10 Kota Terkaya di Indonesia, Apa Saja?

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Indonesia merupakan salah satu negara dengan ekonomi terbesar di Asia tenggara. Adapun beberapa kota terkaya di Indonesia memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Beberapa kota ini dinilai memiliki kekayaan terbesar berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). PDRB adalah satu metrik yang digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu wilayah.
PDRB per kapita mencerminkan nilai tambah bruto yang dihasilkan dari berbagai sektor perekonomian di suatu daerah.
Lantas, apa saja kota terkaya di Indonesia? Simak jawabannya di bawah ini.
Daftar Kota Terkaya di Indonesia
Berdasarkan riset Badan Pusat Statistik tahun 2020, berikut 10 kota terkaya di Indonesia dengan PDRB tertinggi.
1. Kediri
Kediri, kota terkaya di Indonesia pada tahun 2020, memiliki PDRB per kapita yang luar biasa sebesar Rp 457,98 juta. Kota ini telah menjadi pusat ekonomi regional berkat lokasinya di Jawa Timur.
Kediri memiliki kekuatan ekonomi yang kuat dalam berbagai industri, seperti manufaktur, perdagangan, dan jasa.
Salah satu kontributor utama keberhasilan ekonomi Kediri adalah industri tekstil dan garmen yang berkembang pesat, sehingga sering disebut sebagai "Kota Garmen." Selain itu, sektor pertanian juga turut berperan penting dalam meningkatkan PDRB per kapita kota ini.
2. Bontang
Bontang, provinsi Kalimantan Timur, menempati peringkat kedua pada tahun 2020 dengan PDRB per kapita sekitar Rp 312,14 juta.
Bontang adalah kota industri dengan sektor utama seperti migas, gas bumi, petrokimia, dan energi.
Ini juga menjadi lokasi penting bagi banyak perusahaan besar yang terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam, terutama gas alam cair (LNG) yang diekspor ke pasar internasional.
Industri migas dan petrokimia membuat Bontang menjadi salah satu kontributor utama PDRB per kapita Indonesia.
3. Jakarta
Jakarta adalah pusat pemerintahan, bisnis, dan keuangan Indonesia, dengan PDRB per kapita sekitar Rp 260,44 juta pada tahun 2020. Jakarta adalah pusat ekonomi nasional dan salah satu kota terpadat di dunia.
Perdagangan, jasa keuangan, TI, dan pariwisata adalah beberapa industri yang berkembang pesat di Jakarta.
Selain itu, kota ini memiliki infrastruktur transportasi yang baik, seperti bandara dan pelabuhan internasional, yang mendorong pertumbuhan ekonomi.
4. Cilegon
Pada tahun 2020, Cilegon, yang menempati peringkat keempat, memiliki PDRB per kapita sekitar Rp 233,02 juta. Kota Cilegon terkenal dengan industri dan manufakturnya yang berkembang pesat, termasuk industri baja dan petrokimia.
Baja yang dibuat di sini digunakan dalam banyak proyek konstruksi besar di seluruh Indonesia, dan petrokimia menghasilkan berbagai produk kimia yang penting untuk berbagai industri.
Baca juga: 6 Kota Metropolitan di Indonesia Paling Terkenal
5. Surabaya
Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia, setelah Jakarta, dengan PDRB per kapita sekitar Rp 190,89 juta pada 2020. Surabaya adalah pusat perdagangan, industri, dan jasa di Jawa Timur.
Pelabuhan Surabaya Tanjung Perak adalah salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia yang memainkan peran penting dalam perdagangan domestik dan internasional.
6. Balikpapan
Dalam daftar ini, Balikpapan berada di posisi keenam dengan PDRB per kapita sekitar Rp 155,97 juta pada tahun 2020. Kota ini terkenal karena industri minyak dan gas buminya.
Balikpapan adalah kota yang menghasilkan pendapatan yang signifikan dari ekspor minyak dan gas bumi karena ada perusahaan besar di bidang minyak dan gas.
7. Tarakan
Dengan PDRB per kapita sekitar Rp 136 juta pada tahun 2020, Tarakan menempati peringkat ketujuh dalam daftar ini.
Kota ini memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan dan terkait erat dengan industri minyak dan gas. Kegiatan ekspor migas dan layanan pendukung adalah pilar ekonomi Tarakan.
8. Dumai
Di peringkat kedelapan, Dumai memiliki PDRB per kapita sekitar Rp 115,61 juta pada tahun 2020.
Kota ini memiliki banyak industri minyak dan berada di lokasi pelabuhan yang strategis. Salah satu cara minyak mentah Indonesia dikirim ke pasar internasional adalah melalui Dumai.
9. Makassar
Makassar, di posisi kesembilan, memiliki PDRB per kapita sekitar Rp 115,39 juta pada tahun 2020.
Makassar memiliki potensi ekonomi yang besar karena merupakan pusat perdagangan, industri, dan pertanian di Sulawesi Selatan. Pelabuhan Makassar juga memainkan peran penting dalam perdagangan internasional dan regional.
10. Palembang
Dengan PDRB per kapita sekitar Rp 107,12 juta pada tahun 2020, Palembang menempati peringkat kesepuluh.
Palembang adalah salah satu kota besar di Sumatera Selatan dengan sektor ekonomi yang berkembang pesat seperti perdagangan, industri, dan jasa.
Ini membuatnya menjadi salah satu kota yang memiliki kontribusi ekonomi yang signifikan secara regional dan nasional.
Apa Itu PDRB?
Seperti yang disebutkan sebelumnya, PDRB adalah satu metrik yang menentukan kemakmuran suatu wilayah dalam bidang ekonomi. Namun, apa itu PDRB?
Dikutip dari laman Badan Pusat Statistik, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah sebuah indikator ekonomi yang mengukur nilai tambah bruto dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah, baik kabupaten maupun kota di Indonesia.
Ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung PDRB, yakni pendekatan produksi, pendekatan pengeluaran, dan pendekatan pendapatan.
PDRB sering digunakan untuk membantu membuat kebijakan atau perencanaan di daerah, menilai hasil pembangunan, dan memberikan data yang dapat menunjukkan kinerja perekonomian daerah.
Baca juga: Pengertian Pendapatan Nasional dan Jenis-jenisnya
Fungsi Perhitungan PDRB
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah salah satu indikator ekonomi yang penting dan digunakan secara luas untuk mengukur dan menganalisis kinerja ekonomi suatu daerah.
Secara umum, berikut fungsi PDRB:
1. Mengukur Pertumbuhan Ekonomi Daerah
PDRB dapat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi di suatu daerah dari waktu ke waktu, yang dapat membantu pemerintah merencanakan kebijakan ekonomi yang tepat yang akan membantu pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.
2. Mengetahui Kemampuan Sumber Daya Ekonomi
PDRB dapat digunakan untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi suatu daerah, seperti sektor-sektor yang paling produktif dan berpotensi untuk dikembangkan.
Informasi ini dapat membantu pemerintah dalam merencanakan kebijakan ekonomi yang tepat dengan mengoptimalkan struktur ekonomi.
3. Mengidentifikasi Pergeseran dan Struktur Ekonomi
PDRB dapat digunakan untuk mengidentifikasi pergeseran dan struktur ekonomi suatu wilayah dari waktu ke waktu. Ini dapat membantu pemerintah membuat kebijakan ekonomi yang tepat untuk mengoptimalkan struktur ekonomi lokal.
4. Mengetahui Perubahan Harga
Kita juga dapat menghitung deflator PDRB, atau perubahan indeks implisit, untuk mengetahui perubahan harga.
Indeks harga implisit adalah rasio antara PDRB menurut harga berlaku dan PDRB menurut harga konstan.
Pemerintah dapat menggunakan perhitungan ini untuk membuat kebijakan ekonomi yang tepat tentang inflasi dan stabilitas harga.
5. Evaluasi Hasil Pembangunan
PDRB dapat digunakan untuk mengevaluasi hasil pembangunan di suatu wilayah, seperti kesejahteraan masyarakat dan tingkat kemakmuran.
6. Memberi Informas terkait Kinerja Perekonomian Daerah
PDRB dapat memberikan informasi yang dapat menggambarkan kinerja perekonomian daerah, seperti tingkat pertumbuhan ekonomi, sektor-sektor yang paling produktif, dan tingkat kemakmuran masyarakat.
Oleh karena itu, PDRB memiliki peran penting dalam membantu pemerintah merencanakan kebijakan ekonomi yang tepat yang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.
Baca Juga: Pengertian dan Cara Menghitung Gross Profit dengan Benar
Cara Menghirtung PDRB
Berikut adalah tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk menghitung Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara konseptual
1. Pendekatan Produksi
Pendekatan ini menghitung PDRB dengan menjumlahkan nilai tambah bruto dari seluruh sektor perekonomian di suatu daerah.
Nilai tambah bruto dihitung dengan mengurangi nilai produksi dengan nilai input (misalnya bahan baku dan jasa produksi).
Pendekatan ini juga dapat dilakukan dengan menghitung total pengeluaran untuk produksi barang dan jasa di suatu daerah. Rumusnya adalah:
Y = NTB1 + NTB2 +..........
Keterangan:
Y: Pendapatan
NTB: Nilai tambah dari setiap sektor ekonomi
2. Pendekatan Pendapatan
Pendekatan ini menghitung PDRB dengan menjumlahkan seluruh pendapatan faktor produksi (upah, bunga, sewa, dan keuntungan) yang dihasilkan oleh seluruh sektor perekonomian di suatu daerah.
Selain itu, pendekatan ini juga dapat dilakukan dengan menghitung total pengeluaran untuk pembelian faktor produksi di suatu daerah.
Adapun rumus dari pendekatan ini ialah:
Y = r + w + i + p
Keterangan:
r: Sewa
w: Upah
i: Investasi
p: Profit
3. Pendekatan Pengeluaran
Pendekatan ini dilakukandengan menghitung PDRB dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa di suatu daerah.
Pengeluaran ini dapat berasal dari konsumsi rumah tangga, investasi, dan pengeluaran pemerintah.
Berikut rumus perhitungan PDRB dengan pendekatan pengeluaran:
Y = C + G + I (X-M)
Keterangan:
Y: Pendapatan nasional
C: Konsumsi rumah tangga
I: Investasi
G = Pengeluaran pemerintah
X = Ekspor
M = Impor
Dalam praktiknya, PDRB dihitung dengan menggunakan data statistik yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahunnya. Data tersebut kemudian diolah menggunakan salah satu pendekatan di atas untuk menghasilkan nilai PDRB suatu daerah.
(SAI)
