Konten dari Pengguna

6 Lapangan Migas Baru Siap Dongkrak Produksi Minyak Nasional

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lapangan migas baru. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lapangan migas baru. Foto: Unsplash

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berupaya menggencarkan produksi minyak bumi nasional hingga 100 ribu barel minyak per hari (BOPD) melalui 6 lapangan migas baru pada 2024-2027.

"Dalam jangka yang relatif jangka pendek, ada 6 prospek yang mudah-mudahan bisa mulai berproduksi semuanya di tahun 2028. Jumlahnya kurang lebih ya 100 ribu barel," ucap Menteri ESDM Arifin Tasrif, dikutip dari laman resmi Kementeraian ESDM RI, Selasa (6/8).

Arifin menambahkan, diharapkan langkah ini dapat memberikan dampak positif terhadap ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor minyak, dan bisa mendorong produksi minyak nasional secara signifikan.

Daftar Lapangan Migas Baru yang Diproyeksikan Lifting Minyak Nasional

Ilustrasi lapangan migas baru. Foto: Unsplash

Mengutip laman resmi Kementeraian ESDM RI, berikut enam lapangan migas baru yang diproyeksikan untuk lifting minyak nasional hingga 100 ribu barel per hari dalam periode 2024-2027:

  • Forel: 10.000 BOPD, estimasi produksi pada kuartal keempat 2024

  • Ande Ande Lumut: 20.000 BOPD, estimasi produksi pada kuartal pertama 2028

  • Singa Laut Kuda Laut: 20.313 BOPD, estimasi produksi pada kuartal keempat 2026

  • Hidayah: 2.996 BOPD, estimasi produksi pada kuartal pertama 2027

  • BUIC: 19.206 BOPD, Estimasi produksi pada kuartal ketiga 2024

  • OO-OX: 25.276 BOPD, estimasi produksi pada kuartal pertama 2026

Baca Juga: 10 Produsen Minyak Terbesar di Indonesia, Pertamina Hulu Rokan Urutan Pertama

Tantangan dalam Pengembangan Lapangan Migas Baru

Ilustrasi produksi migas. Foto: Unsplash

Arifin mengatakan bahwa sanksi internasional yang dikenakan terhadap Rusia menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan lapangan migas baru tersebut.

"Lapangan Singa Laut Kuda Laut adalah salah satu proyek yang terkena dampak, sehingga menyebabkan perkiraan waktu on stream menjadi mundur hingga kuartal keempat 2026," ujar Arifin.

Selain mengembangkan lapangan migas baru, Kementerian ESDM RI juga berencana akan fokus pada peningkatan recovery rate dari sumur-sumur eksisting.

"Di samping yang 6 ini, kita juga sedang mengupayakan peningkatan recovery dari sumur-sumur yang ada. Jadi, kalau dulu recovery-nya itu kita biasanya hanya 30 persen, sekarang kita coba minta Pertamina untuk bisa meningkatkannya menjadi ke 50 persen," kata Arifin.

Guna meningkatkan produksi migas, Arifin menjelaskan bahwa pemerintah merencanakan reaktivasi terhadap 1.000 hingga 1.500 sumur yang tidak aktif setiap tahunnya sebagai bagian dari strategi jangka pendek.

"Kita minta Pertamina untuk bisa mengupayakan idle well, sumur-sumur yang masih berprospek untuk bisa diupayakan kembali. Ini dalam upaya-upaya kita di jangka pendek," ucap Arifin.

(NDA)