Kenapa IHSG Turun Terus? Ini Pendapat Pengamat

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan tentang kenapa IHSG turun terus, kini menggema di kalangan investor yang cemas mengamati pergerakan pasar. Perubahan indeks saham domestik ini kerap memicu perhatian, terutama ketika tren pelemahan berlangsung selama beberapa waktu.
Mengacu pada data Stockbit, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meluncur sejalan dengan masifnya aksi jual di pasar modal nasional. Pada akhir perdagangan Senin, 12 Oktober 2026, indeks saham anjlok 2,59 persen atau 157,61 poin ke level 5.936,15.
Kenapa IHSG Turun Terus?
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta berpendapat, bahwa IHSG masih mengalami tekanan yang cukup besar. Kendati demikian, potensi penguatan sesaat (technical rebound) dalam skala terbatas masih ada.
Melihat dari petunjuk teknis, indikator Stochastics K_D mengarah pada sinyal negatif. Sementara itu, Indikator Kekuatan Relatif (Relative Strength Index atau RSI) bergerak positif seiring dengan bertambahnya volume transaksi pasar.
Dia melihat suasana pasar condong melemah disertai dengan tingkat fluktuasi yang tinggi. Kesempatan bagi indeks untuk membaik sebenarnya belum tertutup seusai aksi jual yang cukup masif, tetapi kondisinya belum memadai untuk memastikan arah perubahan tren.
1. Tekanan Saham Konglomerasi dan Depresiasi Rupiah
Nafan menilai penurunan IHSG sebagian didorong oleh aksi pelepasan saham kelompok usaha besar saat beredar isu mengenai potensi perubahan bobot maupun sanksi dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di samping itu, penurunan kurs rupiah yang menyentuh level Rp17.913 per dolar Amerika Serikat (AS) ikut memperberat kondisi pasar modal.
“Oleh sebab itu, kepercayaan investor terhadap stabilitas kebijakan ekonomi dan konsistensi reformasi pasar modal masih menjadi faktor penting,” kata Nafan dalam keterangannya, Selasa, 13 Oktober 2026, seperti dikutip dari kumparanBISNIS.
2. Sentimen Ekonomi Global
Lebih lanjut, menurut dia, para pelaku pasar mancanegara tengah memantau perkembangan laju inflasi AS dan publikasi kinerja keuangan emiten periode triwulan ketiga 2026.
Arah pergerakan bursa Negeri Paman Sam yang tidak seragam memperlihatkan bahwa para pemodal masih ragu untuk memicu kenaikan.
Hal ini lantaran para investor tengah mengalkulasi proyeksi laba emiten, laju kenaikan harga barang, nilai energi, hingga kebijakan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).
3. Lonjakan Harga Komoditas Energi
Lonjakan harga minyak mentah jenis Brent sebesar 2,41 persen yang menyentuh angka US$106,05 per barel pada penutupan Senin turut menjadi sorotan utama. Kondisi ini berisiko membengkakkan biaya operasional maupun logistik perusahaan.
Selain itu, melejitnya harga minyak mentah diproyeksikan mampu menggerus kemampuan belanja masyarakat sekaligus menghambat laju penurunan inflasi.
4. Efek Rencana Investasi dan Resiliensi Ekonomi Domestik
Di sisi domestik, wacana Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang akan menyuntikkan dana sekitar US$1 miliar ke bursa hingga penghujung 2026, berpeluang menjadi dorongan positif.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai bahwa fondasi sektor keuangan nasional masih tergolong tangguh. Hal ini lantaran didukung oleh inflasi yang terkendali dan tingkat belanja publik yang stabil.
Meskipun demikian, Nafan menilai kekuatan ekonomi internal tersebut tidak selalu langsung mendongkrak harga instrumen ekuitas dalam waktu dekat ketika guncangan pasar dan ketidakpastian internasional masih mendominasi.
Baca Juga: Apa itu Short Selling Saham? Simak Syarat dan Cara Kerjanya
(MDP)
