Skandal Penipuan Terbesar di Silicon Valley yang Jerat Eks Miliarder Termuda

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekan ini, sidang kasus penipuan Theranos dibuka demi menemukan titik terang. Mantan CEO Theranos, Elizabeth Holmes, diadili atas 12 dakwaan penipuan. Ia terancam 20 tahun penjara jika terbukti salah di persidangan.
Perempuan berusia 37 tahun ini merupakan sosok ternama dengan banyak julukan yang disandarkan padanya. Majalah Forbes menyebutnya "Perempuan Miliarder Termuda di Dunia". Sementara majalah bisnis lain menjulukinya "The Next Steve Jobs".
Ia seorang penemu sekaligus pebisnis ulung saat usianya masih 30 tahun. Tepatnya, di tahun 2014 ia membangun perusahaan dengan misi revolusi diagnosis penyakit. Theranos, nama alat yang diproduksi digadang-gadang dapat mendeteksi kondisi kesehatan mulai dari kanker hingga diabetes tanpa menggunakan jarum suntik.
Penemuannya dalam dunia kesehatan begitu populer sehingga perusahaan tersebut bernilai USD 9 miliar setara dengan Rp 128 triliun. Bahkan, Theranos mampu masuk ke jajaran perusahaan tinggi di Silicon Valley. Theranos juga membawa nama tokoh terkenal di Amerika Serikat seperti Henry Kissinger hingga Rupert Murdoch sebagai investor.
Ide cemerlang yang diusung Elizabeth menarik banyak perhatian investor ternama. Berkat relasi orangtuanya yang merupakan birokrat di pemerintahan AS, banyak tokoh yang berinvestasi tanpa melihat catatan finansial Theranos.
Konglomerat yang berpengaruh di AS juga ikut berinvestasi misalnya Menteri Keuangan AS saat itu George Schultz. Kemudian Jenderal Angkatan Darat, James Mattis, dan keluarga terkaya di Amerika, Waltons dan lainnya.
Sayangnya, dalam waktu satu tahun, pada tahun 2015 aroma busuk dari Theranos tercium. Kebohongan satu per satu mulai mencuat ke permukaan. Elizabeth kini dijuluki penipu ulung. Di tahun 2018, Theranos resmi karam setelah banyak dikenai tuduhan.
Laporan Wall Street Journal, menyebutkan bahwa teknologi Theranos jauh dari kata akurat dan ditemukan banyak kekurangan. Hal ini terbukti pada diagnosa pasien yang salah terkait kondisi dari HIV, kanker, hingga kehamilan.
Kini setelah beberapa tahun, tepat pada 9 September, proses pengadilan Elizabeth Holmes kembali dibuka. Ia didakwa bersama Balwani, partner bisnisnya kala itu, atas dakwaan penipuan transaksi elektronik dan persekongkolan penipuan.
Menurut jaksa, keduanya dengan sadar mengecoh pasien terkait "Edison Tes" lewat Theranos. Mereka juga berlebihan dalam menyebutkan kinerja perusahaan di depan investor.
Di persidangan pekan ini, para tokoh yang turut andil sebagai investor dan pendukung Theranos akan hadir sebagai saksi. Kasus ini disebut sebagai skandal penipuan terbesar sepanjang sejarah Silicon Valley.
