika semua pihak, mulai dari individu, keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah, bisa berkolaborasi dalam membangun ekosistem literasi yang kuat, maka kita tidak hanya mampu beradaptasi dengan zaman, tetapi juga menjaga esensi literasi itu sendiri.
Budaya literasi memang tengah mengalami pergeseran besar. Buku tak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, dan layar telah mengambil peran dominan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi ini bukan alasan untuk menyerah. Justru inilah saat yang tepat untuk memperbarui makna literasi di zaman yang berubah.
Teknologi bukanlah musuh—ia adalah alat. Dengan kesadaran, pendidikan, dan teladan, kita bisa mengarahkan budaya membaca menuju kualitas, bukan hanya kuantitas. Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ditentukan bukan oleh seberapa canggih teknologinya, tetapi oleh seberapa dalam warganya mampu membaca, berpikir, dan bertindak bijak.
Benediktus S. Nasri M.M
