Jadwal Dividen Interim Bank Mandiri 2026 Senilai Rp6,16 Triliun, Ini Infonya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami jadwal dividen interim Bank Mandiri 2026 perlu dilakukan oleh para investor. Hal ini berguna bagi para pemegang saham dalam merencanakan strategi investasi dan mengoptimalkan potensi keuntungan portofolio.
Selain itu, dividen interim sering kali menjadi indikator mengenai kinerja keuangan perusahaan di pertengahan tahun berjalan. Langkah ini juga memberikan gambaran mengenai komitmen perseroan dalam memberikan imbal hasil yang konsisten kepada pemegang saham.
Jadwal Dividen Interim Bank Mandiri 2026
Berdasarkan keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berencana membagikan dividen interim untuk tahun buku 2026. Dividen yang bakal digelontorkan senilai Rp6,16 triliun atau sebesar Rp66 per saham.
Kebijakan ini didasarkan oleh persetujuan Dewan Komisaris atas keputusan Direksi pada Kamis, 3 September 2026 lalu. Adapun jumlah saham yang beredar tercatat sebanyak lebih dari 93 miliar lembar.
Lebih lanjut, mengutip Antara, pembayaran dividen interim BMRI tersebut direncanakan mulai terlaksana pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Dividen interim ini akan disalurkan kepada para pemegang saham yang terdata dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada tanggal pencatatan (recording date).
Berikut ini rincian jadwal pembagian dividen interim Bank Mandiri 2026:
Cum dividend di pasar reguler dan negosiasi: Selasa, 15 September 2026.
Ex dividend di pasar reguler dan negosiasi: Rabu, 16 September 2026.
Cum dividend di pasar tunai: Kamis, 17 September 2026.
Ex dividend di pasar tunai: Jumat, 18 September 2026.
Recording date yang berhak atas dividen interim: Kamis, 17 September 2026.
Pembayaran dividen interim: Jumat, 2 Oktober 2026.
Komitmen Pembagian Dividen Interim Bank Mandiri
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengatakan, pembagian dividen interim ini adalah cerminan dari keyakinan terhadap fundamental perusahaan. Langkah ini juga ditujukan sebagai apresiasi atas kepercayaan pemegang saham.
Dia menjelaskan keputusan penetapan dividen didukung oleh kinerja keuangan yang solid serta kondisi permodalan dan likuiditas yang kuat. Hal ini memberikan ruang bagi perseroan untuk terus menciptakan nilai tambah tanpa mengabaikan potensi pertumbuhan bisnis.
1. Pengelolaan Modal yang Terukur
Novita menegaskan bahwa kebijakan ini diambil secara terukur dengan tetap menjaga kestabilan rasio keuangan dan kecukupan modal. Perseroan menerapkan pengelolaan permodalan secara bijak demi menyeimbangkan ekspansi bisnis dan kepentingan pemegang saham.
“Keputusan ini kami lakukan secara terukur dengan memastikan fundamental, kecukupan modal, likuiditas, dan rasio keuangan tetap terjaga serta ruang pertumbuhan bisnis tetap memadai,” kata Novita dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 7 September 2026.
Langkah ini dipastikan tidak membawa dampak negatif bagi kegiatan operasional, hukum, dan kelangsungan usaha. Ketersediaan likuiditas yang memadai memungkinkan perusahaan untuk membagikan dividen sekaligus mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif.
2. Transparansi Pembayaran Dividen Interim
Lebih lanjut, Novita menyampaikan seluruh tahapan pembayaran dividen dijalankan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan pasar modal. Keseimbangan antara strategi pertumbuhan dan hak para pemegang saham tetap menjadi prioritas utama.
Dengan digelontorkannya dividen interim sebesar Rp6,16 triliun, total dividen Bank Mandiri sepanjang tahun 2026 mencapai sekitar Rp50,63 triliun. Jumlah tersebut mencakup dividen dari tahun buku 2025 sebelumnya yang bernilai Rp44,47 triliun.
3. Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan Kredit
Hingga Agustus 2026, fungsi intermediasi Bank Mandiri mencatatkan hasil yang sangat solid. Penyaluran kredit secara bank only mengalami peningkatan hingga 17,6 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp1.592 triliun.
Pencapaian pertumbuhan kredit tersebut disokong oleh perolehan dana pihak ketiga (DPK) yang turut naik 17,6 persen secara tahunan mencapai Rp1.687 triliun.
Pada periode yang sama, total aset perseroan membukukan kenaikan sebesar 20,7 persen secara tahunan hingga menyentuh angka Rp2.358 triliun. Di samping itu, laba bersih perusahaan berhasil melesat 22,3 persen menjadi Rp37,5 triliun.
Kualitas aset Bank Mandiri pun tetap terjaga dengan baik, yang ditandai oleh rasio non-performing loan (NPL) gross pada level 1 persen. Capaian ini menandakan bahwa ekspansi bisnis tetap dijalankan secara sehat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Baca Juga: SWAP Tunda IPO, Apa Alasannya?
(MDP)
