Suku Bunga The Fed Naik, Ini Rincian dan Dampaknya bagi Indonesia

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suku bunga The Fed (The Federal Reserve) resmi naik mulai Kamis, 17 September 2026. Peningkatan ini terjadi untuk pertama kalinya sejak Juli 2023, sebagai tanggapan atas melambungnya level inflasi yang diakibatkan oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Iran.
Kebijakan ini diambil dengan suara bulat oleh Federal Open Market Committee (FOMC) atau Komite Pasar Terbuka Federal. Akibatnya, The Fed pun lebih lanjut menetapkan sejumlah keputusan krusial untuk menerapkan kebijakan moneter baru.
Kenaikan Suku Bunga The Fed
Melansir laman The Fed, FOMC memutuskan dengan 12 suara untuk menaikkan suku bunga dana federal sebesar 0,25 persen. Hal tersebut menentukan tingkat suku bunga acuan di kisaran 3,75 sampai 4 persen.
Langkah penyesuaian suku bunga diambil di tengah kondisi ekonomi yang dinilai terus tumbuh pada laju yang cukup solid. Walau ketidakpastian global dan dinamika geopolitik masih membayangi, tingkat pengeluaran domestik diklaim memiliki ketahanan yang baik.
Di sisi lain, indikator pertumbuhan produktivitas dan investasi modal Amerika Serikat (AS) juga dinilai berada pada tren yang terbilang kuat. Penyerapan tenaga kerja baru tercatat berjalan seimbang dengan pertumbuhan angkatan kerja, sehingga angka pengangguran relatif stabil.
Meski demikian, tekanan inflasi hingga kini dipandang masih berada pada level yang cukup tinggi. Melalui penetapan kebijakan baru ini, FOMC berharap dapat mempercepat pencapaian target inflasi jangka panjang sebesar 2 persen dan menjaga stabilitas harga.
Kebijakan Moneter AS Setelah Kenaikan Suku Bunga The Fed
Bersamaan dengan kenaikan suku bunga, Board of Governors of the Federal Reserve System atau Dewan Gubernur Sistem Bank Sentral AS dan FOMC menetapkan serangkaian penyesuaian teknis moneter. Salah satunya peningkatan imbal hasil atas saldo cadangan bank menjadi 3,9 persen.
Selain itu, instrumen pasar terbuka, seperti transaksi pembelian kembali (overnight repurchase agreement) dan perjanjian pembelian kembali terbalik (reverse repurchase agreement) berada pada kisaran imbalan 3,75 hingga 4 persen.
Guna menjaga cadangan likuiditas, Bank Sentral AS juga akan mengelola surat utang negara dengan sisa jatuh tempo jangka pendek. Dana pokok dari sekuritas yang jatuh tempo bakal dialokasikan kembali ke instrumen Treasury untuk memperkuat kestabilan pasar.
Di samping itu, penyesuaian biaya pinjaman juga diberlakukan melalui kenaikan suku bunga kredit sebesar 0,25 poin persentase menjadi 4 persen. Keputusan ini diambil atas usulan dari bank-bank sentral regional guna menyesuaikan iklim pinjaman di seluruh wilayah.
“Dewan menyetujui permintaan untuk menetapkan suku bunga tersebut yang diajukan oleh Dewan Direksi Bank Federal Reserve Cleveland, Richmond, Atlanta, Chicago, Minneapolis, Kansas City, dan Dallas,” kata Dewan Gubernur Sistem Bank Sentral AS dalam keterangannya, Rabu, 16 September 2026.
Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed bagi Indonesia
Ekonom dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan, menjelaskan bahwa peningkatan suku bunga acuan The Fed berpotensi memperbesar aliran modal dolar AS yang keluar dari tanah air.
Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan yang cukup signifikan terhadap nilai tukar rupiah. Menurutnya, tertekannya nilai tukar berpotensi memicu Bank Indonesia (BI) mengambil langkah penyesuaian suku bunga acuan.
“Bagi bank, potensi suku bunga akan naik, biaya dana naik, dan bunga kredit akan terdorong naik, yang dapat meningkatkan risiko kredit,” kata Trioksa, Kamis, 17 September 2026, seperti dikutip dari kumparanBISNIS.
Soal peluang penyesuaian suku bunga acuan domestik, dia memperkirakan BI akan terlebih dahulu mencermati tingkat pelemahan nilai tukar rupiah.
Langkah penetapan arah kebijakan yang diambil oleh bank sentral Indonesia kedepannya akan amat ditentukan oleh seberapa kuat pengaruh dari tekanan luar negeri tersebut.
1. Bergantung pada Kebijakan Bank Indonesia
Di tempat terpisah, pakar ekonomi dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai peningkatan suku bunga The Fed tidak secara otomatis menuntut pihak BI untuk mengambil tindakan serupa.
Menurut dia, penyesuaian antisipatif yang telah dilakukan sebelumnya memberi ruang bagi BI untuk menahan suku bunga dan mengoptimalkan instrumen penstabil lainnya.
Ia menjelaskan pergerakan mata uang rupiah sebetulnya cenderung stabil, mengingat pihak pasar sudah memprediksi penetapan tersebut lebih awal.
Meskipun begitu, penguatan mata uang dolar AS tetap berpotensi melambungkan biaya impor bahan pangan, barang modal, hingga energi.
2. Imbas terhadap Sektor Riil dan Perbankan
Selanjutnya, Yusuf melihat dampak terhadap rumah tangga akan bergantung pada respons perbankan dalam menyesuaikan suku bunga kredit maupun simpanan.
Jika perbankan menaikkan bunga kredit, maka beban cicilan pinjaman masyarakat dipastikan meningkat.
Baca Juga: Apakah Harga Emas akan Turun Terus? Cek Prediksinya
(MDP)
