5 Dampak Krisis Ekonomi 1997-1998 terhadap Kehidupan Masyarakat Indonesia

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terdapat berbagai dampak krisis ekonomi 1997-1998 terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak hanya berimbas pada perekonomian, tetapi juga keamanan hingga stabilitas politik nasional yang memicu gelombang aksi demontrasi besar-besar di berbagai daerah.
Lonjakan harga kebutuhan pokok dan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal pun membuat angka kemiskinan meningkat tajam dalam waktu singkat. Kondisi tersebut memaksa rakyat harus beradaptasi demi bertahan hidup di tengah situasi ketidakpastian yang sangat menekan.
Faktor-Faktor Penyebab Krisis Ekonomi 1997-1998
Berdasarkan buletin Krisis Moneter Indonesia: Sebab, Dampak, Peran IMF, dan Saran karya Lepi T. Tarmidi, krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli 1997 merupakan istilah yang merujuk pada kondisi lumpuhnya kegiatan ekonomi nasional. Hal ini membuat banyak perusahaan tutup dan memicu peningkatan jumlah pengangguran.
Krisis yang terjadi selama hampir dua tahun ini tidak hanya disebabkan oleh persoalan moneter saja, tetapi juga diperberat oleh berbagai musibah nasional.
Misalnya, kegagalan panen padi karena musim kering berkepanjangan, kebakaran hutan besar-besaran di Kalimantan, dan peristiwa kerusuhan di banyak kota pada pertengahan Mei 1998.
Berikut ini beberapa faktor penyebab utama dari terjadinya krisis ekonomi 1997-1998:
Dianutnya sistem devisa yang terlalu bebas tanpa adanya pengawasan yang memadai.
Tingkat depresiasi rupiah yang relatif rendah.
Akumulasi utang luar negeri swasta jangka pendek dan menengah.
Permainan yang dilakukan oleh spekulan asing, yang dikenal sebagai hedge funds.
Kebijakan fiskal dan moneter yang tidak konsisten.
Defisit neraca berjalan yang semakin membesar.
International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional tidak membantu sepenuh hati dan terus menunda pengucuran dana bantuan yang dijanjikan.
Spekulan domestik diduga ikut bermain.
Terjadi krisis kepercayaan dan kepanikan yang menyebabkan masyarakat luas membeli dolar Amerika Serikat (AS) secara besar-besaran.
Dampak Krisis Ekonomi 1997-1998 terhadap Kehidupan Masyarakat Indonesia
Menurut jurnal Analisis Dampak Krisis Moneter Tahun 1998 terhadap Perekonomian Indonesia karya Ahmad Razan Zaki dkk., krisis yang melanda Indonesia pada 1997-1998 ditandai dengan lumpuhnya kegiatan ekonomi. Banyak perusahaan yang bangkrut dan pada akhirnya menyebabkan tingkat pengangguran meningkat drastis.
Berikut ini merupakan beberapa dampak krisis ekonomi 1997-1998 terhadap perekonomian nasional:
1. Banyak Perusahaan yang Bangkrut
Krisis moneter menyebabkan gangguan finansial yang membuat banyak sektor usaha di Indonesia mengalami kebangkrutkan, termasuk puluhan lembaga perbankan.
Ketidakstabilan ini diperparah oleh kepanikan ribuan nasabah yang menarik tabungan akibat lonjakan harga barang dan merosotnya nilai tukar rupiah.
Faktor lain yang mempercepat runtuhnya dunia usaha adalah anjloknya nilai mata uang domestik yang memicu kerugian besar pada aktivitas ekspor hingga sempat terhenti total. Dampak berantai dari gulung tikarnya perusahaan-perusahaan tersebut memicu gelombang PHK massal.
2. Harga Bahan Pokok Naik
Kombinasi antara inflasi tinggi dan melemahnya nilai tukar rupiah menjadi pemicu utama melonjaknya harga berbagai kebutuhan mendasar.
Kondisi ini membuat barang-barang penting menjadi sangat mahal dan sulit dijangkau oleh daya beli masyarakat yang sedang terpuruk.
Salah satu contoh paling nyata terlihat pada komoditas minyak goreng yang sempat langka di pasaran akibat harganya yang meroket tajam, yakni dari semula Rp1.800 menjadi Rp10.000 per kilogram untuk jenis curah.
Kenaikan drastis yang juga melanda minyak goreng kemasan ini seketika menyulitkan warga untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.
3. Hilangnya Kepercayaan Negara Asing
Keterbukaan Indonesia terhadap modal internasional seketika terhambat ketika depresiasi rupiah, karena meruntuhkan keyakinan para penanam modal global.
Para investor asing memilih menarik diri, karena menganggap iklim bisnis di dalam negeri tidak lagi mampu memberikan keuntungan.
Ketiadaan suntikan dana ini berujung pada kebangkrutan massal bagi banyak korporasi lokal yang bergantung pada modal luar negeri.
Situasi tersebut memaksa terjadinya pengurangan karyawan dalam skala besar, sehingga angka pengangguran meluas dan kesejahteraan hidup masyarakat kian memburuk.
4. Pengangguran di Indonesia Meningkat
Sebelum krisis melanda, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya terhitung sangat stabil dengan tren penurunan jumlah penduduk miskin yang konsisten sejak 1970-an hingga 1996.
Angka pengangguran pada 1994 bahkan mampu ditekan hingga hanya menyisakan sekitar 4,4 persen dari total angkatan kerja.
Namun, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat saat krisis ekonomi 1998 meruntuhkan operasional sebagian besar sektor usaha dan memicu pemecatan.
Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), situasi ini mengakibatkan lonjakan pengangguranhingga mencapai 12,44 juta orang atau setara dengan 13,6 persen dari seluruh angkatan kerja.
5. Nilai Mata Uang Rupiah Menurun
Depresiasi mata uang nasional tercatat sangat ekstrem, karena posisi rupiah yang semula berada di angka Rp2.380 per dolar AS langsung jatuh ke level Rp16.800 per dolar. Kemerosotan yang sangat tajam ini seketika mengacaukan pasar uang dan pasar modal, bahkan nilai surat utang pemerintah masuk kategori tidak berharga.
Kejatuhan nilai tukar rupiah ini memicu kelangkaan berbagai barang penting di tengah-tengah masyarakat. Akibatnya, harga-harga bahan makanan di pasar melonjak tidak terkendali dan membuat warga sipil berada dalam posisi yang sangat sulit untuk sekadar bertahan hidup.
Itulah beberapa dampak krisis ekonomi 1997-1998 terhadap kehidupan masyarakat Indonesia. Peristiwa kelam ini menjadi catatan sejarah penting yang memperlihatkan bagaimana runtuhnya stabilitas finansial mampu mengubah kesejahteraan sebuah bangsa.
Baca Juga: 5 Alasan Krisis Moneter Jadi Penyebab Kegagalan Pemerintahan Soeharto Orde Baru
(MDP)
