Apakah Harga Emas akan Turun Terus? Cek Prediksinya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak calon investor yang kini bertanya-tanya, apakah harga emas akan turun terus, di tengah fluktuasi pasar global saat ini. Memahami tren ini sangatlah penting agar masyarakat dapat menentukan strategi yang paling tepat dan meminimalkan risiko kerugian modal.
Mengetahui tentang pergerakan harga emas juga bertujuan untuk memudahkan calon investor dalam mengoptimalkan keuntungan jangka panjang. Dengan analisis yang matang, potensi logam mulia sebagai aset pelindung (safe haven) dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Apakah Harga Emas akan Turun Terus?
Melansir Vietnam.vn, harga emas dunia gagal mempertahankan batas bawah sebesar US$4.400 per ons, setelah ditutup pada angka US$4.348 per ons di akhir pekan lalu.
Penurunan sebesar US$81 per ons tersebut tertekan oleh data inflasi yang memicu proyeksi bahwa bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan bersikap menaikkan suku bunga pada September 2026.
1. Perilaku Investor
Meskipun diterpa sentimen negatif, para analis mencatat emas masih sanggup bertahan di atas level US$4.320 per ons dan rata-rata pergerakan 50 hari di kisaran US$4.269 per ons.
Kondisi ini memperlihatkan munculnya aksi beli dari investor yang memanfaatkan koreksi harga jual.
Arah pergerakan harga jangka pendek diprediksi sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS dan kebijakan The Fed. Sinyal keberlanjutan inflasi dapat menambah tekanan pada emas, sedangkan pelonggaran kebijakan moneter berpotensi mendorong pemulihan harga.
2. Dampak Kebijakan Suku Bunga
Pertemuan The Fed yang bertepatan dengan lonjakan Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS sebesar 3,4 persen pada Agustus lalu, membuat ekspektasi kenaikan suku bunga melonjak hingga mendekati 90 persen.
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh pada pertemuan di Jackson Hole turut memperkuat peluang kenaikan suku bunga acuan yang saat ini berada di tingkat 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Situasi tersebut menempatkan pasar berjangka pada posisi bersiap menghadapi pengetatan moneter yang lebih kuat. Kendati demikian, sejumlah pengamat menilai faktor geopolitik dan perubahan ekonomi global tetap membuka ruang bagi emas untuk bergerak.
3. Pandangan Para Analis Pasar
Presiden dan CEO Asset Strategies International Rich Checkan memperkirakan, harga emas berpotensi menguat tipis. Hal ini terjadi karena adanya ruang gerak bagi The Fed untuk menahan diri sebelum agenda politik mendatang.
“Jadi, semua harapan akan independensi The Fed telah sirna. Ketua Warsh memiliki ruang gerak yang cukup untuk menghindari kenaikan suku bunga sebelum pemilihan paruh waktu. Akibatnya, harga emas akan naik sedikit,” kata Checkan.
Sementara itu, Presiden Adrian Day Asset Management Adrian Day menilai, daya tahan emas di tengah lonjakan inflasi dan kenaikan imbal hasil obligasi menandakan terbentuknya batas bawah di level US$4.300 per ons.
“Volatilitas dalam konflik AS-Iran, berarti ada kemungkinan pembalikan, baik pada harga minyak maupun dolar AS, selalu ada, dan itu akan merugikan emas,” ucap Adrian.
Berikutnya, analis FxPro, Alex Kuptsikevich, juga melihat penurunan harga emas hingga ke kisaran US$4.300 per ons mulai mengalihkan posisi tawar. Pembelian saat harga terkoreksi (buy on dips) kini mendominasi pasar dibandingkan dengan tren penurunan pada masa-masa sebelumnya.
“Meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah di negara-negara ekonomi utama terus menarik modal dari logam mulia. Namun, di pasar, harga emas telah turun ke kisaran US$4.300, menggeser keseimbangan kekuatan yang menguntungkan pembeli,” ujar Alex.
4. Sentimen Positif Pasar Mingguan
Survei terbaru dari Kitco News menunjukkan optimisme dari mayoritas analis Wall Street. Sebanyak 64 persen di antaranya memprediksi kenaikan harga emas pada minggu depan.
Hanya sebagian kecil pakar yang memperkirakan harga emas akan melanjutkan penurunan atau bergerak mendatar, yaitu masing-masing 14 persen (dua pakar) dan 22 persen (3 pakar).
Di sisi lain, investor individu cenderung bersikap lebih waspada setelah adanya penurunan harga emas selama sepekan. Meskipun demikian, lebih dari separuh responden dalam jajak pendapat daring tetap meyakini harga logam mulia ini memiliki prospek untuk rebound.
Dari 218 investor individu yang mengikuti survei, 115 orang (53 persen) memprediksi harga emas akan naik, 52 orang (24 persen) yakin harga emas akan terus turun, dan 51 orang (23 persen) memperkirakan pasar akan tetap stagnan.
Baca Juga: Kisi-Kisi Dividen BTN 2026, Ini Bocorannya
(MDP)
