Konten dari Pengguna

Kisi-Kisi Dividen BTN 2026, Ini Bocorannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membahas kisi-kisi dividen BTN 2026. Foto: BTN
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membahas kisi-kisi dividen BTN 2026. Foto: BTN

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) membocorkan kisi-kisi dividen BTN 2026. Informasi ini disampaikan dalam acara Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan secara virtual di Jakarta, Kamis, 10 September 2026.

Rencana pembayaran dividen BTN untuk tahun buku 2026 tersebut menjadi angin segar bagi para investor setelah sempat absen pada tahun buku 2025. Kala itu, salah satu bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini memerlukan modal besar untuk rencana ekspansi bisnis.

Kisi-Kisi Dividen BTN 2026

Ilustrasi membahas bocoran kisi-kisi dividen BTN 2026. Foto: Pexels

Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu menjelaskan, rencana pencairan dividen dengan rentang rasio pembayaran (dividend payout ratio) sebesar 20-25 persen dari total laba bersih. Menurut dia, rencana ini telah tercantum dalam Rancangan Bisnis Bank (RBB).

“Sekarang kan di RBB kita di 2026 memang kita tulis 20-25 persen,” kata Nixon, seperti dikutip dari Antara.

Kendati demikian, dia belum bisa memastikan berapa besaran dividen yang ditetapkan. Dia menyebut kejelasannya menunggu hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST).

Laporan Keuangan BTN di Semester I

Melansir laman resminya, pada semester I-2026, BTN berhasil mengantongi laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,4 triliun. Angka ini melonjak 40,8 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dari Rp1,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Capaian positif juga diimbangi dengan perbaikan kualitas aset, yang ditandai oleh penurunan rasio non-performing loan (NPL), yaitu dari 3,3 persen menjadi 2,99 persen.

1. Pertumbuhan Kredit

Sementara itu, penyaluran kredit dan pembiayaan konsolidasi BTN tumbuh 11,2 persen yoy hingga mencapai Rp418,11 triliun per Juni 2026. Pertumbuhan ini disokong oleh kenaikan sektor kredit perumahan sebesar 4,8 persen yoy menjadi Rp332,88 triliun.

Selain itu, terjadi lonjakan kredit non-perumahan yang signifikan sebesar 46,1 persen yoy menjadi Rp85,22 triliun.

Pada sektor perumahan, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tetap menjadi pendorong utama dengan total Rp196,96 triliun. Kemudian, disusul oleh Kredit Program Perumahan (KPP) yang tersalurkan sebesar Rp4,1 triliun sejak akhir Oktober 2025.

Sementara pada sektor non-perumahan, kenaikan dipicu oleh penetrasi ke berbagai sektor industri, ritel, hingga kerja sama dengan perusahaan multifinance untuk pembiayaan kendaraan bermotor.

2. Pertumbuhan Aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK)

Ekspansi pembiayaan turut mendorong peningkatan total aset konsolidasi BTN sebesar 12,4 persen yoy hingga menyentuh Rp545,16 triliun pada semester I-2026. Dari sisi penghimpunan dana, DPK tercatat tumbuh 6,6 persen yoy menjadi Rp433,00 triliun.

Perseroan mencatat cost of fund di kisaran 3,01 persen. Langkah penataan struktur dana murah ini ditempuh melalui akuisisi dana ritel, penguatan layanan payroll, perluasan kerja sama instansi, dan peningkatan transaksi digital.

3. Akselerasi Ekosistem Digital

Layanan digital perseroan juga menunjukkan tren positif melalui penggunaan superapps Bale by BTN yang telah menembus lebih dari 4,3 juta pengguna. Ekosistem ini didukung oleh lebih dari 344 ribu merchant, 14 ribu developer, dan 59 pemerintah daerah (pemda).

Pertumbuhan basis pengguna tersebut berdampak langsung pada kenaikan volume dan nominal transaksi di Bale by BTN. Jumlah transaksi dan nominal transaksi yang tercatat masing-masing tumbuh sebesar 41,6 persen yoy dan 55,3 persen yoy per Juni 2026.

4. Perbaikan Kualitas Aset

Selain penurunan rasio NPL, BTN mencatatkan penurunan rasio Loan at Risk (LAR) menjadi 18,6 persen dari 20,2 persen pada tahun lalu. Perseroan juga menekan Cost of Credit (CoC) secara signifikan dari 2 persen menjadi 0,7 persen per semester I-2026.

5. Akuisisi Portofolio Kredit Pensiun SMBC Indonesia

Sebagai strategi pertumbuhan anorganik beyond mortgage, BTN telah menyelesaikan tahap pertama akuisisi portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk sekitar Rp12,6 triliun. Seluruh portofolio yang diambil alih merupakan kredit lancar (performing loan).

BTN mengaku akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III-2026 senilai Rp7,34 triliun. Dengan demikian, perseroan akan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun.

Melalui langkah ini, BTN membidik peningkatan porsi kredit non-perumahan hingga 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun mendatang.

Baca Juga: Jadwal Dividen Interim Bank Mandiri 2026 Senilai Rp6,16 Triliun, Ini Infonya

(MDP)