Kenapa Emas Turun Terus? Ini Faktor Penyebabnya

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Harga emas mengalami tekanan dalam beberapa hari terakhir setelah sebelumnya mencatat kenaikan sepanjang Agustus 2026. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai kenapa emas turun terus, terutama di kalangan investor yang sedang memantau pergerakan harga logam mulia.
Penurunan harga tentu menjadi kabar kurang menggembirakan bagi pemilik emas yang berharap nilainya terus meningkat. Namun, bagi calon investor, kondisi tersebut justru dapat menjadi pertimbangan menarik untuk mencari peluang membeli emas ketika harganya lebih rendah.
Lantas, apa yang menyebabkan harga emas kembali melemah? Cari tahu sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakannya pada ulasan di bawah ini.
Kenapa Emas Turun Terus?
Mengutip Bloomberg, harga emas spot diperdagangkan di kisaran US$4.368 per ons troi pada Selasa (1/9) pukul 16.44 WIB, mendekati level terendah dalam dua minggu terakhir. Sebelumnya, harga emas sempat mencatat kenaikan signifikan sepanjang Agustus.
Kenaikan tersebut salah satunya didorong oleh langkah Departemen Keuangan AS yang meningkatkan pembelian kembali (buyback) obligasi jangka panjang. Kebijakan ini mendorong kembali minat investor terhadap aset lindung nilai dari risiko pelemahan nilai mata uang atau debasement trade.
Namun, sentimen pasar berubah setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh menyampaikan pernyataan bernada hawkish dalam simposium tahunan di Jackson Hole.
Pernyataan tersebut meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga AS, sementara ketegangan dengan Iran turut memicu melemahnya harga emas. Berikut sejumlah faktor yang menekan harga emas belakangan ini.
1. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga The Fed.
Di laman Forbes disebutkan bahwa dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat (28/8), Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan bahwa inflasi Amerika Serikat masih terlalu tinggi. Ia juga kembali menekankan komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2 persen.
Pernyataan tersebut mendorong pasar memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga mungkin diperlukan apabila inflasi belum menunjukkan penurunan yang cukup.
Pasar kemudian memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed pada September mendatang mencapai lebih dari 63,9 persen.
Angka tersebut meningkat cukup tinggi dibandingkan sebelum pernyataan Warsh, ketika peluang kenaikan suku bunga diperkirakan hanya sekitar 36 persen.
2. Ketegangan AS dengan Iran Kembali Memanas
Perkembangan geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga emas. Mengutip Trading Economics, harga emas masih berada di bawah tekanan di tengah kenaikan harga minyak setelah pasukan militer AS menyerang sebuah pulau di Selat Hormuz.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Jika inflasi kembali meningkat, The Fed berpotensi menaikkan suku bunga tinggi, yang pada akhirnya berdampak negatif bagi pada arah pergerakan harga emas.
Di sisi lain, harga minyak yang lebih tinggi juga dapat mengurangi daya beli masyarakat karena pengeluaran untuk energi meningkat.
Kondisi ini berpotensi membuat sebagian masyarakat menjual aset, termasuk emas, untuk memperoleh uang tunai. Berkurangnya dana yang tersedia untuk investasi juga dapat menekan permintaan terhadap emas.
Baca Juga: Harga Minimum Saham Rp1 Sudah Diuji Coba, Kapan Mulai Berlaku?
(SA)
