Konten dari Pengguna

7 Penyebab IHSG Anjlok yang Perlu Dipahami dan Dampaknya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 5 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memahami penyebab IHSG anjlok. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memahami penyebab IHSG anjlok. Foto: Pexels

Apa sebenarnya yang menjadi penyebab IHSG anjlok secara terus-menerus merupakan pertanyaan yang selalu menarik perhatian. Fenomena naik turunnya indeks saham ini tidak hanya mencerminkan sentimen investor, tetapi juga menjadi indikator mengenai kondisi ekonomi negara.

Fluktuasi nilai saham di bursa efek pada dasarnya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Perubahan kondisi ekonomi makro dan dinamika pasar global sering kali menjadi pemicu utama di balik pergeseran tren investasi tersebut.

Penyebab IHSG Anjlok

Ilustrasi memahami penyebab IHSG anjlok. Foto: Pexels

Mengacu pada jurnal Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anjloknya IHSG karya Johni Eka Putra dkk., pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat ditentukan oleh dinamika harga saham di bursa efek. Ketika tren harga saham mayoritas menguat, IHSG akan ikut merangkak naik, begitu pula saat kondisi sebaliknya terjadi.

Berikut adalah beberapa faktor yang melandasi merosotnya IHSG:

1. BI-Rate

BI-Rate ialah instrumen suku bunga acuan yang mencerminkan arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) kepada masyarakat. Saat BI menaikkan suku bunga ini, perbankan biasanya akan ikut mendongkrak bunga deposito.

Kondisi tersebut memicu para pemegang modal untuk memindahkan dana ke instrumen deposito yang lebih minim risiko ketimbang bertahan di pasar saham.

2. Nilai Tukar Rupiah

Kurs atau nilai tukar rupiah merupakan perbandingan harga mata uang rupiah terhadap mata uang asing. Setiap negara memiliki tolok ukur nilai mata uangnya sendiri yang dinilai berdasarkan perbandingan tersebut.

Ketika transaksi di pasar valuta asing (valas) dirasa lebih menjanjikan dibanding bursa saham, para investor cenderung mengalihkan modalnya ke mata uang asing. Pergeseran sentimen akibat fluktuasi kurs inilah yang memicu penurunan harga saham dan berujung pada anjloknya IHSG.

3. Inflasi

Inflasi digambarkan sebagai tren kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus dalam suatu sistem perekonomian. Faktor ini juga menjadi penanda stabilitas ekonomi makro.

Lonjakan inflasi yang tidak terkendali berpotensi menggerus daya beli masyarakat, membengkakkan biaya produksi perusahaan, dan mendepresiasi nilai aset keuangan. Dampak negatif pada kinerja operasional perusahaan ini pada akhirnya menyurutkan minat investasi di pasar modal.

4. Indeks Dow Jones

Indeks Dow Jones merupakan indikator yang mengukur nilai rata-rata dari 30 perusahaan berskala besar bereputasi tinggi (blue chip stock) di New York Stock Exchange (NYSE).

Mengingat statusnya yang mewakili saham-saham berkualitas global, indeks ini kerap dijadikan acuan utama untuk membaca arah pergerakan bursa saham di seluruh dunia.

5. Harga Minyak Dunia

Merujuk pada jurnal Pengaruh Faktor Eksternal terhadap IHSG di Bursa Efek Indonesia oleh Zulfa Khairati dan Idamiharti, pergerakan harga minyak global memiliki korelasi positif yang nyata terhadap IHSG. Penguatan harga minyak dunia biasanya sejalan dengan perbaikan indeks saham di tanah air.

Namun, status Indonesia yang kini menjadi importir minyak (net oil importer) memberikan efek dua arah.

Penurunan harga minyak global di satu sisi bakal menekan emiten sektor energi, tetapi di sisi lain membawa sentimen positif bagi ekonomi makro, karena menghemat anggaran subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta meredam inflasi.

6. Harga Emas Global

Emas dikenal sebagai aset aman (safe haven) yang bernilai stabil, likuid, dan harganya tidak diintervensi oleh otoritas pemerintah.

Ketika harga emas global melonjak naik, para pelaku pasar biasanya memilih bermain aman dengan mengalihkan aset dari instrumen saham yang berisiko tinggi ke komoditas emas.

Penarikan dana massal dari bursa saham inilah yang kemudian melemahkan posisi IHSG.

7. Produk Domestik Bruto (PDB)

PDB berfungsi sebagai barometer utama untuk menghitung total nilai produksi barang maupun jasa di suatu negara sekaligus cerminan pertumbuhan ekonomi.

Ekonomi yang bertumbuh positif menandakan iklim bisnis yang sehat dan daya beli masyarakat yang kuat.

Sebaliknya, jika pertumbuhan PDB stagnan atau meleset dari target, pasar akan menangkap sinyal kelesuan ekonomi yang berpotensi memotong profitabilitas emiten. Penurunan kinerja keuangan ini memicu aksi jual oleh investor, sehingga IHSG ambruk.

Dampak IHSG Anjlok

Berdasarkan jurnal Dampak Penurunan IHSG terhadap Stabilitas Ekonomi Publik Indonesia: Analisis Penyebab, Implikasi, dan Strategi Kebijakan karya Nur Hafifa dkk., IHSG bukan hanya cerminan dari kinerja pasar modal, tetapi juga indikator penting bagi pengambilan kebijakan fiskal dan sosial.

Fluktuasi IHSG dapat memengaruhi hal-hal berikut:

  • Pelemahan IHSG yang diikuti dengan penurunan nilai tukar rupiah memicu kenaikan harga barang impor dan mendorong inflasi.

  • Kenaikan harga barang pokok menyebabkan penurunan daya beli masyarakat, khususnya bagi warga berpenghasilan rendah.

  • Tekanan inflasi mengakibatkan pengeluaran rumah tangga membengkak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dasar.

  • Ketidakpastian ekonomi memaksa banyak perusahaan menunda ekspansi dan melakukan efisiensi operasional.

  • Sektor padat karya mengalami dampak signifikan yang memicu peningkatan angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pengangguran.

  • Penurunan daya beli membuat aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merosot, karena berkurangnya permintaan produk.

  • Akses permodalan bagi UMKM semakin sulit akibat perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit.

  • Penerimaan negara dari pajak korporasi, dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dan keuntungan modal menjadi berkurang.

  • Tekanan pada anggaran fiskal semakin besar, karena kebutuhan belanja subsidi dan bantuan sosial (bansos) tetap tinggi.

  • Pemerintah terpaksa menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) lebih banyak dengan imbal hasil tinggi untuk menutup defisit.

  • Beban pembayaran bunga utang negara meningkat, sehingga mengurangi ruang fiskal untuk pembangunan jangka panjang.

  • Kepercayaan konsumen dan pelaku usaha menurun akibat keraguan terhadap prospek perekonomian ke depan.

Dengan memahami berbagai faktor penyebab IHSG anjlok, para investor dapat menyusun strategi yang lebih matang. Di sisi lain, pemahaman mengenai hal ini juga membuat pemangku kebijakan lebih cekatan dalam menjaga stabilitas makroekonomi nasional.

Baca Juga: 7 Faktor Penyebab IHSG Turun yang Bikin Investor Merugi

(MDP)