4 Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi dalam Akuntansi

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia akuntansi manajemen, istilah amortisasi dan depresiasi digunakan untuk menggambarkan alokasi biaya aset. Meski keduanya memiliki tujuan yang serupa, ada sejumlah hal yang membedakan antara amortisasi dan depresiasi.
Perbedaan amortisasi dan depresiasi ini bisa dilihat dari pengertian, jenis aset yang terlibat, hingga penerapannya. Simak uraian di bawah ini untuk mengetahui penjelasan lebih lengkap mengenai amortisasi dan depresiasi.
Pengertian Amortisasi dan Depresiasi
Dikutip dari laman Investopedia, amortisasi adalah proses alokasi biaya aset tak berwujud selama masa manfaatnya. Aset tak berwujud merupakan aset yang tak memiliki bentuk fisik, tetapi memiliki nilai ekonomi, seperti hak paten, merek dagang, atau lisensi.
Sementara itu, depresiasi merujuk pada proses alokasi biaya aset berwujud selama masa manfaatnya. Aset berwujud merupakan aset fisik yang digunakan dalam operasi bisnis, seperti mesin, kendaraan, atau bangunan.
Baca Juga: Perbedaan Cash Basis dan Accrual Basis dalam Akuntansi
Contoh Penerapan Amortisasi dan Depresiasi
Merujuk buku Akuntansi Manajemen yang diterbitan oleh Jejak Pustaka, berikut contoh umum penerapan amortisasi dan depresiasi dalam suatu perusahaan.
Amortisasi
Suatu perusahaan membeli lisensi perangkat lunak senilai Rp100 juta dengan masa manfaat lima tahun. Maka, setiap tahun, perusahaan akan mencatat amortisasi sebesar Rp20 juta (Rp100 juta ÷ 5 tahun).
Depresiasi
Suatu perusahaan membeli mesin produksi senilai Rp500 juta dengan masa manfaat 10 tahun, maka setiap tahunnya perusahaan mencatat depresiasi sebesar Rp50 juta (Rp500 juta ÷ 10 tahun).
Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi
Berdasarkan penjabaran di atas dan sumber lainnya, perbedaan amortisasi dan depresiasi dalam akuntansi manajemen dapat dirincikan sebagai berikut.
1. Jenis Aset
Amortisasi: Aset tidak berwujud.
Depresiasi: Aset berwujud.
2. Metode Alokasi
Amortisasi: Menggunakan metode garis lurus.
Depresiasi: Beragam, bisa menggunakan metode garis lurus atau saldo menurun.
3. Contoh Aset
Amortisasi: Hak paten, merek dagang, lisensi.
Depresiasi: Mesin, kendaraan, bangunan.
4. Pencatatan Akuntansi
Amortisasi: Tidak melibatkan akumulasi fisik aset.
Depresiasi: Melibatkan akumulasi penyusutan aset.
Fungsi Amortisasi dan Depresiasi
Meskipun berbeda dalam penerapan, amortisasi dan depresiasi memiliki fungsi yang sama. Menurut Dr. Herie Saksono, M.Si, dkk. dalam bukunya yang bertajuk Pengantar Akuntansi, berikut fungsi amortisasi dan depresiasi.
Menggambarkan nilai ekonomi Aset. Keduanya membantu perusahaan mencerminkan nilai aset yang sebenarnya seiring waktu.
Membantu perencanaan keuangan. Dengan mencatat amortisasi dan depresiasi, perusahaan dapat merencanakan penggantian aset di masa depan.
Mengurangi beban pajak. Amortisasi dan depresiasi dianggap sebagai beban dalam laporan keuangan, sehingga dapat mengurangi laba kena pajak perusahaan.
(NDA)
