Fenomena Makan Tabungan, Kenali Faktor yang Menyebabkannya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena makan tabungan belakangan masih marak terjadi ketika seseorang mulai menggunakan uang simpanan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Kondisi ini biasanya muncul saat pemasukan tidak lagi cukup untuk menutup pengeluaran rutin.
Tabungan yang semula disiapkan untuk kebutuhan masa depan pun perlahan ikut terpakai. Kondisi tersebut tidak selalu terjadi karena seseorang memiliki kebiasaan boros. Ada berbagai faktor yang bisa membuat seseorang terpaksa menggunakan simpanannya.
Jika berlangsung dalam waktu lama, fenomena makan tabungan dapat membuat kondisi finansial semakin rentan. Karena itu, penting memahami pengertian makan tabungan dan faktor yang memicunya.
Apa Itu Fenomena Makan Tabungan?
Fenomena makan tabungan menggambarkan kondisi ketika seseorang mulai menggunakan uang yang sebelumnya disimpan sebagai dana darurat atau untuk tujuan tertentu.
Istilah ini kerap digunakan ketika tabungan terus terpakai karena pemasukan tidak mampu mencukupi pengeluaran bulanan.
Ketika simpanan digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari, dana yang tersedia untuk menghadapi kebutuhan pada masa mendatang pun ikut berkurang.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan ketimpangan.
Fenomena tersebut tidak hanya dapat dialami masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok masyarakat yang tergolong kelas ekonomi menengah pun dapat mengalaminya.
Kondisi makan tabungan ini umumnya paling terlihat pada kelompok masyarakat dengan saldo tabungan di bawah Rp100 juta.
Fenomena Makan Tabungan di Indonesia
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut secara agregat seluruh kelompok simpanan masih mencatatkan pertumbuhan.
Meski demikian, kondisi setiap nasabah berbeda. Ada yang menggunakan tabungannya untuk memenuhi kebutuhan, sementara sebagian lainnya justru menambah simpanan.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebut tidak ada indikasi fenomena "makan tabungan" pada kelompok simpanan di bawah Rp100 juta.
Berdasarkan data yang dihimpun LPS, simpanan pada segmen tersebut justru masih tumbuh secara tahunan. Ia memaparkan, simpanan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,16 persen secara tahunan. Pertumbuhan lebih tinggi tercatat pada simpanan di bawah Rp5 juta, yakni sebesar 7,36 persen.
“Secara agregat semua lapisan tabungan, mulai dari di bawah Rp 5 juta, Rp 10 juta, Rp 100 juta, Rp 200 juta, sampai di atas Rp 5 miliar semuanya tumbuh. Memang ada yang makan tabungan, ada yang surplus tabungan, tetapi secara agregat semuanya tumbuh,” jelasnya dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor LPS pada Senin (3/8), dikutip dari kumparanBISNIS.
Penyebab Fenomena Makan Tabungan
Fenomena makan tabungan dapat terjadi ketika pendapatan masyarakat tergerus atau mengalami penurunan. Dalam kondisi tersebut, sebagian orang terpaksa menggunakan simpanan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beberapa pemicunya antata lain:
1. Keterbatasan Lapangan Pekerjaan
Ketika lapangan pekerjaan terbatas, seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan sumber penghasilan baru. Selama masa tersebut, tabungan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
2. Pendapatan Bisnis Menurun
Masyarakat yang mengandalkan penghasilan dari bisnis juga dapat mengalami kondisi serupa ketika usaha stagnan, permintaan menurun, atau daya beli masyarakat melemah. Penurunan pendapatan membuat kemampuan memenuhi kebutuhan dari penghasilan rutin ikut berkurang.
3. Harga Kebutuhan Meningkat
Kenaikan harga kebutuhan dapat mengurangi kemampuan masyarakat dalam memenuhi pengeluaran dari pendapatan rutin. Kondisi ini semakin berat ketika masih ada beban lain yang harus dipenuhi, seperti cicilan dan biaya pendidikan.
Jika pendapatan tidak lagi mampu menutup kebutuhan, sebagian pengeluaran akhirnya mengambil porsi dari tabungan. Karena itu, pengeluaran perlu diatur secara cermat dengan mendahulukan kebutuhan yang benar-benar penting agar simpanan tidak terus terkuras.
Baca Juga: Jadwal Dividen Interim Bank Mandiri 2026 Senilai Rp6,16 Triliun, Ini Infonya
(SA)
