Konten dari Pengguna

Account Receivable: Definisi, Fungsi, Contoh, dan Metode Pencatatannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi account receivable. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi account receivable. Foto: Pexels

Account receivable adalah aset keuangan yang mencerminkan jumlah uang yang diharapkan perusahaan terima dari pelanggan atau klien atas penjualan barang atau jasa secara kredit.

Dalam istilah Indonesia, account receivable lebih dikenal sebagai piutang usaha atau piutang dagang. Account receivable timbul ketika perusahaan menjual barang atau layanan ke pelanggan yang pembayarannya dilakukan di kemudian hari.

Sebagai salah satu komponen penting dalam laporan keuangan, account receivable menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mengelola aliran kas (cash flow) dan menjadi indikator kesuksesan penagihan dari pelanggan.

Mengelola account receivable dengan baik dapat memperlancar arus kas yang masuk ke perusahaan, sehingga bisa berdampak langsung pada stabilitas keuangan. Untuk lebih memahami istilah account receivable sebagai aset keuangan perusahaan, simak informasinya di bawah ini.

Fungsi Account Receivable

Ilustrasi account receivable. Foto: Pexels

Merujuk Investopedia, account receivable dalam neraca saldo diklasifikasikan sebagai aset lancar. Adapun beberapa fungsi utamanya, antara lain:

1. Meningkatkan Penjualan

Dengan menawarkan pembayaran kredit, perusahaan dapat menarik lebih banyak pelanggan yang mungkin belum mampu membayar tunai. Strategi ini membantu meningkatkan volume penjualan dan memperluas basis pelanggan.

2. Mendukung Hubungan Bisnis yang Baik

Account receivable memungkinkan perusahaan untuk memberi kemudahan pembayaran ke pelanggan yang tepercaya. Hal ini dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan memperkuat hubungan jangka panjang dengan mereka.

3. Mengelola Cash Flow

Dengan memiliki pengaturan account receivable yang baik, perusahaan dapat memperkirakan aliran kas yang masuk dan mengelola pengeluaran berdasarkan arus kas yang tersedia. Pengelolaan piutang yang buruk dapat menyebabkan masalah likuiditas yang memengaruhi operasional perusahaan.

4. Mempermudah Evaluasi Kinerja Finansial

Piutang yang dikelola dengan baik akan menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan. Manajemen dapat memantau rasio piutang terhadap total penjualan dan mengevaluasi efektivitas kebijakan kredit yang diterapkan.

Baca Juga: Price Earning Ratio: Pengertian, Rumus, dan Faktor yang Memengaruhinya

Contoh Account Receivable

Ilustrasi account receivable. Foto: Pexels

Dikutip dari CFI, account receivable dapat dilihat ketika sebuah perusahaan memberikan layanan atau produk ke pelanggan yang memiliki perjanjian pembayaran di masa mendatang.

Misalnya, sebuah perusahaan percetakan menerima pesanan dari pelanggan senilai Rp10 juta dengan tenggat pembayaran 30 hari. Jumlah ini dicatat sebagai account receivable hingga pelanggan tersebut melunasi pembayarannya.

Selama piutang belum dilunasi, saldo account receivable akan tercatat dalam neraca keuangan sebagai aset lancar, karena perusahaan berharap piutang ini dapat dicairkan dalam jangka waktu dekat.

Dalam neraca keuangan, account receivable dicatat di bagian debet dengan saldo normal untuk aset. Setelah account receivable dilunaskan, maka pencatatannya akan beralih ke posisi kredit.

Metode Pencatatan Account Receivable

Ilustrasi account receivable. Foto: Pexels

Supriyati menerangkan dalam buku Audit Laporan Keuangan Usaha Kecil dan Menengah, metode pencatatan account receivable yang umum digunakan oleh perusahaan, di antaranya:

1. Metode Penyisihan/Metode Penghapusan Tidak Langsung (Allowance Method)

Metode ini merupakan pendekatan laporan posisi keuangan dan perusahaan menentukan jumlah piutang tak tertagih berdasarkan taksiran atau estimasi. Metode yang digunakan untuk menaksirkan jumlah piutang yang tak tertagih adalah:

  • Berdasarkan Persentase Penjualan: Jumlah piutang tak tertagih dihitung berdasarkan persentase (%) dari penjualan kredit bersih.

  • Berdasarkan Analisis Umur Piutang (Aging Schedule): Setiap piutang dagang dianalisis dan dikelompokkan menurut lamanya piutang tersebut beredar. Semakin lama suatu piutang dagang beredar, semakin kecil kemungkinannya akan tertagih. Besarnya piutang tak tertagih dihitung berdasarkan persentase (%) dikalikan jumlah piutang dagang setiap kelompok umur.

2. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write-Off Method)

Metode ini merupakan pendekatan laba rugi dan pencatatan piutang tak tertagih hanya akan dilakukan apabila piutang dagang dari debitur sudah dapat dipastikan tidak akan tertagih lagi. Metode ini digunakan apabila:

  • Perusahaan kesulitan dalam menaksir jumlah piutang tak tertagih secara wajar.

  • Sebagian besar penjualan dilakukan dengan tunai.

  • Jumlah piutang merupakan bagian yang relatif kecil dalam aset lancar.

  • Jumlah pelanggan sedikit dan berdasarkan pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya tidak ada piutang yang tak tertagih.

(NDA)