Konten Media Partner

Usai Hujat Pemerintah Lewat Baliho, Kepala Desa di Sragen Ngamuk di Hajatan

Bengawan Newsverified-green

·waktu baca 1 menit

Kepala Desa Jenar, Samto menghadiri hajatan tanpa mengenakan masker. (FOTO: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
Kepala Desa Jenar, Samto menghadiri hajatan tanpa mengenakan masker. (FOTO: Istimewa)

SOLO-Kelapa Desa Jenar, Kabupaten Sragen, Samto tidak berhenti membuat ulah. Setelah sempat menghujat pemerintah lantaran jengkel dengan PPKM Darurat, kini kepala desa itu kembali berulah dengan mengamuk di hajatan.

Aksi Samto terekam video dan diunggah di Instagram oleh akun @sragenkita. Di video tersebut Samto terlihat menghadiri sebuah hajatan.

Lantaran dihadiri banyak tamu, hajatan itu lantas dibubarkan oleh Satgas Penanganan COVID-19 Kabupaten Sragen. Samto yang hadir dalam jamuan itu lantas mengamuk dengan menggulingkan meja yang penuh dengan makanan dan minuman di atasnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban (Tramtib) Kecamatan Jenar, Kardiyono mengakui adanya kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa itu terjadi pada Jum'at (16/07/2021).

embed from external kumparan

Menurutnya, petugas di Kecamatan Jenar dan Polres Sragen mendapatkan informasi adanya kegiatan hajatan itu. Mereka lantas mendatangi lokasi dan menemukan adanya kegiatan hajatan dengan banyak tamu.

"Kami menyampaikan agar kegiatan dibubarkan karena melanggar PPKM Darurat. Tapi saat itu kepala desa (Samto) malah menolak," katanya, Sabtu (17/07/2021). Hal itu membuat salah satu polisi lantas menghampiri Samto untuk melakukan pendekatan.

Namun, Samto justru emosi dan menggulingkan meja yang berisi minuman dan makanan. "Piring dan gelas pecah berantakan," kata Kardiyono. Dia mengaku sangat menyesalkan ulah Samto yang tidak mendukung upaya pemerintah dalam menekan penularan wabah COVID-19.

Sebelumnya, Samto sempat menarik perhatian masyarakat dengan memasang baliho yang berisi hujatan dan umpatan kepada pemerintah lantaran memberlakukan PPKM Darurat. Dia menyebut kebijakan itu membuat masyarakat sengsara.

(Tara Wahyu)