10 Kepribadian Muhammadiyah dan Latar Belakang yang Membentuknya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Nama organisasi ini diambil dari nama Nabi Muhammad SAW. Karenanya, Muhammadiyah dapat diartikan sebagai pengikut Nabi Muhammad SAW.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah bidang kader, Dahlan Rais dalam situs resmi Muhammadiyah menegaskan, Muhammadiyah adalah organisasi yang bertugas menyebarluaskan ajaran Islam dengan dakwah dan tajdid.
“Bahwa jati diri Muhammadiyah itu adalah dakwah dan tajdid. Kalau sekarang rumusannya berbunyi gerakan Islam dakwah amar ma`ruf nahi mungkar dan tajdid,” ucap Dahlan Rais.
Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 di Yogyakarta. Sebagai organisasi yang besar, Muhammadiyah memiliki kepribadian yang menjadi dasar prinsip dakwahnya. Apa sajakah kepribadian Muhammadiyah?
Kepribadian Muhammadiyah
Di bawah ini akan dijabarkan 10 kepribadian Muhammadiyah seperti dihimpun dari buku Muhammadiyah Gerakan Pembaruan oleh Haedar Nashir.
Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.
Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam.
Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara yang sah.
Amar ma'ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang baik.
Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai dengan ajaran Islam.
Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun Negara mencapai masyarakat adil dan Makmur yang diridlai Allah.
Bersifat adil serta korektif ke dalam dan ke luar dengan bijaksana.
Latar Belakang Terbentuknya Kepribadian Muhammadiyah
Meringkas buku Membaca Muhammadiyah terbitan Caremedia Communication, kepribadian Muhammadiyah merupakan hasil keputusan Muktamar ke-35 di Jakarta tahun 1962. Muktamar ini ditutup dengan pidato Presiden Soekarno bertajuk Makin Lama Makin Cinta.
Konsep awalnya berasal dari ceramah KH. Faqih Usman pada masa kepemimpinan PP Muhammadiyah periode 1959-1962 di bawah Ketua H.M. Yunus Anis. Ceramah berjudul Apa sih Muhammadiyah itu? kemudian ditindak-lanjuti oleh tim perumus, untuk selanjutnya dibahas di Tanwir dan akhirnya dibawa serta diputuskan di Muktamar ke-35.
Secara substansi atau isinya, sifat-sifat Muhammadiyah sebagaimana terkandung dalam kepribadian Muhammadiyah itu sudah melekat dalam organisasi ini sejak didirikan oleh Kyai Dahlan. KH. Faqih Usman hanya meng-idhar-kan atau mengangkatnya menjadi lebih jelas dalam rumusan verbal sebagaimana tercantum dalam 10 kepribadian Muhammadiyah tersebut.
Faktor utama yang mewarnai lahirnya kepribadian Muhammadiyah adalah masuknya pemikiran dan cara-cara politik dalam mengelola atau menggerakkan Muhammadiyah setelah Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) dibubarkan.
Cara-cara politik tersebut akhirnya dianggap tidak cocok dengan Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang berkiprah dalam kemasyarakatan.
Agar cara-cara politik itu tidak merusak nada dan irama gerak Muhammadiyah, diperlukan bingkai yang menuntun dan menjadi acuan anggota untuk menggerakkan organisasi tersebut. Hingga akhirnya, dirumuskanlah 10 kepribadian Muhammadiyah tersebut.
Kepribadian Muhammadiyah menjadi penegas tentang jati diri Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang menempuh cara dakwah Islam al-amr bi al-ma'ruf ma al-nahy 'an al-munkar, yaitu tidak menempuh cara dan jalan politik.
(NDA)
