Desil 10 Penghasilan Berapa? Ini Penjelasannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang terkejut ketika mengecek status kesejahteraan di portal Cek Bansos dan mendapati diri masuk Desil 10, padahal merasa penghasilan yang dimiliki biasa saja.
Hal ini pun membuat mereka yang mengalaminya bertanya-tanya, desil 10 penghasilan berapa sebenarnya? Simak artikel ini hingga tuntas untuk mengetahui jawaban lengkapnya.
Desil 10 Penghasilan Berapa?
Merujuk penjelasan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Grobokan, desil adalah sistem pembagian seluruh keluarga di Indonesia ke dalam 10 kelompok yang sama besar, berdasarkan urutan tingkat kesejahteraan dari terendah hingga tertinggi.
Desil 1 = 10% keluarga dengan kesejahteraan paling rendah
Desil 10 = 10% keluarga dengan kesejahteraan relatif paling tinggi
Sistem desil ini bersifat peringkat relatif, bukan kategori berdasarkan nominal penghasilan. Merujuk BPS Kabupaten Kota Baru, desil bukan angka nominal tertentu, melainkan posisi dalam distribusi kesejahteraan seluruh penduduk Indonesia.
Menurut Kemenag Pasangkayu, tidak ada batas penghasilan tunggal yang menentukan seseorang masuk Desil 10. Dua keluarga dengan pendapatan bulanan yang hampir sama bisa saja mendapat nilai desil yang berbeda karena faktor-faktor lain di luar gaji ikut diperhitungkan.
Berdasarkan informasi dalam situs resmi Cek Bansos Kemensos, variabel yang digunakan dalam penentuan desil mencakup:
Identitas dan kependudukan.
Tingkat pendidikan anggota keluarga.
Status pekerjaan dan jenis pekerjaan.
Kondisi fisik tempat tinggal.
Akses sanitasi dan air bersih.
Daya listrik yang terpasang.
Kepemilikan aset (kendaraan, lahan, alat usaha).
Beban tanggungan keluarga.
Kombinasi seluruh variabel itulah yang membentuk skor kesejahteraan, bukan hanya nominal gaji bulanan.
Mengapa Penghasilan Biasa Bisa Masuk Desil 10?
Menurut Kemenag Pasangkayu, posisi kesejahteraan keluarga dalam DTSEN tidak hanya ditentukan oleh besarnya penghasilan. Kondisi rumah, kepemilikan aset, kendaraan, jumlah anggota keluarga yang bekerja, serta akses terhadap layanan dasar juga ikut memengaruhi penilaian.
Karena itu, keluarga dengan penghasilan yang terasa pas-pasan tetap dapat berada pada desil yang lebih tinggi apabila memiliki rumah sendiri, tempat tinggal yang layak, kendaraan, serta anggota keluarga yang produktif.
Sebaliknya, keluarga dengan penghasilan sedikit lebih besar belum tentu memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi jika masih tinggal di rumah kontrakan dengan fasilitas terbatas.
Dalam pemeringkatan DTSEN, berbagai indikator sosial ekonomi tersebut dinilai secara keseluruhan. Artinya, kepemilikan aset dan kondisi tempat tinggal dapat memengaruhi skor kesejahteraan dan posisi desil suatu keluarga dibandingkan rumah tangga lain yang kondisi ekonominya lebih terbatas.
BPS Kabupaten Mamuju menjelaskan, DTSEN merupakan hasil integrasi tiga sumber data utama, yakni Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek), Data Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE), dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Data tersebut dimutakhirkan secara berkala oleh BPS dan diverifikasi setiap tiga bulan untuk menjaga ketepatan informasi sosial ekonomi masyarakat.
Baca juga: Desil 6-10 Artinya Apa? Ini Penjelasan dan Cara Ceknya
(NDA)
