Kisah Warga Klaten yang Tak Punya Tetangga karena Proyek Tol Solo-Yogyakarta
·waktu baca 2 menit

KLATEN - Keluarga Sumanto (58) kini harus hidup menyendiri tanpa tetangga, di RT 14 RW 05 Dusun Ngenthak, Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.
Hal ini terjadi lantaran belasan rumah di sekitar kediaman Sumanto tersebut telah rata dengan tanah, akibat terdampak proyek pembangunan tol Solo-Yogyakarta.
“Ada 18 keluarga di sini yang terdampak tol sehingga harus pindah,” tutur Sumanto, Kamis (27/01/2022).
Menurut Sumanto, rumahnya tidak terkena pembebasan lahan untuk pembangunan tol Solo-Yogyakarta, karena terletak di pinggir dusun.
Alhasil, rumah yang ditinggali keluarga Sumanto sejak 2013 itu menjadi satu-satunya rumah yang tersisa di wilayah tersebut.
“Selama tinggal di sini, istri saya berjualan soto. Dulu waktu masih banyak tetangga, rumah ini sering digunakan nongkrong anak-anak muda sampai malam. Tapi sekarang kalau sore warungnya sudah ditutup.”
Di belakang rumah Sumanto, sebenarnya masih berdiri satu musala. Namun rencananya tempat ibadah tersebut tak lama lagi dirobohkan.
“Tetangga saya sudah berpencar ke beberapa tempat. Ada yang pindah ke Gawok, Delanggu, Juwiring dan Segaran,” beber ayah 2 anak ini.
Meski rumahnya tetap berdiri, Sumanto mengakui jika sawah seluas 980 m2 miliknya ikut terdampak pembangunan tol Solo-Yogyakarta.
Ia memperoleh kompensasi senilai Rp 625 juta dari pembebasan sawah itu.
"Uangnya saya gunakan untuk membeli sawah pengganti seharga Rp 300 juta dan biaya pengurusan Rp 14 juta. Sisanya untuk memperbaiki rumah ini. Sekarang sudah habis uangnya," urai Sumanto.
Sumanto belum berencana pindah dari tempat itu dan tidak mempermasalahkan ketiadaan tetangga di sekitar rumahnya.
Di sisi lain Sumanto mengakui, jeda waktu antara sosialisasi pembangunan jalan tol dan proses pembebasan lahan di Dusun Ngentak relatif singkat.
“Awalnya kami dapat undangan (sosialisasi) dari kelurahan. Katanya di sini mau dibangun tol. Semua warga lalu setuju, karena akan diberi ganti untung,” kata dia.
Tak berselang lama, proses pengukuran dan pembebasan lahan terdampak pun dimulai. “Ternyata betul setelah (sosialisasi) itu kami didatangi pihak kecamatan, kabupaten dan BPN," jelas Sumanto.
(Tara Wahyu)
