Konten dari Pengguna

Value Chain: Pengertian, Komponen, Cara Analisis, dan Manfaatnya

Berita Bisnis

Berita Bisnis

Berita dan Informasi Praktis soal Ekonomi Bisnis

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Bisnis tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi menganlisis value chain. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menganlisis value chain. Foto: Unsplash

Value chain adalah konsep yang menggambarkan serangkaian aktivitas bisnis dalam suatu perusahaan, mulai dari menciptakan produk hingga sampai di tangan pelanggan. Fokus utamanya adalah menciptakan efisiensi dalam setiap proses, sehingga produk akhir lebih kompetitif di pasar.

Selain itu, rantai nilai ini juga bisa membantu pelaku usaha memahami proses bisnis secara menyeluruh untuk menemukan aktivitas perusahaan yang bisa dioptimalkan.

Komponen Value Chain

Ilustrasi menganlisis value chain. Foto: Unsplash

Dikutip dari Investopedia, value chain dapat mengidentifikasi setiap langkah dalam proses bisnis, sehingga bisa diketahui bagian mana yang kurang dan harus diberi nilai tambah.

Untuk dapat mempraktikannya, ada dua aktivitas utama yang terdiri dari beberapa komponen dalam value chain, di antaranya sebagai berikut:

1. Primary Activities (Aktivitas Utama)

Aktivitas utama terdiri dari lima komponen yang semuanya penting untuk menambah nilai dan menciptakan keunggulan kompetitif, yaitu:

  • Inbound Logistics: Penerimaan, penyimpanan, dan distribusi bahan baku.

  • Operations: Proses produksi untuk mengubah bahan baku menjadi produk jadi.

  • Outbound Logistics: Distribusi produk jadi ke konsumen.

  • Marketing and Sales: Aktivitas promosi untuk menarik pelanggan.

  • Services: Dukungan setelah penjualan, seperti garansi atau layanan pelanggan.

2. Support Activities (Aktivitas Pendukung)

Aktivitas pendukung membantu membuat aktivitas utama lebih efisien. Ketika ingin meningkatkan efisiensi salah satu dari empat aktivitas pendukung, setidaknya satu dari lima aktivitas utama akan diuntungkan.

Aktivitas pendukung ini secara umum dilambangkan sebagai biaya overhead pada laporan laba rugi perusahaan. Komponen pada aktivitas pendukung ini, di antaranya:

  • Procurement: Pengadaan bahan baku atau alat produksi.

  • Technology Development: Pengembangan teknologi untuk meningkatkan efisiensi.

  • Human Resource Management: Pengelolaan karyawan.

  • Firm Infrastructure: Sistem manajemen, keuangan, dan perencanaan.

Baca Juga: Omnichannel: Pengertian, Contoh, dan Manfaatnya bagi Bisnis

Cara Menganalisis Value Chain

Ilustrasi menganlisis value chain. Foto: Unsplash

Dengan memahami dan mengoptimalkan setiap aktivitas dalam rantai nilai, perusahaan dapat meraih keberhasilan jangka panjang di pasar global.

Berdasarkan informasi dari Harvard Business School, berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan pelaku usaha untuk menganalisis value chain perusahaan:

  1. Mengidentifikasi aktivitas rantai nilai primer dan sekunder

  2. Menentukan nilai dan biaya dari aktivitas tersebut

  3. Mengidentifikasi peluang keunggulan kompetitif

Manfaat Value Chain

Ilustrasi menganlisis value chain. Foto: Unsplash

Menurut Michael E. Porter dalam bukunya yang berjudul Competitive Advantage: Creating and Sustaining Superior Performance, manfaat dari menerapkan value chain adalah memberi nilai terbaik dengan biaya paling rendah guna menciptakan keunggulan kompetitif.

Value chain bisa menjadi alat strategis yang membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, daya saing, dan nilai tambah produk. Jika dirincikan, berikut manfaat value chain bagi suatu perusahaan:

  • Membantu perusahaan menemukan bagian proses yang tidak efisien.

  • Menawarkan produk berkualitas dengan biaya lebih rendah.

  • Mendorong pengembangan produk atau layanan baru.

(NDA)