Konten dari Pengguna

Apa Itu Resesi Ekonomi? Ini Pengertian, Penyebab, dan Dampaknya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa Itu Resesi Ekonomi. Foto: Pexels/David McBee
zoom-in-whitePerbesar
Apa Itu Resesi Ekonomi. Foto: Pexels/David McBee

Resesi ekonomi menjadi salah satu ancaman serius bagi stabilitas suatu negara. Memahami apa itu resesi ekonomi serta faktor-faktor yang memicunya menjadi penting agar kita dapat mengambil langkah antisipatif dalam menghadapi situasi tersebut.

Mengutip dari website resmi pemerintahan https://fiskal.kemenkeu.go.id, resesi adalah suatu kondisi dimana terjadinya penurunan aktivitas ekonomi umum secara signifikan di suatu wilayah tertentu yang ditandai dengan terkontraksinya PDB selama dua kuartal atau lebih secara berturut-turut.

Daftar isi

Apa Itu Resesi Ekonomi? Ini Pengertiannya

Apa Itu Resesi Ekonomi. Foto: Pexels/David McBee

Berikut adalah pengertian dari apa itu resesi ekonomi. Pengertian resesi ekonomi adalah periode penurunan ekonomi sementara ketika aktivitas bisnis dan industri menurun, biasanya terjadi penurunan PDB selama dua kuartal berturut-turut. Arti kata resesi juga dapat diartikan sebagai perlambatan atau penurunan tajam dalam kegiatan ekonomi.

Pengurangan besar dalam pengeluaran biasanya mengarah pada resesi. Melihat perkembangan dan pengaruh ekonomi tidak hanya sebatas lingkup ekonomi itu sendiri. Akan tetapi ekonomi juga bisa terdampak dari budaya dan kesehatan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri paling cepat terjadi pada tahun 1980, tumbuh 9,88 persen, dan penurunan terparah adalah -13,13 persen pada tahun 1998.

Kondisi perekonomian terkini, ketika Indonesia terperosok dalam resesi, tampak pada pertumbuhan ekonomi triwulan III tahun 2020 yang mengalami penurunan sebesar -3,49 persen setelah -5,32 persen pada triwulan II 2020 (y/y).

Diukur berdasarkan industri, 64,13 persen PDB didominasi oleh industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Di sisi pengeluaran, rumah dan investasi menyumbang 88,43 persen.

Di tengah gejolak ekonomi global yang masih berlangsung, perekonomian Indonesia tetap tangguh dan memiliki prospek yang baik.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kuat antara 4,5 hingga 5,3 persen pada tahun 2023.

Selanjutnya meningkat menjadi 4,7 hingga 5,5 persen pada tahun 2024, didukung oleh berlanjutnya konsumsi swasta, investasi, dan ekspor yang positif di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Inflasi indeks harga konsumen (IHK) diperkirakan akan melambat dan kembali ke sasarannya sebesar 3,0 ± 1% pada tahun 2023 dan 2,5 ± 1% pada tahun 2024.

Inflasi inti diperkirakan akan kembali lebih awal pada semester pertama tahun 2023, jika inflasi harga tetap di bawah.

Pengendalian impor (inflasi impor) pada nilai tukar rupee yang stabil dan respons kebijakan moneter yang berwawasan ke depan, berwawasan ke depan, dan berwawasan ke depan.

Koordinasi kebijakan yang erat dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) berdampak kuat terhadap pengendalian inflasi.

Sinergi dan inovasi menjadi kunci kinerja perekonomian Indonesia tahun 2023 dan 2024 yang akan menopang ketahanan dan pemulihan ekonomi.

Hal tersebut disampaikan Perry Warjiyo, Direktur Utama Bank Indonesia, pada Rapat Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2022 yang diselenggarakan dalam format hybrid di Jakarta.

OJK secara umum resesi ekonomi dapat dimaknai sebagai suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara mengalami penurunan berdasarkan dari produk domestik bruto (PDB), jumlah pengangguran, maupun pertumbuhan ekonomi yang bernilai negatif selama dua kuartal berturut-turut.

“Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati S.E. M.Sc Ph.D. menjelaskan berulang kali bahwa kondisi ekonomi global sedang tidak baik- baik saja. Hal ini tercermin dari adanya ancaman resesi ekonomi yang menjadi hantu menyeramkan bagi seluruh negara di dunia, tak terkecuali bagi Indonesia”.

“Menurut data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (KUKM) tahun 2018, jumlah pelaku UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99 persen dari jumlah pelaku usaha di Indonesia. UMKM tersebut didominasi oleh pelaku usaha mikro yang berjumlah 98,68 persen dengan daya serap tenaga kerja sekitar 89 persen. Sementara itu sumbangan usaha mikro terhadap PDB hanya sekitar 37,8 persen”.

Berdasarkan data di atas, Indonesia memiliki potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UKM khususnya usaha mikro sangat besar dan kemampuan menyerap tenaga kerja sangat besar.

Dari tahun ke tahun, sektor ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia. Seiring bertambahnya jumlah UKM setiap tahunnya, secara tidak langsung jumlah pengangguran juga berkurang.

Masalah lain bagi UKM adalah ketergantungan mereka pada nilai dolar yang kecil. Sehingga naik turunnya nilai dolar di dunia tidak berdampak besar terhadap pergerakan UKM di Indonesia.

Faktor Penyebab Resesi Ekonomi di Indonesia

Apa Itu Resesi Ekonomi. Foto: Pexels/Pixabay

Berikut adalah beberapa faktor pemicu resesi ekonomi global yang dikhawatirkan akan terjadi.

  1. Pandemi Covid-19, walaupun sudah mereda dan banyak negara yang telah membebaskan warganya untuk beraktivitas seperti biasa. Namun pada saat meluasnya wabah Covid-19 pada awal tahun 2020 sampai dengan awal tahun ini, aktivitas ekonomi global menurun drastis. Setiap negara lebih fokus untuk menangani Covid-19 dan menerapkan pembatasan aktivitas, termasuk ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi secara global pun mengalami kontraksi. Pada saat yang sama, banyak negara melakukan proteksi atas hasil pangan untuk mengantisipasi wabah Covid-19 yang berkepanjangan dan berakibat pada meningkatnya harga pangan karena kurangnya suplai. Indonesia juga sempat mengalami resesi ekonomi pada akhir tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

  2. Perang Rusia-Ukraina yang berlangsung, telah menghilangkan PDB global hingga USD2,8 triliun. Perang Rusia-Ukraina mengganggu rantai pasok global sehingga menimbulkan krisis terutama di sektor pangan dan energi, yang pada akhirnya mengakselerasi laju inflasi. Perang Rusia-Ukraina merupakan faktor utama penyebab terjadinya resesi ekonomi global.

  3. Tingginya tingkat inflasi. Dalam laporan World Economic Outlook edisi Oktober 2022, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan laju inflasi global mencapai 8,8% pada 2022 dan akan menurun pada tahun 2023 yaitu menjadi 6,5%. Inflasi Indonesia menurut Bank Indonesia diproyeksikan menurun dan kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024. Menyikapi hal ini, beberapa negara sudah menarik insentif moneter dan fiskalnya sebagai upaya mengatasi risiko dari inflasi yang terus meningkat.

  4. Kenaikan suku bunga acuan. Bank sentral di seluruh dunia secara bersamaan menaikkan suku bunga acuan sejak semester kedua tahun ini, seperti Bank of England dan the Federal Reserve (The Fed). Tekanan inflasi di negara Barat dan AS membuat bank sentral terus menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi.

Dampak Resesi Ekonomi di Indonesia

Apa Itu Resesi Ekonomi. Foto: Pexels/John Guccione www.advergroup.com

Berikut adalah beberapa dampak dari resesi ekonomi di Indonesia.

  1. Perlambatan ekonomi akan membuat sektor riil menahan kapasitas produksinya sehingga Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akan sering terjadi bahkan beberapa perusahaan mungkin menutup dan tidak lagi beroperasi.

  2. Kinerja instrumen investasi akan mengalami penurunan sehingga investor cenderung menempatkan dananya pada bentuk investasi yang aman.

  3. Ekonomi yang semakin sulit pasti berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat karena mereka akan lebih selektif menggunakan uangnya dengan fokus pemenuhan kebutuhan terlebih dahulu.

  4. Akan muncul kesenjangan antara orang kaya dan miskin serta akan semakin terasa.

  5. Jumlah angka pengangguran yang kian meningkat, sehingga pemerintah dituntut untuk menemukan solusi agar lapangan kerja dapat menyerap tenaga kerja kembali.

  6. Pengeluaran pemerintah semakin besar karena pembangunan harus terus dilakukan, sehingga salah satu langkah taktisnya adalah pemerintah harus menambah utang untuk mengakomodir biaya pembangunan tersebut.

Resesi ekonomi bukan hanya isu makroekonomi, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah, dunia usaha, dan individu perlu bersiap menghadapi tantangan ini dengan kebijakan yang tepat dan strategi keuangan yang bijak.

Dengan memahami penyebab dan dampaknya, kita dapat lebih siap dalam mengelola risiko serta menciptakan ketahanan ekonomi yang lebih kuat di masa depan. Menghadapi apa itu resesi ekonomi bukanlah hal yang mudah, tetapi dengan langkah yang tepat, pemulihan ekonomi dapat tercapai secara bertahap.

Kumparan The Economic Insights akan hadir pada Rabu, 19 Februari 2025 di The Westin, Jakarta. Dengan mengusung tema Navigating Uncertainty, Steering Growth, kumparan menghadirkan para pemangku kepentingan dari pemimpin industri, profesional, akademisi, dan pemerintahan untuk ikut serta dalam ruang diskusi dan berbagi wawasan tentang kondisi perekonomian global dan lokal serta upaya mencapai pertumbuhan ekonomi yang optimal.

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Daftar sekarang di kum.pr/register. (Dista)

Baca Juga: 6 Contoh Ekonomi Kreatif dan Pengertiannya