Konten dari Pengguna

10 Faktor Penyebab Resesi, Pengertian, dan Dampaknya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi faktor penyebab resesi. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi faktor penyebab resesi. Foto: Pexels

Istilah resesi merujuk pada penurunan aktivitas ekonomi secara signifikan selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Karena dapat menimbulkan krisis multidimensi, maka penting untuk memahami faktor penyebab resesi.

Dengan mengenali akar masalahnya, pemerintah dan pelaku bisnis dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk meminimalkan dampak. Pemahaman ini juga membuat masyarakat luas lebih siap dalam menghadapi ketidakpastian situasi ekonomi di masa depan.

Lantas, apa saja faktor-faktor pemicu resesi ekonomi?

Pengertian Resesi

Ilustrasi mengenal resesi. Foto: Pexels

Melansir jurnal Resesi Ekonomi dan Implikasinya dari Perspektif Hukum Dagang Pasca-Pandemi Tahun 2023 karya Muhammad Raja Pramudita dkk., resesi merupakan periode penurunan ekonomi sementara lantaran aktivitas bisnis dan industri yang lesu. Hal ini biasanya terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) anjlok selama dua kuartal berturut-turut.

Resesi juga dapat dimaknai sebagai perlambatan dalam kegiatan ekonomi. Dalam indikator makroekonomi secara umum, gejala resesi sebenarnya sudah mulai nampak dan ditetapkan sejak PDB mengalami kontraksi selama dua kuartal.

Faktor Penyebab Resesi

Resesi bermula dari pelemahan ekonomi global yang berpengaruh terhadap perekonomian suatu negara. Hal ini menunjukkan bahwa saat ekonomi suatu negara memiliki ketergantungan yang tinggi pada negara lain, maka risiko penularan resesi di negara tersebut akan semakin besar.

Berikut ini beberapa faktor utama yang dapat memicu terjadinya resesi:

1. Kurs

Merujuk pada jurnal Faktor-Faktor Penentu Resesi di Indonesia karya Tria Apriliana, kurs atau nilai tukar merupakan jumlah nilai mata uang dalam negeri yang dibutuhkan untuk memperoleh satu unit mata uang asing.

Saat nilai tukar mata uang domestik terdepresiasi (melemah) secara tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS), biaya impor bahan baku akan melonjak drastis.

Hal ini menurunkan produktivitas industri dalam negeri dan menekan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi faktor krusial yang harus diperhatikan oleh para pemangku kepentingan.

2. Suku Bunga Domestik

Tingkat suku bunga merupakan harga dari pemanfaatan modal dan investasi (loanable funds). Kebijakan suku bunga tinggi yang diambil oleh bank sentral dapat berimbas pada berbagai sektor ekonomi, terutama yang berkaitan dengan arus keuangan di perbankan.

Akibatnya, minat investasi dan konsumsi masyarakat menurun. Apabila berlangsung lama, maka dapat memperlambat roda perekonomian.

3. Inflasi

Inflasi yang terlalu tinggi dan tidak terkendali akan mengikis daya beli masyarakat. Ketika masyarakat mulai membatasi konsumsi karena harga barang yang tidak terjangkau, aktivitas produksi di sektor bisnis akan turun.

4. Harga Minyak Mentah Dunia

Minyak mentah (crude oil) adalah salah satu komoditas energi yang menjadi motor penggerak berbagai aktivitas industri dan transportasi.

Ketika terjadi kelangkaan atau lonjakan harga minyak mentah dunia, biaya produksi di berbagai sektor akan meningkat tajam. Beban biaya yang membengkak ini dapat memicu resesi.

5. Deflasi

Deflasi yang berlebihan ditandai dengan penurunan harga barang secara terus-menerus, yang memicu masyarakat untuk menunda pembelian hingga harga mencapai titik terendah.

Akibatnya, pendapatan dunia usaha merosot tajam, volume produksi berkurang, dan pemecatan tidak dapat dihindari.

6. Perubahan Teknologi

Inovasi teknologi yang cepat dapat membuat industri lama yang tidak melakukan adaptasi menjadi tertinggal dan gulung tikar.

Perubahan ini memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Dengan demikian, pada akhirnya dapat melemahkan daya beli masyarakat.

7. Penambahan Utang

Jumlah utang yang terlalu besar membuat institusi dan masyarakat kesulitan untuk membayar kembali kewajibannya.

Alokasi dana yang habis hanya untuk mencicil utang akan memangkas belanja dan investasi. Akibatnya, roda ekonomi akan cenderung melambat.

8. Guncangan Ekonomi yang Mendadak

Peristiwa besar yang tidak terduga seperti pandemi atau konflik geopolitik dapat melumpuhkan rantai pasok global.

Ketidaksiapan pasar dalam menghadapi situasi darurat ini memicu kepanikan ekonomi yang berujung pada resesi.

9. Gelembung Aset

Harga aset seperti saham atau properti yang melonjak tidak wajar akibat spekulasi berlebih suatu saat pasti akan pecah.

Ketika gelembung tersebut pecah, kekayaan pasar hilang dalam sekejap dan memicu kepanikan finansial.

10. Tingkat Pengangguran

Ketika angka pengangguran melonjak, pendapatan masyarakat secara keseluruhan akan merosot drastis. Penurunan pendapatan ini otomatis memangkas daya beli dan tingkat konsumsi rumah tangga.

Dampak Resesi

Berdasarkan jurnal Resesi dan Dampaknya terhadap Perekonomian Indonesia karya Bahtiar Effendi dan Nabila Kurnia Pangestuti, resesi berimbas langsung pada masyarakat dalam hal berikut:

  • Kenaikan harga bahan pangan pokok.

  • PHK massal.

  • Bertambahnya jumlah pengangguran.

  • Peningkatan harga komoditas energi.

  • Peningkatan kemiskinan.

Itulah penjelasan mengenai beberapa faktor penyebab resesi, pengertian, hingga dampaknya. Dengan memahami indikator-indikator tersebut, setiap orang bisa lebih waspada dalam membaca arah pergerakan ekonomi dan mengantisipasi risiko krisis sejak dini.

Baca Juga: Apa Itu Resesi Ekonomi? Ini Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

(MDP)