Konten dari Pengguna

10 Kumpulan Puisi Chairil Anwar dengan Berbagai Tema

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustras kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustras kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: Unsplash

Chairil Anwar dikenal sebagai sastrawan yang berpengaruh dalam perkembangan puisi modern di Indonesia. Ia melahirkan banyak karya sastra mulai dari puisi hingga prosa. Penyair kelahiran Medan, 26 Juli 1922 ini termasuk pelopor Angkatan ’45 yang menghadirkan corak baru dalam dunia sastra.

Gaya penulisan yang dibawanya terasa bebas dan berani. Diksi yang dipilih pun tajam dan memiliki makna mendalam. Ciri khas ini jarang ditemui di sastrawan angkatan '45 lainnya.

Setiap puisi Chairil Anwar ditulis dengan kata-kata yang pas, sehingga mampu menghadirkan pesan yang kuat. Artikel berikut akan menyajikan kumpulan puisi Chairil Anwar yang populer hingga kini. Simak selengkapnya!

Kumpulan Puisi Chairil Anwar

Ilustras kumpulan puisi Chairil Anwar. Foto: Unsplash

Berdasarkan buku Chairil Anwar: Aku Ini Binatang Jalang (Koleksi Sajak 1942–1949) terbitan Gramedia Pustaka Utama, berikut beberapa puisi Chairil Anwar yang dikenal luas oleh pembaca sastra.

1. Nisan (Oktober 1942)

Untuk nenekanda

Bukan kematian benar menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

dan duka maha tuan bertakhta.

2. Penghidupan (Desember 1942)

Lautan maha dalam

Mukul dentur selama

Nguji tenaga pematang kita

Mukul dentur selama

Hingga hancur remuk redam Kurnia Bahgia

Kecil setumpuk

Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk.

3.Tak Sepadan (Februari 1943)

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak 'kan apa apa

Aku terpanggang tinggal rangka.

4. Aku (Maret 1943)

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang 'kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

5. Rumahku (April 1943)

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Kaca jernih dari luar segala nampak

Kulari dari gedong lebar halaman

Aku tersesat tak dapat jalan

Kemah kudirikan ketika senjakala

Di pagi terbang entah ke mana

Rumahku dari unggun-timbun sajak

Di sini aku berbini dan beranak

Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang

Aku tidak lagi meraih petang

Biar berleleran kata manis madu

Jika menagih yang satu.

6. Jangan Kita di Sini Berhenti (Juli 1943)

Jangan kita di sini berhenti

Tuaknya tua, sedikit pula

Sedang kita mau berkendi-kendi

Terus, terus dulu...!!

Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris

Pelayannya kita dilayani gadis-gadis

O, bibir merah, selokan mati pertama

O, hidup, kau masih ketawa??

7. Dalam Kereta (Maret 1944)

Dalam kereta.

Hujan menebal jendela.

Semarang, Solo..., makin dekat saja

Menangkup senja.

Menguak purnama.

Caya menyayat mulut dan mata

Menjengking kereta. Menjengking jiawa.

Sayatan terus ke dada.

8. Sudah Dulu Lagi (1948)

Sudah dulu lagi terjadi begini

Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil

Jangan tanya mengapa jari cari tempat di sini

Aku tidak tahu tanggal serta alasan lagi

Dan jangan tanya siapa akan menyiapkan liang

penghabisan

Yang akan terima pusaka: kedamaian antara

runtuhan menara

Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi

Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil

9. Dengan Mirat (Januari 1946)

Kamar ini jadi sarang penghabisan

Di malam yang hilang batas

Aku dan dia hanya menjengkau

Rakit hitam.

'Kan terdamparkah

Atau terserah

Pada putaran pitam?

Matamu ungu membatu

Masih berdekapankah kami atau

Mengikut juga bayangan itu?

10. Malam di Pegunungan (1947)

Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,

Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan?

Sekali ini aku terlalu sangat dapat jawab kepingin:

Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!

Baca Juga: 3 Khutbah Jumat Bulan Syaban dengan Materi Menyambut Ramadhan

(SA)