Mengapa Kebakaran Hutan di Indonesia Selalu Berulang Tiap Tahun?

Nama : Kent Setiadi Wijaya Kota Lahir : Bandung Tanggal Lahir : 31 Desember 2010 Status : Pelajar di SMA Trinitas Hobi : Mengedit video
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kent Setiadi Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap kemarau tiba, kabut asap pekat kembali menyelimuti wilayah Indonesia. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seolah menjadi agenda tahunan yang tak kunjung usai.
Namun, benarkah musim kemarau menjadi satu-satunya penyebab utama?
Manusia Pemicu Utama Karhutla
Faktor alam seperti kemarau panjang, petir, atau lahar gunung berapi memang bisa memicu api. Namun, penyebab terbesar karhutla tetap berasal dari ulah manusia.
Pembukaan lahan perkebunan dengan cara membakar masih marak dilakukan oknum warga hingga perusahaan besar karena biayanya jauh lebih murah. Masalah ini diperparah oleh konflik lahan, lemahnya penegakan hukum, serta kelalaian sepele seperti membakar sampah, membuang puntung rokok sembarangan, atau lupa memadamkan api unggun.
Manfaat vs Bencana
Secara alami dan terkontrol, api sebenarnya punya manfaat untuk membersihkan ranting mati, membasmi hama, serta menyuburkan tanah lewat abu sisa pembakaran. Karena alasan ini, sebagian petani sering memanfaatkan abu alami sebelum mulai menanam.
Namun, jika api membakar tanpa kendali, manfaat tersebut berubah menjadi bencana. Dampaknya sangat berbahaya, mulai dari merusak habitat hewan dan tumbuhan, meningkatkan polusi udara, hingga membuat tanah jadi gersang dan rawan longsor.
Bagi kesehatan manusia, asap beracunnya dapat memicu penyakit pernapasan seperti ISPA dan asma, terutama pada bayi, anak-anak, serta lansia. Selain itu, jarak pandang yang tertutup kabut asap juga mengganggu jalur transportasi dan melumpuhkan kegiatan ekonomi warga.
Bahaya "Api dalam Sekam" di Lahan Gambut
Dalam wawancara Kamis (03/09/2026), Bapak Irwan, Guru Geografi SMA Trinitas, menjelaskan bahwa tanah gambut kaya akan kandungan karbon dari sisa tumbuhan. Saat musim kemarau panjang dan El Niño datang, permukaan gambut menjadi sangat kering dan panas. "Kondisi tanah yang kering ini memicu munculnya 'api dalam sekam', yaitu api yang membakar bagian dalam tanah tanpa kelihatan dari luar. Akibatnya, hutan gambut jadi gampang banget terbakar, apinya susah dipadamkan, dan bikin ekosistem sekitar rusak parah," jelas Pak Irwan.
Mencegah Lebih Penting dari Memadamkan
Penanganan karhutla selama ini sering terlambat karena terlalu fokus pada aksi pemadaman saat api sudah membesar. Padahal, memadamkan lahan gambut yang terbakar membutuhkan biaya dan sumber daya yang sangat raksasa.
Pemerintah dan masyarakat harus menggeser fokus pada langkah pencegahan sejak awal. Solusi utamanya adalah menjaga kelembapan gambut lewat pembasahan ulang (rewetting), menegakkan hukum secara tegas tanpa pandang bulu, serta mengedukasi warga agar tidak lagi menggunakan metode bakar lahan.
Jangan tunggu terbakar baru bergerak. Mari fokus menjaga hutan kita secara konsisten.
Christopher Evan Susilo, Kent Setiadi Wijaya, Vickenson Manuel Yonathan (Siswa SMA Trinitas)
