Konten dari Pengguna

Apa itu B50? BBM Jenis Baru yang Diluncurkan Prabowo

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi memahami apa itu B50. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi memahami apa itu B50. Foto: Pexels

Memahami apa itu B50 perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama pengguna bahan bakar minyak (BBM). Hal ini menyusul peluncurannya oleh Presiden Prabowo Subianto di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Rest Area Km 57, Tol Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

“Dengan peluncuran ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatory Biodiesel B50,” kata Prabowo, seperti dikutip dari kumparanBISNIS.

Adapun program B50 sudah diamanatkan dalam Keputusan Menteri (Kepmen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 257.K/EK.01/MEM.E/2026 tentang Kewajiban Pencampuran Bahan Bakar Nabati Jenis Biodiesel dengan Bahan Bakar Minyak berupa Minyak Solar Sebesar 50 persen dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan.

Apa itu B50?

Ilustrasi memahami apa itu B50. Foto: Pexels

Melansir laman Kementerian ESDM, B50 adalah bahan bakar campuran yang terdiri dari 50 persen biodiesel (B100) berbasis minyak nabati, seperti minyak kelapa sawit, dan 50 persen bahan bakar solar (B0).

Pengembangan B50 disebut untuk meningkatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT) sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Pengembangannya juga merupakan langkah lanjutan dari implementasi biodiesel hingga campuran 40 persen (B40) secara nasional sejak awal 2025.

Uji Coba sejak Awal 2025

Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan bahwa uji jalan B50 dimulai dari uji laboratorium sejak awal 2025. Selanjutnya, dilakukan uji penggunaan pada mesin diesel secara serentak mulai Desember 2025.

Uji penggunaan tersebut diterapkan pada sejumlah sektor pengguna, yaitu sektor otomotif, angkutan laut, mesin dan alat pertanian, mesin dan alat berat tambang, serta kereta api dan pembangkit. Sektor otomotif, lanjut dia, menjadi salah satu fokus utama untuk memastikan kesiapan implementasi B50, termasuk dengan uji jalan pada kondisi operasional sehari-hari.

“Awal 2025 kita sudah melakukan uji teknis laboratorium dan sudah selesai di pertengahan tahun lalu. Lalu, kita memang sudah melakukan kick off dan serentak uji di 6 sektor. Jadi, otomotif, tambang, alat pertanian, kelautan, lalu pembangkit, satu lagi kereta. Nah itu serentak dilakukan mulai tanggal 9 Desember 2025," ucap Eniya dikutip dari laman ESDM di Bandung, Jawa Barat, Selasa, 21 April 2026.

Diprediksi Menghemat Devisa Hingga Rp170 T

Mengutip dari KumparanBISNIS, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut implementasi mandatory biodiesel B50 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp170 triliun. Nilai tambah industri minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) juga diperkirakan naik dari Rp20,92 triliun menjadi Rp23,49 triliun.

Tak hanya itu, program B50 diproyeksikan mampu menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja. Untuk mendukung penerapannya, kebutuhan biodiesel diperkirakan mencapai 16,7-18 juta kiloliter (kL), dengan kebutuhan CPO mencapai 15,2-16,3 juta ton.

Pada aspek lingkungan, penggunaan B50 diprediksi mampu menurunkan emisi karbon dioksida (CO2) hingga 44,46 juta ton. Angka ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan penurunan emisi pada implementasi B40 yang menembus 39,66 juta ton.

Baca Juga: Prabowo: Indonesia Negara Pertama di Dunia yang Wajibkan B50

(MDP)