3 Dampak Perubahan Kebijakan dan Sistem Kerja yang Berulang dalam Waktu Singkat

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dampak perubahan kebijakan dan sistem kerja yang berulang dalam waktu singkat dapat berimbas pada berbagai aspek. Oleh karena itu, penting bagi manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan suportif.
Langkah ini sangat diperlukan untuk menjaga stabilitas operasional perusahaan di tengah situasi yang dinamis. Selain itu, lingkungan kerja yang baik akan meminimalkan risiko tekanan kerja yang berpotensi memengaruhi kinerja jangka panjang seluruh tim.
Dampak Perubahan Kebijakan dan Sistem Kerja yang Berulang dalam Waktu Singkat
Perubahan kebijakan dalam organisasi dapat terjadi kapan saja, karena adanya dorongan dari faktor internal maupun eksternal. Namun, perubahan yang terjadi berulang dalam kurun waktu relatif singkat tentu dapat berdampak pada berbagai hal.
Melansir jurnal Pengaruh Perubahan Kebijakan Organisasi terhadap Sikap Resistensi pada Karyawan karya Nazmah, ada banyak jenis perubahan kebijakan organisasi, di antaranya kebijakan struktural, kebijakan finansial, kebijakan sistem imbalan, dan kebijakan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Selain itu, perubahan kebijakan juga mencakup modifikasi sistem kerja karyawan.
Berikut ini efek negatif dari transformasi kebijakan dan sistem kerja yang berulang kali dan cepat pada perusahaan:
1. Memengaruhi Produktivitas Pekerja
Menurut jurnal Dampak Perubahan terhadap Jam Kerja dan Stres Kerja terhadap Kinerja Karyawan karya Indri Wahyuni dkk., sistem kerja shift, terutama shift malam, berdampak pada ritme sirkadian tubuh. Hal ini memengaruhi kualitas fisik dan kesehatan karyawan.
Karyawan shift malam lebih rentan menderita kelelahan kronis, gangguan metabolisme, dan penurunan performa kognitif. Efek ini tidak hanya memengaruhi produktivitas pribadi, tetapi juga meningkatkan risiko kesalahan dan kecelakaan kerja.
2. Menimbulkan Konflik pada Kehidupan Sosial Pekerja
Perubahan jam kerja juga berimbas pada kehidupan sosial dan keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) karyawan. Ketika karyawan mempunyai waktu kerja yang terlalu panjang, interaksi sosialnya menjadi terbatas dan bisa menimbulkan perasaan terisolasi.
Karyawan yang mengalami konflik kehidupan sosial cenderung memiliki level stres lebih tinggi dan loyalitas lebih rendah kepada organisasi. Oleh karena itu, penyesuaian jam kerja sebaiknya dapat mempertimbangkan kebutuhan sosial karyawan.
3. Turnover (Pergantian Tenaga Kerja) di Perusahaan Menjadi Tinggi
Berdasarkan laporan Pengaruh Work Overload Stress Kerja dan Kompensansi terhadap Turn Over Intention pada Perusahaan CV. Sumber Rezeki oleh Maharsa Vadriano, ketika karyawan menerima beban kerja yang berlebihan, merasa stres akibat tekanan pekerjaan, dan merasa bahwa kompensasi yang diterima tidak memadai, maka keinginan untuk mencari peluang kerja lain akan meningkat secara signifikan.
Kombinasi dari ketiga faktor tersebut dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat dan tidak memuaskan. Pada akhirnya, karyawan terdorong untuk mencari alternatif yang lebih baik di luar organisasi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perubahan Kebijakan Perusahaan
Terdapat beberapa faktor dalam lingkungan bisnis organisasi yang turut memengaruhi penetapan kebijakan organisasi, di antaranya:
Kondisi pasar.
Kondisi sosial, politik, dan ekonomi.
Perkembangan teknologi.
Regulasi pemerintah.
Tuntutan global atau pelanggan.
Itulah penjelasan mengenai dampak perubahan kebijakan dan sistem kerja yang berulang dalam waktu singkat. Mengingat efek yang ditimbulkan sangat memengaruhi performa pekerja maupun organisasi, maka penting bagi manajemen untuk merencanakan perubahan kebijakan dengan matang dan menyediakan masa transisi.
Baca Juga: Kenali Stres Kerja, Sumber, dan Konsekuensinya
(MDP)
