10 Kumpulan Puisi Chairil Anwar dengan Berbagai Tema

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Chairil Anwar dikenal sebagai sastrawan yang berpengaruh dalam perkembangan puisi modern di Indonesia. Ia melahirkan banyak karya sastra mulai dari puisi hingga prosa. Penyair kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini termasuk pelopor Angkatan ’45 yang menghadirkan corak baru dalam dunia sastra.
Gaya penulisan yang dibawanya terasa bebas dan berani. Diksi yang dipilih pun tajam dan memiliki makna mendalam. Ciri khas ini jarang ditemui di sastrawan angkatan '45 lainnya.
Setiap puisi Chairil Anwar ditulis dengan kata-kata yang pas, sehingga mampu menghadirkan pesan yang kuat. Artikel berikut akan menyajikan kumpulan puisi Chairil Anwar yang populer hingga kini. Simak selengkapnya!
Kumpulan Puisi Chairil Anwar
Berdasarkan buku Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942–1949) terbitan Gramedia Pustaka Utama, berikut beberapa puisi Chairil Anwar yang dikenal luas oleh pembaca sastra.
1. Nisan (Oktober 1942)
Untuk nenekanda
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta.
2. Penghidupan (Desember 1942)
Lautan maha dalam
Mukul dentur selama
Nguji tenaga pematang kita
Mukul dentur selama
Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahgia
Kecil setumpuk
Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.
3.Tak Sepadan (Februari 1943)
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa apa
Aku terpanggang tinggal rangka.
4. Aku (Maret 1943)
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
5. Rumahku (April 1943)
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Di pagi terbang entah ke mana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu.
6. Jangan Kita di Sini Berhenti (Juli 1943)
Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
Pelayannya kita dilayani gadis-gadis
O, bibir merah, selokan mati pertama
O, hidup, kau masih ketawa??
7. Dalam Kereta (Maret 1944)
Dalam kereta.
Hujan menebal jendela.
Semarang, Solo..., makin dekat saja
Menangkup senja.
Menguak purnama.
Caya menyayat mulut dan mata
Menjengking kereta. Menjengking jiawa.
Sayatan terus ke dada.
8. Sudah Dulu Lagi (1948)
Sudah dulu lagi terjadi begini
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil
Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini
Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi
Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang
penghabisan
Yang akan terima pusaka: kedamaian antara
runtuhan menara
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil
9. Dengan Mirat (Januari 1946)
Kamar ini jadi sarang penghabisan
Di malam yang hilang batas
Aku dan dia hanya menjengkau
Rakit hitam.
'Kan terdamparkah
Atau terserah
Pada putaran pitam?
Matamu ungu membatu
Masih berdekapankah kami atau
Mengikut juga bayangan itu?
10. Malam di Pegunungan (1947)
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan?
Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
Baca Juga: 3 Khutbah Jumat Bulan Syaban dengan Materi Menyambut Ramadhan
(SA)
