Konten dari Pengguna

Mengapa Ekonomi Indonesia pada Awal Kemerdekaan Sangat Lemah? Ini Penjelasannya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi membahas alasan mengapa ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan sangat lemah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi membahas alasan mengapa ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan sangat lemah. Foto: Pexels

Pertanyaan mengenai mengapa ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan sangat lemah kerap muncul dalam diskusi sejarah nasional. Hal ini tidak terlepas dari kondisi infrastruktur yang hancur pasca-perang.

Sebagai negara yang baru berdiri, Indonesia harus menghadapi warisan sistem kolonial Belanda yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Selain itu, ketidakstabilan politik dan minimnya cadangan kas negara semakin mempersulit upaya pemerintah dalam menata sistem perekonomian nasional.

Mengapa Ekonomi Indonesia pada Awal Kemerdekaan Sangat Lemah?

Ilustrasi membahas alasan mengapa ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan sangat lemah. Foto: Pexels

Berdasarkan Modul Pembelajaran SMA Sejarah Indonesia Kelas XII karya Nansy Rahman, keadaan ekonomi Indonesia pada awal berdirinya sangatlah kacau dan sulit. Terdapat beberapa hal yang melatarbelakangi kondisi tersebut, antara lain:

1. Inflasi yang Tinggi

Inflasi melonjak tajam karena mata uang Jepang beredar tanpa kendali di masyarakat, ditambah masuknya uang cadangan Sekutu senilai 2,3 miliar.

Situasi ini diperparah oleh kondisi Indonesia yang belum memiliki mata uang sendiri, sehingga pemerintah terpaksa memberlakukan tiga mata uang sekaligus secara bersamaan.

Kondisi makin memburuk saat Sekutu melanggar kesepakatan dengan mengedarkan uang NICA (Nederlandsch Indische Civiele Administratie) pada Maret 1946.

Akibat inflasi ini, para petani menjadi kelompok yang paling menderita, karena uang Jepang yang disimpan nilainya merosot drastis dan barang-barang menjadi sangat langka.

2. Blokade Belanda

Mulai November 1945, Belanda menutup pintu keluar-masuk perdagangan laut dan pelabuhan penting Indonesia guna mencegah masuknya senjata serta keluarnya hasil perkebunan asing. Blokade ini bertujuan menciptakan kekacauan ekonomi dan kerusuhan sosial agar rakyat tidak lagi percaya kepada pemerintah Indonesia.

Dampaknya adalah barang ekspor Indonesia terhambat bahkan dibumihanguskan, sementara Indonesia kekurangan barang impor. Hal ini membuat inflasi semakin tidak terkendali dan memicu kegelisahan di tengah masyarakat.

3. Kekosongan Kas Negara

Kas negara Indonesia mengalami kekosongan total pada awal kemerdekaan, karena pemerintah belum memiliki sumber pendapatan dari pajak maupun bea masuk. Di sisi lain, pengeluaran negara justru terus bertambah untuk membiayai kebutuhan negara yang baru berdiri.

Saat itu, penghasilan pemerintah hanya bergantung sepenuhnya pada hasil produksi di sektor pertanian. Berkat dukungan dari sektor pertanian inilah, pemerintahan Republik Indonesia masih mampu bertahan di tengah kondisi ekonomi yang sangat buruk.

Cara Pemerintah Menahan Inflasi pada Awal Kemerdekaan

Menurut laporan Tinjauan Historis Pengaruh Inflasi terhadap Ketahanan Nasional Tahun 1945-1950 oleh Suprianto, pemerintah Indonesia mulai mengupayakan penyelesaian masalah-masalah mendesak dalam bidang ekonomi pada Februari 1946. Hal ini berawal dari konferensi yang dipimpin oleh Menteri Kemakmuran saat itu, Darmawan Mangunkusumo.

Konferensi terserbut diadakan sebanyak dua kali. Setelah itu, pemerintah mulai menyusun kebijakan untuk menuntaskan persoalan ekonomi yang memburuk pascakemerdekaan, meliputi:

  • Membentuk Badan Perancang Ekonomi (Planning Board) pada 19 Januari 1947, yang bertugas membuat rencana pembangunan ekonomi untuk jangka waktu 2-3 tahun, lalu diperluas menjadi Rencana Pembangunan Sepuluh Tahun.

  • Rencana Menteri Urusan Bahan Makanan Kasimo (Plan Kasimo) terkait usaha swasembada pangan dalam jangka waktu tiga tahun, yaitu pada 1948-1950.

  • Membentuk Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang dipimpin Bung Hatta dengan tujuan memberi kemakmuran yang adil dan merata kepada rakyat.

  • Mendirikan Persatuan Tenaga Ekonomi (PTE) untuk menggalang kekuatan dan menghilangkan individualisme di kalangan organisasi pedagang.

  • Kebijakan Gunting Syafrudin melalui pengurangan jumlah mata uang yang beredar dan mengatasi kenaikan biaya hidup.

  • Kebijakan Program Benteng yang mengutamakan sektor perdagangan.

Itulah penjelasan mengenai mengapa ekonomi Indonesia pada awal kemerdekaan sangat lemah.

Dengan memahami ini, diharapkan generasi muda dapat lebih menghargai rekam jejak perjuangan bangsa dan menjadikannya sebagai inspirasi dalam memperkuat stabilitas ekonomi nasional di masa kini.

Baca Juga: Penyebab Buruknya Ekonomi Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan

(MDP)